Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Masa Indah Yang Telah Hilang


taken from: http://storyblogthisweb.blogspot.co.id
By :
Nur Sholikhah




           Tiba-tiba saja rasa itu datang, menerkam sepi yang sedari tadi menghinggapi. Aku duduk di ruang tamu sambil memandang apa saja yang terlihat di luar jendela rumah. Jalanan sepi, panas yang meninggi, dan angin yang berlalu lalang tanpa permisi. Suasana ini kurasa sangatlah berbeda sejak beberapa tahun terakhir. Anak-anak yang berlari mengejar layang-layang, mengayuh sepeda kesana kemari, berteriak memanggil kawan yang lain, kini sudah jarang kutemui. Entah apakah aku yang sangat jarang pulang ke kampung ini, atau memang semua sudah berubah tanpa kusadari.

            Kuingat dulu, saat usiaku masih anak-anak. Aku punya teman banyak, yang setiap hari bermain bersama di bawah teriknya sinar sang mentari. Bermain gobak sodor, pantek, pasaran, petak umpet,  dan masih banyak macamnya lagi. Tanah-tanah terbentang luas hingga dapat dijadikan lapangan buat kami, minimnya kendaraan bermotor membuat kami bebas bermain di jalan depan sawah, ah semua kini telah tiada, dan rindu itu semakin mendurja.

            Kini kudapati anak-anak di kampung ini berdiam diri, bersama kawan yang sudah orangtua belikan. Kawan yang menjeratnya tanpa ampun, membuatnya candu hingga lupa pada perintah-perintah Tuhan. Kau tahu siapa yang mengumandangkan alunan adzan itu?  Itu adalah suara yang sama, terseok-seok, pelan dan terkadang serak. Mereka kebanyakan adalah kaum sepuh. Padahal dulu anak-anak berebut untuk melantunkannya, bahkan secara bergantian memegang mikrofon saat pujian-pujian kepada Tuhan dilantunkan. Tapi kini, kemana mereka pergi? Sudah jarang ku dapati lagi suara adzan yang lucu itu.

            Surau di kampung ini masih berdiri kokoh, bahkan setiap tahunnya sebelum bulan suci ramadhan selalu diadakan kerja bakti membersihkan musholla. Karpet-karpet dicuci, tembok-tembok dicat, tumpukan al-qur’an dibersihkan, debu-debu diusir. Tapi surau itu tetap sepi, hanya segelintir orang yang mau datang dan menyerahkan diri sebagai hamba yang lemah. Kemana para penduduk kampung ini? Atau mereka telah memiliki surau di rumahnya sendiri-sendiri? 

            Dan anak-anak, mereka lebih memilih diam di depan kawannya yang selalu setia menemaninya. Orangtua tak lagi peduli, yang penting dia tidak berulah dan menimbulkan suasana gaduh di rumah. Namun justru itulah malapetaka, generasi bangsa dibiarkan kecanduan benda-benda yang mirip narkoba. Sejak kecil, sejak tangannya sudah bisa menyentuh benda-benda mungil.

            Saat adzan maghrib dikumandangkan, anak-anak tetap saja berdiam diri di dalam rumah. Khusyuk menghadap benda ciptaan manusia, sungguh miris bukan? Mereka seharusnya digiring menuju rumah Allah, menanggapi panggilan yang merdu itu atau mengikuti lantunan pujian-pujian berbahasa jawa agar kelak dapat mewarisinya. Surau menjadi ramai, syiar agama dapat terasa. Dan penduduk kampung akan semakin sejahtera jiwanya.

            Namun ironi, suasana yang dulu kudapati mulai terkikis seiring berjalannya waktu. Kerinduan terasa semakin menghujam, menapaki setiap kejadian yang terekam. Lihatlah anak yang masih kelas 5 SD itu, dia sudah jarang mengayuh sepeda kecilnya karna motor kesayangannya jauh lebih menarik. Lihatlah anak yang masih TK itu, mainannya bukan lagi bola, boneka, bunga, atau tetek bengek lainnya, melainkan benda yang sungguh tak dapat berbicara. Aku hanya mampu mengusap dada dan menggeleng-nggelengkan kepala. Berharap kelak Tuhan tidak marah pada saya.
 



Malang, 5 April 2018
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar