Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kisah bunga yang kejam


Oleh:
Nur Sholikhah




                Bunga, jika kau dengar kata ini apa yang kau kira? Apakah kau menerka bahwa ia adalah sesuatu yang indah, berwarna, mempesona? Jika memang iya, maka samalah pikiranmu denganku. Jika ku dengar orang menyebut bunga, aku membayangkan ia berwarna-warni, begitu elok dengan kupu-kupu dan para kumbang yang beterbangan di atasnya. Kuning, merah, ungu, oranye, jingga, putih, oh sering kali aku tergoda.  

                Dulu pada masa kecil, aku selalu memimpikan ada taman di depan rumah dengan segala macam bunga yang bertengger disana. Lalu di kala pagi, sinar mentari akan menyemburat menghangatkan kelopak dan mahkotanya. Dedaunan yang hijau menggoda terlihat masih basah diterpa embun pagi yang bersua. Ah betapa indahnya jika aku benar-benar memilikinya bukan?

                “Apa kau tidak tahu jika ada bunga-bunga yang kejam?” tanya seseorang pada suatu sore.

                Aku mengernyitkan dahi, berpikir mencari celah jawaban atas pertanyaan itu. Aku buka kembali memori-memori lama, masa kecilku dulu. Guruku tak pernah menceritakan tentang bunga yang kejam, aku pun belum pernah mendengar dongeng itu sekalipun. Mana ada bunga yang kejam? Bunga jelaslah pembawa kebahagiaan. Aromanya, bentuknya, dan segala keindahannya. Ataukah bunga yang dimaksud bunga yang kejam itu bunga yang telah layu? Ah tidak mungkin, bagaimana bisa ia dinilai kejam dengan keadaan yang seperti itu.

                “Aku belum mendengar kisah tentang itu, apakah kisah itu baru saja kau karang sejam yang lalu?” jawabku.

                “Baiklah jika kau memang tak tahu. Kan kuceritakan sedikit kisah tentang bunga yang kejam itu. ia memang mempesona, bahkan mungkin semua manusia menginginkannya. Ia terselip di antara kesempitan, menjerat siapa saja yang terdesak kebutuhan. Meski bunga itu telah dilarang, tapi ia tetap saja mekar. Menebar keharuman yang berujung pemerasan. Siapapun yang sudah mabuk dengan aromanya, ia akan merasa ketagihan bahkan bisa jadi hilang rasa perikemanusiaan. “ Kalimatnya terhenti begitu saja. 

                Aku masih tak mengerti, mata ini menatap langit yang mulai menampakkan warna jingganya. Apakah yang ia maksud bunga yang kejam itu adalah Ningsih? karna ia adalah bunga desa yang berkeliaran di malam hari mencari mangsa hingga pagi buta.
 



Malang, 26 April 2018
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar