Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Keluarga Pak Harto Dan Minyak Goreng


Picture from: kerjanya.net
Oleh:
Nur Sholikhah



               “ Mbak, sebentar lagi musim pemilu ya?,” tanya seorang ibu yang ku tahu namanya bu Harto. 

                “ Iya bu, dengar-dengar suami ibu mencalonkan sebagai kades ya?"

                “ Betul mbak, nanti jangan lupa pilih bapak ya!” ucapnya dengan senyum yang melebar. 

                Percakapan pagi di sebuah toko sayuran itu membuatku tersenyum geli. Bukan karena perkataan istri calon kades itu, tapi karna ada hal lain yang sedang terjadi di waktu yang bersamaan. Toko sayuran itu tidak hanya menjual berbagai macam sayuran dan tetek bengeknya, melainkan juga kebutuhan pokok perdapuran seperti beras, telur dan minyak goreng. Kalau bisa dibilang, toko ini lumayan lengkap.

                Aku melirik pada kebutuhan pokok yang kusebutkan tadi, si beras yang tergeletak di karung-karung, para telur yang terlentang di peti-peti kayu randu dan minyak goreng yang berbaris rapi di rak dekat pintu. Mereka bertiga sangat beruntung karena ikut dijual di toko ini. Setidaknya mereka punya kesempatan untuk memperebutkan suara keluarga para calon kades. Kusentuh mereka dengan lembut untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja. 

                Matahari mulai terasa terik di kepala, aku baru menyadari bahwa kerudung yang ku pakai begitu tipis hingga angin-angin lembut itu membelai rambutku. Aku berjalan pulang dengan menenteng sayuran di tangan, tak lupa kusapa setiap orang yang kukenal. Di sebuah pertigaan gang kecil, kulihat 3 orang lelaki yang sedang asyik memasang spanduk dengan foto dua orang yang tersenyum. Seorang bapak berkumis yang tampak gagah dan seorang lelaki yang ku tahu masih jomblo itu adalah pasangan calon kades dan wakades. 

                “ Bu Harto pasti sebentar lagi akan memborong minyak goreng,” gumamku dalam hati. Aku hanya berani berbisik pada diriku sendiri, bukan pada orang lain. Aku tahu mungkin sebagian dari kami, penduduk kampung ini, merasa senang saat pemilu akan tiba. Mereka akan mendapatkan rejeki yang terduga dari orang-orang yang mendadak dermawan. Uang, beras, kaos gratis yang bisa dipakai saat menggarap sawah, dan minyak goreng yang tiba-tiba berharga murah.

                “ Alhamdulillah nduk, ibu baru saja dapat uang dari pak Tono,” kata ibu pada suatu sore.

                “ Berapa bu?” 

                “ 20 ribu, lumayan bisa buat beli beras 2 kg. Bapakmu juga dapat kaos,” 

                Aku hanya mengangguk, tidak bisa menimpali perkataan ibu. Aku takut dibilang sok tahu dan sok suci kalau aku menolak semua itu. Sementara wajah ibu terlihat begitu senang, karna baginya uang sebanyak itu sudah mampu melegakan hatinya. Maklum saja, keluarga kami adalah keluarga yang pas-pasan. Bapak hanya kuli bangunan, penghasilannya tak seberapa. 

                Siang hari, ketika pulang sekolah aku meletakkan tas di kamar. Lalu beranjak pergi ke dapur mencari makanan. Saat itu lah aku melihat minyak goreng yang berdiri tegak menyapaku, tampangnya begitu riang. Aku sentuh kulitnya, lalu kutenteng minyak goreng itu menuju ruang tamu.

                “ Minyak goreng ini dari siapa bu?” 

                “ Oh itu, dari pak Harto nduk. Alhamdulillah kita dapat rezeki lagi hari ini.”

                Ya, sekarang penduduk sedang dilanda dilema. Mereka menerima semua pemberian yang tiba-tiba itu, pilih nomer 1 apa nomer 2. Uang telah lenyap, kaos sudah kotor terkena lumpur dan semen, dan minyak goreng itu, ah dia sudah jadi jelantah seketika. 
 





Malang, April 2018
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar