Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

NINGSIH / NADZOM KE SEBELAS

Subuh selalu mengingatkanku padanya. Memang menghidupkan waktu malam dengan sembahyang tak semudah di pesantren dulu. Bagaimana malam bisa menjadi benderang dalam syahdunya munajat di atas sajadah. Tertawa jika aku mengingat hari-hari pertama berada di penjara kebaikan itu.

"Masih ngantuuuuk" sayup-sayup kudengar dari kamar sebelah. Ah benar juga sesekali aku tidur sedikit lebih panjang tak apa bukan? Kupakai kembali selimut. Manusia bernama koordinator keamanan dan peribadatan itu keluar masuk sambil berkali mengetuk pintu, bahkan menggoyang-goyangkan bahuku. Masa bodoh! Batinku, kurang kerjaan nih orang.

Benar juga akhir pekannya aku sudah berdiri di halaman pondok mengenakan papan tergantung di leher yang bertulis "Santri Putri Mbangkong" Memalukan! Batinku. Satu hal yang membuatku tak tahan : hukuman disaksikan semua santri, putra dan putri!

Di tempat eksekusi itulah aku bertemu Ningsih. Bedanya denganku, minggu-minggu selanjutnya aku sudah taubat dan dia masih istiqomah mengenakan papan leher yang merusak dunia persilatan itu. Semenjak itu aku bertekad untuk membawanya ke jalan yang benar, seperti pahlawan-pahlawan di tv yang sering kulihat dulu.

Dari data yang aku kumpulkan, ternyata dia bukan santri baru sepertiku walau kita di SMP yang sama. Oh pantas saja kelakuannya bengal begitu pada pengurus. Ada beberapa hal yang kudapati pula
1. Bisa sholat tahajjud seminggu sekali dan hanya dua rakaat saja. Hari senin tepatnya. Mungkin karena itu dia bisa mengikuti Jamaah subuh plus ngaji setelahnya, seminggu sekali.
Ada sederet poin lain, kutulis hati-hati sambil bersembunyi di hutan bambu belakang pesantren. Ini misi rahasia jangan sampai ada yang tahu. Dari puluhan kebiasaan buruknya, termasuk ngopi, ada satu kebaikan, kawan. Memang tak ada manusia yang komplit. Nah dia kebetulan stok nakalnya banyak. Namun kuperhatikan ia selalu sholat di baris depan pojok kiri tempat keluar abah Yai, menatakan sandal abah sebelum beliau keluar. Satu komentarku, Caper sekali anak ini! Kau tau apa itu caper? Cari perhatian, kawan.

Tetiba.. "Lagi ngerjain tugas?" tanya seseorang dibelakangku. Aku menoleh dan terkejutnya diriku, bahwa dia adalah orang yang sedang kuselidiki tadi. Kepalaku refleks mengangguk sambil ku tutup rapat-rapat buku tulis di tangan.
"Bantu aku hafalan." pintanya. Dia membawa kitab kecil "Imrithi" kitab alatnya bahasa arab.
"Mulai mana?" Tanyaku.
"Nadzom ke sebelas" Hah! Baru juga hafal 10 nadzom, kemana saja kau saat ngaji.
Sore itu aku menemaninya sangat lama, di bawah ramainya para bambu yang barangkali rindu juga ingin mengaji. Ada yang mengejutkanku sore itu, menambah daftar keanehan pada diri manusia ini.

(Bersambung)

Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar