Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

NINGSIH / KOPI DAN MARIMAS


(1/30)
Cangkir itu tetiba mengajakku bercanda. Sampai-sampai seduhan hitam di dalamnya tak juga kunjung habis. Dia mengajakku berkelana ke masa lalu. Masa dimana aku masih sama sekali belum mengenalnya. Lalu gadis itu datang dengan senyuman indah tiada dua. Dengan suara khas yang membuatku selalu tergelak ketika ia berbisik. "Mak kopi pait dong satu."
Lalu kami sama-sama sembunyi di bilik mak Hamidah. Dia minum kopi, aku pilih Marimas rasa gonta ganti, sesuai dengan buah apa yang ingin kumakan. "Kenapa bersembunyi?" tanyaku entah kenapa suaraku melirih. "Sttttt!!! Nanti ketahuan Mbah Yai!" Aku manggut-manggut. Menyeruput es Marimas rasa kelapa muda yang entah kenapa ada rasa jeruknya. Dia menikmati cangkir hitamnya dan mulai saat itu akulah orang satu-satunya yang tahu, ada senyuman indah tiada dua di bilik sempit, berkawan kopi hitam panas yang katanya tanpa gula, tapi kenapa senyuman temanku semakin manis?
2/30
"Ningsih itu sering diajak ngopi sama kang-kang pondok putra." terngiang bisikan seorang kawan kepadaku. Aku diam saja, pura-pura tak kaget agar lambe turahnya tidak semakin merembet.
Tertawa Ningsih ketika kutanya perihal itu.
"Memang benar." jawabnya. Sontak marimas yang sedang kusedot muncrat. Dia semakin tertawa terpingkal. Bagaimana bisa seorang perempuan yang sedang berada di pesantren duduk bersama para santri putra, ngopi lagi. Ini sudah menyalahi peraturan. Menyesal aku telah berbaik sangka padanya selama ini.
"Kok bisa sih Ning, mana boleh kayak gitu!" gerutuku. Ia tertawa saja tidak mencoba menjawab atau membela, malah sekonyong-konyong keluar merogoh sakunya dan melunasi minuman kami kala itu.
"Ayok balik Rum, belom mandi gitu!" panggilnya. Segera kuseruput habis isi gelasku. Aku berlari ditemani senyum dari mak Hamidah.
Sorenya kudapati Ningsih sedang sempoyongan menimba air. Membawanya ke bak mandi karena memang minggu-minggu ini sumber saluran air  sedang kekeringan. Terbengong-bengong aku dibuatnya. Ia tidak segera masuk, disilahkannya gadis kurus berkerudung abu-abu untuk mandi terlebih dahulu. Sempat kudengar tolakan dari gadis itu, tapi tak lama. Si gadis segera masuk dan Ningsih melangkah padaku.
"Dia kan yang ngomong ke aku tentang..." belum sempat sempurna kalimatku ia segera menjejaliku dengan sikat gigi yang tadi kubawa.
"Udah... Nggak usah dibahas." Ia melanjutkan
"Kita baikin orang, ntar penduduk langit bakal baikin kita." katanya. Ia lalu menyisir rambutku,  dikiranya ada kutu. Tapi tunggu, aku tidak bisa beranjak dari kalimat terakhirnya tadi. Semacam ada yang pernah mengatakannya padaku sebelumnya.
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar