Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Jimat Dalam Genggaman Tangan

Picture by smartbisnis.co.id

Oleh:
Nur Sholikhah




Di suatu jalan yang tampak lengang karena kendaraan-kendaraan berubah menjadi ilusi kelam, aku melihat semua orang terdiam, berjalan pelan tanpa menatap ke depan. Kedua tangannya memegang erat benda ciptaan manusia melalui ilmu dari Tuhan. Mereka tak peduli meski rasa kram mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Gemetar, kaki dan tubuhnya mulai memberontak pada tangan, namun mereka tetap memegangnya, bahkan semakin erat. Apakah manusia telah berubah menjadi budak benda buatannya? Apakah itu yang dinamakan senjata makan tuan?

Pikiran ini mulai menerka apa yang sedang dan telah terjadi, mengapa semua orang tiba-tiba tak bisa saling berkomunikasi lewat suara? Mengapa tak ada yang saling sapa atau hanya sekedar bertatap muka? Dan ternyata aku baru menyadari bahwa mereka terkena efek radiasi, mata menjadi buta, telinga tiba-tiba tuli, mulut tak lagi punya kuasa tuk bicara. Hanya tarian jemari yang menjadi senjatanya. 

Lalu mengapa mereka tak mencoba mengobati? Semua sudah terlanjur terjadi, radiasi yang kuat telah membuatnya semakin gila dan menghilangkan sifat wajar untuk menjadi makhluk sosial sejati. Pengobatan tak lagi dicari karena mereka sudah tuli. Tak mau mendengar nasihat dari dalam hatinya sendiri. Miris, melihat semuanya tak bisa lagi menangis. Mereka meringis di bawah naungan gawai romantis, hidup di dunia maya memang lebih indah ketimbang di dunia nyata yang penuh luka. Mereka telah amnesia pada siapapun yang ada di sekelilingnya. Nama hanyalah tinggal nama, tak pernah disebut, tak pernah di puja.

Mereka memang bodoh atau hanya pura-pura, tidak tahu-menahu tentang informasi yang terkandung di dalamnya. Begitu mudahnya orang menggoreng fakta, tanpa membaca dan menganalisa. Para pemfitnah juga sedemikian rupa, akal tak lagi jadi kebanggaannya. Tanpa menunggu aba-aba ia menelannya mentah-mentah. Hingga beginilah jadinya, omong kosong bertebaran tanpa sungkan, tanpa takut atau malu dengan dosa. 

            Mereka hanya bisa menunduk, entah merenung atau mengantuk. Tangannya masih dengan posisi yang sama, memegang benda hasil karya tangan manusia. Apakah itu sebuah jimat? Yang kata orang merupakan benda yang memiliki kekuatan tertentu. Dan aku rasa iya, ia adalah jimat yang mampu membuat hati orang-orang menjadi mati dalam dekapannya. Jika kau tak percaya, lihatlah lorong-lorongnya, kau akan temukan banyak sisi gelap disana. Kau akan menemukan bahwa banyak orang yang menyebar rasa asam dan pedas pada negeri ini melalui jimat yang kau sebut “MEDSOS”. Fitnah, omong kosong, dendam, provokasi, gengsi dan teman-teman buruk lainnya telah menjadi penghuni akut di dalamnya.

             Maka berhati-hatilah bermedsos, jangan jadi manusia pintar yang bodoh dalam menggunakannya. Berjalanlah layaknya manusia biasa sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Bukankah bumi ini sangatlah luas dan kita hanyalah makhluk kecil di dalamnya?




Malang, 8 Februari 2018
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

1 komentar:

  1. Tulisan realis, bagai pedang menusuk setiap pembaca dengan tangan penuh luka. Itulah relita hari.

    BalasHapus