Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

fathah tan fathah tin fathah tun



Siti Fathimatuz Zahro'


“Ulangi”
Kata itu yang selalu aku ucapkan dalam 3 menit terakhir. Baru dapat setengah halaman dan harus mengulangi lagi dari awal. Bagi sebagian orang, mengulagi adalah hal yang membosankan karena ia harus bertemu dengan hal yang sama. Tetapi tidak dengan dia. Dia malah tertawa meskipun bibir kecilnya mengatakan bahwa ia bosan mengulang. Baris pertama ia jamak kembali. Perlahan, seolah ia tidak ingin mendengar kata “ulangi” lagi. Seperempat halaman telah dilaluinya, dan kepalanya terjatuh. “hayoo, keretanya ngguling”. Kemudian ia tegak kembali. Entah mengapa ia suka sekali sekali diibaratkan dengan kereta api. Mungkin ia memiliki kenangan yang berkesan dengan kereta.
Disisi lain meja, sang perwira kecil juga bernasib sama. Namun dia rapuh.
“Bu sudah...” Kemudian dia bermain
“Ayo dibaca lagi. Biar lebih lancar”. Beralih lagi aku ke meja yang lain. Menghadapi gadis kecil Cina. Mata sipit, kulit putih, dengan suara yang nyaris hilang.  Ketika suara hujan mulai memekakan telinga, gadis ini tenggelam, yang terlihat hanyalah mulutnya yang bergerak-gerak. Berkali-kali aku memaksanakan suara itu agar keluar, nihil. Ya sudahlah. Mungkin sudah dari sananya. Mash Alhamdulillah dia tetap datang setiap harinya meskipun setiap hari pula aku memerangi suaranya.
“Sudah? Bermain aja?”
Perwira kecil tetap dengan tali temali ditangannya. Intonasi ku selayaknya ibu yang memahami setiap tingkah lakunya. Ekspresi wajahnya berubah. Dahinya mengkerut, matanya memerah, hidung mengembang bak roti kukus di pagi hari ku. “Hmmm... Sedap.” Pikirku. Ahh, bibirnya melengkung kebawah. Langit pun membelah menuangkan air membasahi danau.
“Lhoo.. kenapa?” seingatku aku tidak menyentuhnya. Temali masih tetap digenggamnya. Aku bukan tipe orang yang merampas mainan. Aku hanya akan meminjam sejenak. Tidak sampai 1 jam.
“Lha bu guru nyuruh ngulang terus”
Tawa ku meledak, tanpa suara tentunya. Apa jadinya jika tawa ku memecah air matanya?. Mungkin kompetisi air terjun terderas akan dimenangkan olehnya.
“Ya Allah naak, bu guru nyuruh ngulang biar kamu lebih lancar. Kamu nggak salah apa-apa. Sini-sini duduk didepan bu guru. Biar lebih dekat.”
Menggeleng. Takut mungkin.
“nggak papa sini. Biar lebih mudah. Ayo sini.” Dengan piawainya tangan ku membimbingnya pindah tempat.” Alhamdulillah sentuhan ku membuatnya beringsut mendekat. Tak kusangka “kereta” ku juga tertawa. Dasar bocah.  Suka sekali melihat temannya menangis. Dia mengintip perwira kecil tepat didepan wajahnya dan kemudian tertawa lagi.
Itulah anak-anak, memiliki daya banting masing-masing, cara belajar sendiri-sendiri. Ibarat sebuah gelas memiliki ketebalan yang berbeda. Ada yang sekali jatuh pecah, ada yang terpelanting namun hanya retak. Namun aku juga percaya, sekuat apa pun sesuatu, suatu waktu ia akan tumbang juga. Seperti aku yang akan tumbang ketika rindu datang. Sekali lagi aku kalah 1-0 dengan Dilan.
“fathah tan...fathah tin...fathah tun...”
“apa naak?”
“kereta” ku diam. Matanya memandangku berkedip dan punggungnya beringsut mundur.
“nggak ada fathah tin...fathah tun...” bagi dia semua harakat adalah fathah. Jika diatas ia nama kan ‘tan’ jika dibawah dia namakan ‘tin’ sisanya ‘tun’.
“adduuuuh...salah lagi.”
Mungkin dia capek. Padahal esok hari ia harus menjalani eksekusi hijaiyah hingga tuntas beserta mahkota-mahkotanya. PR besar bagiku. Jika ia mendapat C maka dia tidak salah. Tapi aku yang tidak lulus sebagai pendamping belajarnya.
Sore ini kawan ku hanya 3 orang. Gadis Cina, perwira kecil, dan “kereta” Thomas. Mungkin suara hujan menjelang ashar tadi berhasil menimang mereka yang tidak datang.
Hujan adalah tangisan langit
Ketika bumi terlampau gersang
Bagaikan aku memeluk sakit
Ketika rindu datang bertandang
Bukannya pohon enggan melambai
Bukan ombak enggan berderu
Hanya engkau tak kunjung sampai
Saat hati dilanda rindu
Tangan ku menari diatas lembaran absen kehadiran. Memporak-porandakan tanda check list. Lembab hujan membawa ku memaknai setia tetesan airnya.
“naak..jangan nangis yaa. Ibu hanya ingin kamu lebih lancar. Mengulang bukan berarti kamu salah. Besok datang lagi yaa?”. Dia beranjak. Jika memang esok dia tak terlihat, maka kesalahan ku berlipat. Aku berhasil mencetak masjid, bu guru dan juga hujan sebagai hal yang ingin ia hitamkan.
“mengulang itu memang berta nak. Aku juga mengalaminya. Jika esok kau datang berarti kau perwira sejati. Tidak seperti ku.”




Malang, 26 Februari 2018
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Bukit Cemara Tidar F3/04
www.darunnun.com
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar