Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dek Puang

Oleh : Cintia Dwi Afifa
“Untuk mengambil hati seseorang, mulailah dengan membicarakan tentangnya” –Pak Prof. Imam Suprayogo
Kata-kata tersebut terngiang lagi sore ini, di benakku. Entah keberapakalinya, aku membenarkan kata-kata itu. Masih tertancap dengan jelas, gambaran suasana siang itu bersama beliau. Itu bukanlah kali pertamanya ku mengikuti seminar-seminarnya. Dalam sesi tanya jawab, ada seorang mahasiswa bertanya pada beliau, dia membuka pertanyaannya dengan membahas tulisan pak prof. Terlebih dahulu, barulah diikuti dengan pertanyaannya. Pak Imampun, tersenyum puas mendengar pertanyaannya. Tak langsung menjawab beliau berkata “Nah.. 
bagus ini, ini adalah salah satu cara untuk mengambil hati lawan bicara. Bicarakanlah tentangnya terlebih dahulu, entah itu karya, hobi, atau hal lain yang disukainya. Itu sangat berpengaruh besar dalam mengambil hatinya”. Tak hanya itu, beliau juga menuturkan bahwa mengapresiasi sebuah karya seseorang, secara tak langsung dan sadar dia sudah berjasa dalam memotivasi seseorang untuk terus berkarya, karena berkarya adalah kunci membangun kepercayaan diri. Beliau berkata “percaya diri itu pondasi kesuksesan, percayalah kamu bisa, hebat dan keren. Itu akan meyakinkanmu atas usahamu. Salah satu membangun percaya diri adalah suatu karya yang diapresiasi orang lain. Apapun itu !”. Mungkin, untuk pembaca blogku, pernah membaca catatan ini (iya, ini kutemukan di buku catatanku dulu. aku dulu serajin itu, menulis apapun yang baru aku dapatkan setiap harinya. Tapi entah kenapa, hal itu tak lama. Padahal, jika kita menuliskannya itu akan sangat bermanfaat untuk jangka panjangnya. Karena ingatan kita, tak pernah serapi tulisan dalam hal mengingat. Oke.. aku akan memulainya kembali). Hehe jangan bosan.  
Kembali ke cerita sore ini, hari ini adalah hari kamis. Dimana aku harus bertemu dek puang, begitulah dia berkenalan denganku di awal pertemuan kita. Tentunya, dia hanya bercanda akannya. Dan hari ini adalah pertemuan kita kelima. Dia adalah gadis cilik, yang berusia 9 tahun. Belajar bareng, iqra’ 1 (satu) denganku. Dia sudah ganti kurang lebih 6 kali, pendamping belajar mengaji. Entah kenapa, dia hanya cerita sampai disitu. Hari ini, ibunya menanyakan perkembangannya. Aku bingung, karena selama 4 pertemuan ini, kita banyak bermainnya. Kenapa ? jangan tanya pertanyaan itu, sebelum kamu mengenalnya. Aku bingung, dan bertanya-tanya. Apa jangan-jangan aku terlalu menurutinnya ya.. tapi percayalah untuk menolaknya itu sangat sulit. Berhubung aku hanya membadali (menggantikan) temanku untuk mendampinginya, ku coba menanyakan karakternya. Temanku bilang, dia memang sedikit susah, dan bisa di bilang dia malas. Ah... aku jadi ingat, aku di usianya. Segala bentuk nasihat, itu tak mempan. Aku lupa, bahwa semua ada kuncinya, ada caranya.
Sampai pada sore ini, seperti biasa dia sangat lambat dalam membaca. Dia seakan bilang “aku sukanya cerita, bukan belajar ngaji”. sampai pada topik pembicaraan, seorang artis. Dia sangat mengaguminnya. Dia ingin sepertinya. Alih-alih ... aku yang buta dunia selebritis. Aku mengarang sebuah cerita. Kukatakan, bahwa awalnya dia (si artis)  adalah bocah biasa sepertinya pun sepertiku. Tapi karena dia pintar mengaji. Allah mengabulkan doanya, dan melancarkan jalannya hingga ia bisa jadi seperti ini. Dan tak kusangka, dia dengan girang bertanya “berarti aku bisa dong, jadi artis sepertinya?” langsung kujawab, tentu saja dek. Yang penting ngajinya pinter, nan rajin. Tak perlu waktu lama, ia pun sangat bersemangat untuk ngaji. kamu tau? Dia sangat lancar bacanya dan tak ada cerita-pertanyaan-deelel yang menyela bacaannya seperti sebelumnya. Dalam sekejap, ia pun melahap 6 halaman sekaligus sampai-sampai dia tak mau berhenti membaca. kenapa aku biarkan? Soalnya aku tau dia sudah bisa sebenarnya, hanya males aja. Terpaksa, aku menghentikannya karena estimasi waktu. Dia tanya, “artisnya ngaji setiap hari nggak?” iya dong, kataku. “yaudah aku ngajinya setiap hari ya... aku bilang bunda ! biar aku nanti besar, jadi artis yang terbaik di seluruh Indonesia dan luar negeri”. Iya jangan lupa Doa ya.. doanya jangan lupa di tambahin.. jadi artis yang Sholihah dek. Dengan sigap dia jawab “iya nanti aku doa”. Dalalm hati, aku bergumam duh kenapa aku nggak menggubris ceritanya yang tentang si artis dari dulu ya... tau gitu kan enak.
Dari sini aku sadar, yang malas bukan dek puangnya tapi akunya. Di akun ig ummu balqis pernah posting yang kalau pada intinya “sebenarnya semua anak bisa jadi kreatif, asal ibunya tidak malas”. Ntah kenapa ku rasa, inipun berlaku buat ku dan dek puang. Kenapa aku sibuk dengan mencari masalah yang ada pada dirinya, bukan yang ada pada diriku. Harunya aku yang lebih kreatif, dalam mendampingimu ya dek. Maafkan aku. Oh iya, satu hal lagi yang harusnya aku minta maaf lagi, padamu dek. Soal riwayat si artis, aku telah mengarangnya .. hehe. Tapi untuk sebuah Power of Doa nya aku nggak bohong. Terimakasih untuk pelajaran yang berharga hari ini dek, sudah mengingatkanku kembali akan nasihat Pak Prof. Imam juga telah menyadarkan aku atas banyak hal.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar