Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

BELAJAR BAHASA ASING ITU, MUDAH


(Menjaring kata dan Membiasakan)

Halimi Zuhdy
IG @halimizuhdy3011

_"Belajar bahasa tidak harus orang cerdas, pintar dan hebat. Belajar bahasa hanya membutuhkan kesungguhan dan pembiasaan",_ Demikian kata Avin Nadhir,  Direktur Indocita Foundation Desa Inggris Singosari.

Segudang kosa kata yang dimiliki, kalau tidak pernah digunakan dan dibiasakan, maka tidak akan pernah bisa berbahasa.
Bahasa bukanlah ilmu, ia merupakan skill (maharah), skill hanya diperlukan keberanian untuk melakukan dan kebiasaan untuk diterapkan, serta yang paling penting "Kekuatan Diri Untuk Bisa Berbahasa".

Dalam bahasa Arab ada ungkapan, al-Lughah Hiya al-Kalam (Bahasa itu adalah berbicara/mengungkapkan), bahasa itu harus diucapkan, dikatakan, dibahasakan. Maka, ada tiga syarat untuk cepat bisa berbahasa (baik:mendengar, membaca, berbicara dan menulis), dan tidaklah dibutuhkan teori yang melangit. Agar bisa berbicara bahasa Arab, misalnya, maka tiga syarat itu adalah; 1) berbicara, 2) berbicara, 3) berbicara. Demikian kamahiran yang lain. Artinya, dilakukan dan sipraktikkan.

Himmah aliyah (kemauan keras), itu pula yang mampu membisakan seseorang dalam berbahasa, banyak siswa/mahasiswa yang belajar bahasa, tapi tidak bisa berbahasa, mengapa? Karena, tidak adanya kemauan keras dalam dirinya, sehingga ia hanya sekedar masuk kelas, dan selesai. Walau ia belajar bahasa selama lima tahun pun, ia tidak akan mampu untuk berbahasa.
Apalagi sang guru/tutor/dosen di kelas, mengajarkan bahasa hanya untuk nilai, bukan membisakan, hanya mengejar target bab demi bab, tapi tidak pernah dipraktikkan, maka bisa silihat hasilnya, Nol.

Yang tidak kalah pentingnya, belajar bahasa itu harus "menyenangkan". Banyak sekolah yang menyatakan "Sekolah Bilingual" tapi hasilnya, kurang memuaskan. Apalagi sekolah yang tidak menerapkan pembiasaan berbahasa, maka lebih mengenaskan. Mengapa?, karena belajar bahasa, hanya "sekedar" mengajarkan bukan membisakan. Dan lagi, guru mengajarkan dengan kaku, tidak ada fun (farah), maka sulit sekali, bahasa mampu diserap oleh anak didik.

Ada banyak kesalahan yang dilakukan pendidik bahasa dalam mengajarkan berbahasa, diantaranya; 1) hanya menggunakan satu metode (kurang kreatif) dan kaku. 2) kurang motivasi, sehingga anak didik menjadi penakut; takut berbicara, takut menulis dll,  3) Kaku dalam kaidah, lebih takut salah dalam mempratikkan, dari pada anak didik berani menggunakan (terlalu kaku dalam Kaidah bahasa), 4) tidak mengenalkan budaya bahasa yang dipelajari,dan buta faidah belajar bahasa, 5) jarang memperdengarkan bahasa yang ajarkan, 6) jarang dipratikkan.

Belajar bahasa asing, tidak jauh berbeda dengan belajar bahasa Ibu, dari kecil sampai besar, butuh kemauan dan keinginan untuk bisa dan pembiasaan.

Singosari, 28/01/2018
------------------------------------
* Dosen BSA dan PBA Pascasarjana UIN Malang

Share on Google Plus

About Halimi Zuhdy

Penulis puisi berbahasa Indonesia dan Arab (sudah 7 Antologi yang ditulis), Penulis buku Pembelajaran Bahasa Arab, Pendidikan Bahasa Arab, Lingkungan Bahasa, dan lain sebagainya. serta terpanggil untuk menjadi Da'i dan mengaji diberbagai pondok di Malang. sekarang menjadi Dosen Tetap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan pembina mata kuliah Sastra Arab Modern, Folklor Arab, Teori Sastra, dan Al-Arabiyah Li Aghrad Khassoh. serta mengajar Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Arab di Pascasarjana UIN Malang
menjadi Ketua Redaksi Jurnal LiNGUA Humaniora UIN Malang, dan menjadi Khodim Pondok Pesantren Darun Nun Malang.
Pernah belajar di King Saud University dan Menyelesaikan Doktoralnya di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Menjadi Motivator Menulis, Pembelajaran Bahasa dan Sastra.

0 komentar:

Posting Komentar