Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Mama.. Bibirku Luka



Siti Fathimatuz Zahro'


Mama...
Bundanya adik-adik ku...
Yang seharusnya bunda ku juga...
Tapi mengapa membuat ujung bibir ku luka...

Singkat cerita...
(04 Desember 2017, 4.38 pm)
Sudah merupakan rutinitas aku belajar di teras masjid bersama adik-adik, mengeja baris per baris huruf bangsa lain. Kali ini adalah giliran anak laki-laki yang baru naik kelas menguji bacaannya. Belum sempat ia membaca basmalah sudah ku sela dengan pertanyaan heran ku yang melihat bibirnya terluka. Sebenarnya sudah biasa anak kecil terluka disana sini toh mereka memang aktif dalam bermain dan luka itu pun juga tidak terlalu besar. Hanya seukuran potongan kuku. Namun entah mengapa, ingin saja aku menanyakannya. "Lho kenapa nak bibirnya? Kok merah gitu". Sambil ku intip-intip bagian dalam bibirnya. "Habis dimarahi mama kemarin". Dimarahin kok luka?. Itu batin ku. "Kenapa kok dimarahin mama?". Dan ternyata dia bertengkar dengan adiknya ketika mama sedang menerima tamu. Gregetan mungkin kali ya. "Nak kalau ada tamu gak boleh ramai. Nanti berisik". Dia mengangguk. "Sayang nggak sama adik?". Lanjutku bertanya dan dia mengangguk. "Kalau sayang brarti gak boleh buat adik nangis yaa". Aku mencoba menggunakan bahasa yang dia mengerti. "Aku sudah mau minta maaf sama adik tapi mama menarik tangan ku sampai bibir ku ketatap ujung meja dan aku dimasukkan kamar". Jegleeerrr. Bagaikan sambaran petir disenja itu. Aku reflek menganga. "Ditarik mama? Ditarik keras atau pelan?". Aku semakin penasaran dengan kisah anak ini. "Ditarik keras kak". Dia menjawab dengan santai tapi hati ku dag dig dug...

Ya Allah, masih ada sajakah sikap seperti itu dengan mengedepankan kedisiplinan pada anak?. Lagi-lagi kini soal punishment. Dia masih anak-anak usia bermain. Dimana semua tempat dianggap tempat bermain dan ketika ada orang asing merespon keaktifannya dia akan merasa semakin dipuji. Dan soal bertengkar dengan adik, bisa saja awalnya dia bercanda dan merasa gemas dengan adiknya dan sedikit terlewat gemasnya. Bentuk rasa sayang, gemas terhadap adik itu tidak melulu diperhatikan, bisa jadi dengan menggoda, membuat adik teriak-teriak karena mainan disembunyikan, atau bahkan membuatnya menangis adalah suatu kesenangan tersendiri. Tinggal bagaimana peran orang tua memberikan pemahaman bagaimana menyayangi adik dengan lembut tanpa membuatnya merasa tertekan dengan tingkah sang kakak.

Mari menjadi teman bagi anak-anak. Dimana anak memiliki orang tua sekaligus teman bermain.



Malang, 5 Desember 2017
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
www.darunnun.com
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar