Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

saingan ku kedai kopi



Siti Fathimatuz Zahro'



Singkat cerita....

Seperti biasa aku belajar bersama anak-anak kecil di serambi masjid dan kala itu hujan. “Kak, kapan pulang?’, dia adalah Ipang. Anak usia SD yang belum lama bergabung dengan kelompok belajar ku. “Ngapain pulang? Masih hujan ini dek”. Sore itu dihiasi dengan rintik hujan yang sedikit padat. Kelompok belajar ku hanya terdiri dari 6 anak sore itu. Namanya juga anak-anak. Kadang datang kadang terlewat tidur. “Kak, aku mau hujan-hujanan”. Seraya dia akan beranjak pergi dan aku cegah. “Haduuh, nanti sakit. Kok suka sih hujan-hujan?”. Aah, siapa sih yang tak suka. Aku pun menyukainya tapi tidak kali ini. Terlalu banyak kenangan. Aku tersenyum sendiri. “Enak kak kalau hujan. Ibu ku jadi nggak jualan”. Glek!!! Apa maksudnya? “Kok enak? Lha kalau nggak jualan, kan nggak dapat uang. Lha uang jajan mu dapat dari mana?”. Aku rasa itu jawaban yang mudah dicerna, dari pada aku harus menjelaskan jawaban tentang ekonomi keluarga. Kebetulan orang tuanya pemilik kedai kopi dan ketan bubuk. Sepasang penghangat dikala hujan rintik-rintik begini.“Ya biarin. Lha aku sering sendirian di rumah. Mainan sama hamster ku tok”. Ringan dia berbicara begitu. Ya Allah, sebegitu sepinya kah dia sampai dia berharap selalu hujan agar ibunya dapat menemaninya?.


Singkat cerita itu memberi ku banyak kesimpulan. Bagaimana seorang anak menuntut haknya. Di zaman modern begini memang keuangan dituntut untuk selalu berkembang. Apa-apa naik, apa-apa mahal. Sedikit-sedikit beli. Kebutuhan sekolah lah, kebutuhan rumah tangga lah. Tapi dibalik itu semua, ada hak anak yang mungkin sering terabaikan. Lebih khusus apabila kedua orang tua bekerja semua. Dengan siapa anak di rumah? Sekalipun ia memiliki saudara, teman bermain, namun sosok orang tua tetap diharapkan. Mereka hanya ingin ditemani. Bolehlah sesekali meluangkan waktu dengan mereka. Menemani malamnya dengan belajar untuk esok, mengulang pelajaran di sekolah, atau mengaji bersama. Dengan begitu karakter anak akan terbentuk dengan baik. Apa jadinya jika seorang anak meratap sedih ketika melihat temannya belajar dengan ibunya?. Dan apa jadinya jika anak menemukan kenyamanan dengan ibu dari orang lain?.

Apa yang saya tulis adalah sebuah kejadian nyata, yang menyentak saya untuk memaparkan bagaimana seorang anak menuntut haknya untuk mendapat waktu dengan orang tuanya. Khususnya, ibu....

Ibu... kapan menemani ku mengerjakan PR?
Ibu... Ayo ngaji bareng....



Malang, 14 November 2017
Pondok Pesantren Darun Nun Malang

www.darunnun.com
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar