Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Memori yang terus Bersemi

Oleh Rofikatul Islamiyah

Talia masih termenung di tangga darurat fakultas. Keramaian lalu lalang mahasiswa dan kumpulan-kumpulan mereka yang berdiskusi di taman perpustakaan, di masjid kampus tak sekalipun mengusiknya. Bisa di tebak, fikirannya kini tak bisa di kontrol. Di balut hati yang terus menggebu membuka lembaran-lembaran memori akan masa yang tidak mungkin dapat terulang.
Ingat masa silam yang indah…
Masa dimana penuh rasa cinta, rasa saling mendukung, rasa kekeluargaan dan tak luput permasalahan yang juga menjadi warna dalam kebersamaan ini.
Hari ini, di sudut kampus. Saya Talia terjebak dalam lamunan nostalgia masa indah yang tak terulang. Rasanya begitu sulit untuk move on dari masa itu. Begitu sakit untuk menyadari bahwa saya hidup di masa sekarang di ruang yang sama tapi waktu berbeda. Keadaan hati pun berbeda rasanya. Apakah waktu yang mengubahnya? Atau hati itu sendiri yang berubah?
Kesejukan Kota Malang ini, semakin memberikan dukungan untuk terus tenggelam ke dasar kenangan, sinar sang fajar juga semakin meneragi lamunan ini, menjelaskan spectrum-spektrum warna warni material yang menjadi saksi kebersamaan itu.
Detik demi detik berlalu, ku tetap dengan nostalgia itu. Yang makin tumbuh subur, dan berakir pada sesaknya dada yang menahan tusukan rindu. Pertemuan yang teramat mahal, juga kebersamaan yang sudah limit.
Sahabat yang kian hari sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri, tak luput juga dengan diri ini. Hanya saja, hari ini ku sendiri terdiam tanpa aktivitas di tempat yang mempertemukan kita tapi juga memisahkan kita.
Terkadang terselip kenapa harus bertemu jika nanti harus terpisah? Dan siapa yang patut disalahkan dari kondisi ini? Apakah ada yang salah? Atau semuanya salah? Ah.. entahlah. Saat ini selain ku tak menemukan jawabanya, mungkin ku tak akan menerima akan jawaban itu. Atau memang semua pertanyaan itu tak ada jawabanya, , ,

“hei mbak, lapo neng kene?”. Tanya seorang cewe berkerung hijau.
“ya Alloh, kau mengejutkanku. Gak ada dek, cuman nungguin Nai”. Jawabku
“owalah, ngapain kok nunggu disini? Kan ekstrim nih tempat?” Tanya dia lagi.
“lah, mau nunggu di fakultas takut ketemu P.Bram, nanti aku di ceramahi”. Jawabku santai.
“owalah,”
Dia adalah adik tingkatku.
Tak lama kemudian Nai yang saya tunggu dari tadi, hingga pikiranku kalut dalam kenangan ini akhirnya tiba. Kita bertiga masuk, mengikuti  acara bulanan dari disiplin ilmu kita.
Di dalam ruang, teman-teman sudah banyak, namun hanya Talialah yang alumni. Semakin acara berlanjut, fikiran dan hati kembali bernostagia tentang kenangan-kenangan itu. Kini merambat ke masa-masa tugas akhir. Menambah jajaran nama yang terkenang.  Barisan wajah yang membersamai. Deretan hati yang memeluk saat-saat mulai lelah. Yah, tepat di depan barisan VIP, duduk beberapa orang yang ku hormati.
Tentang kebumian ini kembali meletuskan material-material kenangan itu. Menghujani hati yang semakin terpendam dengan kedalaman yang tak terhingga. Memberikan gempa jantung yang berdetak semakin kencang, dan akhirnya menyesakan paru-paru, mengalikan arus statis dalam darah dan berakhir beku dalam otak.
Terakhir, setelah pertanyaan kenapa? Apa? Kini kapan pun muncul juga.
Kapan masa itu dapat terulang? Kapan kita bisa bertemu kembali? Kapan kita dapat besama? Kapan kenangan ini berakhir? Dan kapan… kapan… kapan yang lainnya.
“adek yang berkerudung merah, mungkin mau menjawab. Dari tadi sepertinya berfikir keras?”. Tanya pemateri, dan mebuatku terbangun dari kenangan ini.
Semua mata tertuju pada ku, dan para dosenpun tahu kalau Talia sang alumni ada di ruang ini. Tak luput gojlokan para adik-adik yang memintaku untuk memperkenalkan diri sebelum menjawab pertanyaain itu. Juga senyum salah satu dosen yang selama ini sering ceramah ketika saya ada di kampus. Membuatku kehilangan kepercayadirian. Oh my God, kenapa jadi begini…
Tentang pertanyaan saja saya tidak mendengarkan bagaimana saya mau mejawab? Hati dan fikiranku sebelum masuk ruangan ini sudah terkuras habis oleh kenangan-kenangan itu.
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar