Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Mamak


Siti Fathimatuz Zahro'



Tiga tahun ini hanya aku dan mamak yang menempati gubuk ini. Dan dua tahun ini mamak sendiri. Aku mengabdi pada pak kyai, setidaknya itulah amanah buya.
Mamak memasak dan tangannya teriris. "mamak dipanggil pak kyai" karena kalimat itu yang membuat tangan mamak berdarah, kaget dan teriris. "Apa yang kau perbuat? Kau mempermalukan mamak mu ini dihadapan pak kyai haa?" seru mamak ku tak menghiraukan jarinya menetes merah. "Tidak mak....." belum selesai aku mengatakan musabab, mamak menyahut lagi, "Terus mengapa? Sudah ku bilang, jadilah anak manut. Ikuti apa kata pak kyai!!". Mamak memang sensitif dengan kata "dipanggil pak kyai", selalu saja beranggapan bahwa yang dipanggil dialah yang nakal. "Mak dengarkan aku dahulu. Tolong mamak haturkan pada pak kyai bahwa aku ingin meninggalkan pesantren" jawabku dengan lirih dan menunduk. Aku selalu menunda mengatakan ini pada mamak. Pasti mamak kecewa. Pesantren adalah riwayat buya ku. Belasan tahun buya nyantri dan ngawula di pesantren. Ditempat itu pula mamak bertemu dengan buya lantaran pak kyai. Mamak dulu anak dari nenek ku yang menjual gethuk setiap sore seusai santri sekolah Madin. Sedangkan buya ku seorang kawula yang membersihkan surau di bagian ujung pesantren. "Apa musabab yang membuat mu ingin boyong? Apa kau lupa akan pesan buya?", suara mamak bergetar. Aduh Gusti, mamak ku menangis. "Aku ingin menemani mamak. Sudah itu saja". Aku berbohong. Bukan itu alasan ku. Mamak ku seorang diri. Semua serba mandiri. Buya lebih disayang Allah dari pada kami. Esok tepat 1000 hari buya sehingga hari ini aku bisa bersama mamak. "Mamak mampu sendiri. Buya mu sudah mengajarkan kesendirian pada mamak. Mamak mampu". Aku tidak percaya itu. Aku tau mamak membutuhkan kawan. Mamak hanya setia pada amanah buya untuk mengikhlaskan aku pada pak kyai. Mamak rapuh. Mamak belum bisa berdamai pada takdir. Ku peluk mamak tanpa suara. Air matanya disaksikan oleh bara api tungku yang sedang berusaha mematangkan nasi untuk seserahan esok hari. Aku tidak boleh menangis dipunggung tua mamak. Punggung itu sudah berusaha untuk tetap tegak sekian tahun lamanya. "Mak, izinkan aku memapah kehidupan bersama mamak. Aku yakin buya tidak akan marah", aku tetap meyakinkan mamak. "Kupaskan kunir untuk pewarna nasi dan ayam untuk seserahan", mamak keluar pokok bahasan. Itu tanda skakmat bahwa mamak tak mau membahas hal ini.

Aku mengundang warga dan pak haji. Kugenapkan 40 orang karena dari yang pernah aku dengar, do'a akan dikabulkan jika tertopang 40 orang.Kirim do'a akan dimulai ba'da maghrib. Buya, aku yakin langkah mu ringan disisi Allah. Aamiin

Alhamdulillah semua tamu berkenan hadir. Lantunan tahlil membuat mamak ku menangis. Lantunan itulah yang mengantarkan buya meninggalkan rumah kami dan tak kembali.

Ba'da isya acara usai. Seserahan dibagikan dan rumah kami sepi kembali. Tinggal mamak dan aku seorang. Kembali ku tanyakan ingin ku disela-sela mamak menata gelas kotor. "Kembalilah esok pagi-pagi buta. Haturkan salam ku pada pak kyai. Maaf mamak tak bisa mengantar mu esok. Ladang sudah waktunya ditanam", itulah jawaban mamak. "Mak, aku ingin bersama mamak. Sudah cukup aku ngawula pada pak kyai. Sekarang aku ingin mengabdi pada mamak". Kali ini aku berkata tegas. Aku sudah tak tahan melihat mamak berjuang seorang diri dengan bayangan buya. Mamak masih membenci takdir meskipun dalam diam. "Disaksikan buya mu yang datang malam ini dan pemilik nyawa setiap manusia, mamak lebih ikhlas dan ridhlo apabila kau mati di pesantren karena menuntut ilmu dan mengabdi pada pak kyai. Mamak ikhlas. Mamak ridhlo". Allahuakbar Allahuakbar. Mamak ku teriak dan menangis. Gelas-gelas kotor berdenting diatas baki yang dibawa mamak. Mamak mengucap serapah dihari istimewa buya. Aku terkulai tak berdaya. Bibir ku mengatup rahangku mengeras. Seolah aku kembali menjadi seorang bayi yang tak dapat berbicara dan hanya bisa menangis.

Hingga fajar menyapa, bibir ku tetap mengatup. Keberangkatan ku menunaikan amanah buya dihantarkan dengan kediamam dan sembabnya mata mamak. Sepanjang malam mamak menangis. Mengadu pada pekatnya langit mengapa takdir begitu tega mengubah kebahagiaan mamak. Mengapa Allah tidak menyayangi kami secara adil dan hanya menyayangi buya dan hanya ingin bersama buya?. "Mamak ikhlas dan ridhlo. Pergilah". Kalimat itu yang mengantar ku keluar rumah dan aku masih akan kembali. Ku jabat tangan mamak dan peluk erat tubuh tegarnya. Ku usap punggung mamak dan kuselipkan do'a agar tetap setia menopang tubuh mamak untuk berdamai dengan takdir. "Assalamu'alaikum mak. Do'akan aku. Apapun itu". Ku tatap mata mamak dan aku tidak boleh menangis. "Waalaikumsalam. Haturkan salam mamak pada pak kyai".

Delman pasar sebentar lagi lewat. Transportasi itu yang akan mengantarku ke jalanan desa. Dan disana bus menuju pesantren akan membawa ku menunaikan amanah buya dan hantarkan salam mamak pada pak kyai.


Malang, 07 November 2017
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
www.darunnun.com
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar