Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kota Yang Sekarat

Oleh: 
Nur Sholikhah




            Hujan kembali mengguyur jantung kota, tepatnya di persimpangan jalan menuju kampus tua. Aroma debu bercampur air segera menguap di hidung orang-orang yang melintasinya. Hujan ini bukanlah yang seperti biasanya, hujan ini seolah pertanda bela sungkawa atas nasib kota. Entah mungkin hanya akulah yang berpikir sedemikian rupa. Aku terlalu muda untuk menuju kesana.

            Aku terus melangkah dengan menggenggam payung di tangan kanan. Tak ku pedulikan lagi pikiran-pikiran aneh yang muncul tiba-tiba. Ia sangat berisik bahkan terkadang berteriak kencang pada batin ini, “Kau dengar! untuk apa kau hidup tanpa bertindak apapun untuk kota ini. Kota ini sudah terlalu lama sakit bahkan koma karena ulah pemimpinnya.” Aku  terus saja berjalan pelan dan merenung sepanjang jalan. Mata ini tak henti-hentinya melihat para manusia menatap tajam. Mata mereka menyorot seperti lentera merah di kegelapan. Sungguh menakutkan, apakah benar bahwa aku hidup di kota yang sedang sekarat?

            Jika iya, kenapa aku masih melihat kehidupan di sekitar kampus tua, banyak penjual makanan yang asyik ngobrol dan bercerita, banyak para tukang angkot dan ojek yang bergurau ria di pinggir kota. Lalu kenapa ia bilang kota ini sedang koma, apa buktinya? Lihatlah gedung yang megah itu, gedung itu berdiri kokoh di atas geletakan mayat dan kucuran darah rakyat. Makhluk-makhluk tak berdosa jadi korbannya. Awan-awan gelap jadi saksinya dan mereka lah para pelakunya. Mereka siapa? Aku sendiripun tak tahu karna aku hanyalah manusia yang kurang ilmu. Dan sekarang gedung itu milik orang-orang asing yang sengaja datang untuk meracuni kota ini. Dan akhirnya kota ini benar-benar telah keracunan.

            Para penduduk pun menjadi lupa ingatan, lupa akan sejarah yang pernah di ukir sang nenek moyang. Mereka hanya mengingat bahwa gedung itu akan memberi sedikit hiburan, iya hanya sedikit hiburan. Bahkan mereka lupa pergi ke dokter dan menebus obat di apotik pinggir jalan. Mereka memang benar-benar telah keracunan.

            Setiap hari mereka berebut jalan, saling mendahului dan memaki sesama makhluk Tuhan. Mengapa semua selalu mengedepankan ego? Bukankah jalan itu milik kita bersama, yang dibangun hasil pembayaran pajak para penduduk kota? Mengapa mereka selalu merasa paling berhak memilikinya? Bahkan terkadang orang-orang sepertiku yang sering menyebrang jalan harus rela mendapat serempetan-serempetan kasar dari para penunggang kendaraan. Kota benar-benar telah koma hingga teriakan kami tak pernah diraba.

            Dan akhirnya hujan deras telah berhenti lama, menyisakan rintik-rintik kecil di jalan dan kampus tua. Ku lihat lagi mereka bersandiwara, pura-pura ramah padahal dusta. Aku sungguh tak mengerti, sampai kapan kota ini akan terus sekarat tanpa ada yang mengobati. Kau lihat sendiri para generasi muda telah tercandu dunia, yang tua pun tak mau mengalah. Kursi-kursi permadani jadi rebutan di setiap tahunnya. Tak peduli keluarga yang jadi saingannya, hingga jatuh korban jiwa tanpa suara karena telah dibungkam dengan indahnya kata. Yang muda hanya ingin dipuja tanpa tindakan nyata, media sosial telah jadi makanannya. Gizi itu terlalu rendah, maka pantas saja kota ini sekarat. Koma karna penyakit dalam yang kronis. Ia butuh dokter yang benar-benar ahli, ahli agama, ahli bahasa, ahli teknologi, ahli filsafat, ahli ekonomi, ahli sejarah dan ahli segalanya. Siapakah dia? Biarlah sang waktu yang kan menjawabnya.





Malang, 3 November 2017

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar