Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kambuhnya Penyakit Papa

Oleh:
Nur Sholikhah




Papa adalah orang hebat, menurutku belum ada seorangpun yang mengalahkan kehebatannya. Ia pandai berkata-kata, berpuisi, menulis cerita, menjadi sutradara dan bahkan menjadi pemain di filmnya sendiri. Aku selalu mengaguminya, sosoknya yang gagah dan mungkin berwibawa dengan memakai jas hitam lengkap dengan dasinya, ia terlihat tampan dan menyimpan banyak tanya. Aku yakin dulu Papa adalah mahasiswa paling teladan di kampusnya, ia berprestasi dan aktif berorganisasi. Ia pernah menulis jurnal internasional tanpa seleksi, ia pernah memimpin orasi di tengah-tengah hiruk pikuknya suasana negeri ini.


   

Aku ingin selalu bertepuk tangan sekeras-kerasnya, karna ku rasa dia seperti tiada duanya. Selama perjalanan hidupku ini, belum pernah aku mengenal orang sesakti dia. Padahal ia bukan turunan orang yang pandai ilmu kedukunan. 

Suatu hari ketika Papa sedang bermain sepak bola, ia tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan diri. Aku sempat shock saat itu, jangan-jangan sakitnya Papa kambuh lagi. Aku khawatir akan keadaannya. Orang-orang disekitarnya langsung membawanya ke rumah sakit di jantung kota. Dokter yang melihatnya langsung memeriksanya di ruang kedap suara. Dokter melarang siapapun untuk masuk ke dalam ruangan itu, yang diperbolehkan hanyalah istri dan keluarganya. Sedangkan aku? aku hanya mampu menjenguknya lewat foto yang dikirim oleh istrinya yang tak pernah ku panggil mama. Kasihan Papa, alat-alat medis yang ku tak pernah tahu apa nama dan fungsinya bergelantungan di tubuhnya. Terlihat seorang wanita yang sedang berisak tangis  di sampingnya. Apa penyakit Papa yang sesungguhnya? mengapa aku hanya mendapatkan fotonya saja tanpa informasi apapun? aku khawatir Papa terserang penyakit jantung lagi.

Beberapa hari setelah pengiriman foto itu, Papa dikabarkan sudah hampir sembuh. Aku pun tersenyum tanpa ragu, ternyata Papa masih di sayang Tuhan. Ia diberikan kesempatan untuk bermain sepak bola lagi dan menjadi sutradara sekaligus pemain di filmnya sendiri. Wanita yang pernah menemaninya di ruang kedap suara itu berbisik pelan padaku, "Papa dulu terserang penyakit jantung, dan penyakit itu bisa kambuh saat Papa kalah dalam pertandingan sepak bola. Dokter berpesan agar ia banyak membaca istighfar dan bersedekah". Sejak saat itu, aku berharap Papa mau pergi ke masjid dan ke pasar-pasar rakyat untuk membeli obat.




Malang, 6 November 2017
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Perumahan Bukit Cemara Tidar F3 no.4
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar