Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

He Took His Skin Off For Me

https://www.youtube.com/watch?v=WkgW64nI3q8&t=604s
by: amanah al mubtada


Jika kalian pernah berselancar di dunia youtube, mungkin sempat sekali atau dua kali melihat sekilas tentang cover film ini. Ini film apaan sih, covernya aneh. Yup, itupula yang terlintas difikiran saya saat itu. Namun, karena ini nampak menarik melihat dari banyaknya penghargaan yang diperoleh saya rasa ini film yang patut untuk ditonton. Kata pertama yang muncul saat menonton film ini adalah “menjijikkan”, “itu kan kulit”, “itu otot manusia beneran kan”, ya, itu yang memberondong otak saya saat detik pertama film ini diputar.

Adegan pertama diawali dengan narasi dari sudut pandang perempuan, dimana sang laki-laki memutuskan untuk melepas kulitnya. sang perempuan saat itu sedang memasak, kemudian menemukan pasangannya muncul dengan tanpa kulit. Dia terus tersenyum, pasangannya tampak lebih indah tanpa kulit. Tidak ada masalah bahkan ketika bercinta. Pada mulanya, tidak ada masalah sang perempuan hanya perlu lebih sering membersihkan rumah, sampai berjam-jam dan butuh waktu lebih lama untuk mencuci. Ketika malam hari, si laki-laki akan lebih sering kedinginan bahkan meski musim dingin belum datang. Bukan masalah besar, tentu saja harga gas untuk pemanas rumah tidak murah. Sampai pada suatu kali masalah mulai muncul, ketika suatu kali teman-teman lama si laki-laki bermain dan makan malam di rumah, mereka mulai bertanya banyak hal tentang kulitnya. Sang perempuan mulai merasakan ada yang aneh, dia yang biasanya banyak bicara hanya menjawab dengan singkat semisal "ya, tidak". Perlahan ketidaknyamanan mulai merasuki hubungan mereka. Di scene terakhir nampak laki-laki punya keinginan untuk melepas kulit Perempuan. Pada scene terakhir ini penonton diajak untuk peka dengan ekspresi perempuan, dan akan berfikir banyak hal tentang apa yang selama ini telah dan akan kita lakukan pada pasangan hidup kita.

Film ini hanya berdurasi 11.12 menit ini berhasil membuat saya berpikir banyak hal. Mungkin bagi beberapa orang film ini nampak senonoh dengan adegan kasur dan keintiman yang tercipta antar pasangan. Jika kalian pernah mendengar istilah, nyaman berlindung di balik kulit sendiri, kali ini pernyataan itu diwujudkan dalam sebuah make up dan grafis yang luar biasa realistis. Kita tidak akan menemukan adegan yang mengundang nafsu, justru banyak hal yang perlu dipikirkan tentang apa yang akan diperbuat dengan pasangan di masa depan. Seberapa banyak kita memahami pasangan, seberapa besar kita tau tentang pasangan kita.
Secara pribadi saya sangat merekomendasikan film pendek ini untuk ditonton bagi siapapun yang hendak dan telah siap untuk menjalin mahligai pernikahan. Screenplay yang ditampilkan sungguh memanjakan mata penonton. Dibalik kesuksesan pembuatan film ini, make up yang dilakukan untuk membuat otot tanpa kulit yang lengkap dengan darah yang dapat menempel di segala tempat ternyata membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam. Sungguh menggoda untuk ditonton bukan.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar