Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

FAMILY (Father and Mother I Love You) a.k.a Resensi Film I'm Not Stupid Too


Hasil gambar untuk im not stupid too
Pict: I'm Not Stupid Too The Movie


Judul           :
I'm Not Stupid Too 
Sutradara   : Jack Neo
Produser     :
Chan Pui Yin
                       
Seah Saw Yam
Penulis         :
Jack Neo
Perusahaan
produksi       :
MediaCorp Raintree Pictures
Tanggal rilis :
26 Januari 2006
Durasi           :
124 Menit
Negara          :
Singapura
Bahasa          :
Inggris, Mandarin, Hokkian

 (Sumber data film: https://id.wikipedia.org/wiki/I_Not_Stupid_Too)

Peresensi      : Indah Nurnanningsih


 ------------------------------------------------------






Kegiatan menulis kali ini rupanya agak membutuhkan daya pikir yang ekstra, sebab berhubungan dengan yang namanya menonton film. Hmm.. memang kegiatan satu ini tidaklah asing, namun saya rasa begitu jarang hadir ditengah-tengah keseharian orang seperti saya. Hobinya di depan laptop namun tak sedikitpun menjamah folder movie. Yap, selama ini saya sangat jarang menjadi seorang user, hanya menjadi supplier film bagi teman-teman di Asrama Kampus maupun di Pondok Darun Nun. Sejauh ini mungkin sangat dapat dihitung jari tentang pengalaman saya menonton tayangan yang menjadi maniak bagi sebagian kalangan ini.
Tapi tak mengapa. Menulis memang butuh variasi dan penekanan, juga tantangan. Mungkin hasilnya bisa saja belum sempurna, bahkan masih banyak kekurangan. Anyway, terima kasih Devisi Kepenulisan atas tugas yang telah diberikan. :)
Jadi ceritanya, liburan tahun 2013 kala itu pernah saya mencoba-coba merehatkan diri untuk sekedar nonton film. Kebetulan mayoritas film yang ada di komputer rumah adalah film yang memiliki setting di luar negeri. Saya coba buka satu persatu file komputer yang kontennya berfolder-folder, hingga membuat mata ini harus begitu jeli menelusurinya. Ada satu nama menarik yang tertera, I'M NOT STUPID TOO. Jari ini mulai meng-klik folder yang dituju beserta file subtitle yang ada. Terputarlah film tersebut. Pada mulanya hanya sebatas iseng dan penasaran dengan judulnya. Jujur, dari segi judul memang benar-benar tidak mengerti makna apa yang akan terkandung didalamnya. Apakah ini film konyol, horror, atau berkedok penipuan? Entahlah.
Yang pasti diperankan oleh beberapa aktor Singapura dimana mereka memerankan kisah kehidupan dalam lingkup keluarga. Mereka antara lain:

    Shawn Lee sebagai Tom Yeo
    Ashley Leong sebagai Jerry Yeo
    Joshua Ang sebagai Lim Chengcai
    Jack Neo sebagai Mr Yeo
    Xiang Yun sebagai Mrs Yeo
    Huang Yiliang sebagai Mr Lim

Dalam kesehariannya, anak-anak ini (Tom, Jerry dan Chengcai) mengalami problematika mengenai keberadaannya sebagai seorang anak di lingkup keluarga yang berbeda. Tentu kita semua tahu, idealnya seorang anak memiliki keinginan untuk dilindungi, dicintai, dan diberi apresiasi. Namun dalam kisah ini, Tom, anak dari Mr.Yeo memiliki bakat dalam bidang blogging, hingga ia menjadi seorang blogger yang aktif di kalangan remaja sekolah seusianya. Yang ada, bakat dan kecenderungan ini justru ditentang oleh kedua orang tuanya yang menginginkan anaknya itu unggul dalam bidang akademik. Tekanan demi tekanan selalu dihadapi, entah dari guru maupun dari orang tua mereka sendiri. Ibaratnya, ia benar-benar sedang dalam masa pencarian jati diri.

Sedangkan Chengcai, teman dari Tom, seorang anak dari Mr. Lim yang juga mantan Napi, memiliki bakat yang cukup baik dalam bidang bela diri. Sayangnya ia bernasib sama dengan Tom, bahkan lebih parah. Ayahnya begitu keras tidak menyukai apa yang ditekuni oleh Chengcai. Mengenai kegemaran anaknya itu, ia takut kalau-kalau Chengcai sampai terjerumus seperti dirinya dulu. Hari demi haripun mereka lalui dengan penuh kerenggangan. Hubungan antara Anak dan Ayah satu ini terbilang kurang harmonis, penuh kekakuan. Terang saja, Chengcai memiliki pribadi yang cenderung tempramen, begitupula sang Ayah. Inilah karekter yang terbentuk atas dasar pengalaman dan didikan  yang didapatnya sedari kecil.

Lain lagi dengan Jerry, ia adalah bocah 8 tahun yang memiliki karakter lugu dengan rasa ingin tahu yang lebih. Ia tumbuh dan berkembang dengan apa yang ia dapatkan di sekolah. Melalui kegiatan drama di sekolahnya, ia memiliki peran khusus bersama kawan-kawannya. Hingga puncaknya, ia dijadwalkan akan tampil dalam acara pementasan drama di sekolah. Yang ia inginkan hanyalah sebatas kedatangan orang tuanya untuk dapat menyaksikkannya dalam kesempatan itu. Namun apa yang terjadi? Ayah dan ibunya memang dari dulu begitu disibukkan dengan masalah pekerjaannya sendiri, hingga sedikit waktu yang bisa dicurahkan untuknya dan untuk kakaknya, Tom. Kalaupun bisa, Jerry begitu ingin membeli waktu yang dimiliki kedua orang tuanya.
Astaga.. sungguh mengharukan.
Hasil gambar untuk im not stupid too
Pict: Keluguan Ashley Leong a.k.a Jerry Yeo
Lalu dengan adanya ini semua, imbas apa yang terjadi pada ketiga anak tersebut?
Tom dan Chengcai kala itu berangsur-angsur semakin berubah menjadi anak yang berkepribadian frontal, kasar, hingga mereka bergabung dengan geng yang cenderung gemar melakukan aksi pencurian, perkelahian dan sejenisnya. Mereka merasa bahwa keberadaan mereka di golongan tersebut lebih dihargai daripada ketika berada di sekolah yang kurang menghargai jerih payah mereka dalam belajar, begitu juga dengan kondisi keluarga yang demikian.
Sementara si kecil Jerry pun sempat tertangkap basah mencuri di kantin sekolahnya. Demi apa? Hanya demi dapat membelikan tiket kedua orang tuanya agar dapat tampil di acara pertunjukannya. Hmm..

Hasil gambar untuk im not stupid too
Pict: Ketika sebuah penghargaan jauh lebih dibutuhkan


Sejauh ini dari rate 6-10, saya sepakat untuk memberikan film ini rate 9. Why?
Di tengah-tengah tayangan film yang begitu marak dan saling beradu meningkatkan viewers dan profit, film ini mencoba hadir dalam bingkai yang penuh pesan mendalam tanpa bumbu-bumbu vulgar, kontroversi dan semacamnya. Menerangkan bahwasanya dalam kehidupan berkeluarga perlu adanya keseimbangan dan keteraturan interaksi satu sama lain. Saling, mengisi, memberikan perhatian dan kehangatan merupakan kunci dalam menemukan kebahagiaan keluarga yang sesungguhnya. Lebih-lebih bagi para orang tua, hal ini begitu patut diperhatikan dan dijadikan pembelajaran. Sebab tanpa pemberian kasih sayang dan didikan yang baik maka anak-anakpun dapat melakukan berbagai hal yang sebelumnya mungkin tidak akan diduga-duga. Hal-hal berupa pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan, finansial, maupun fasilitas lain tidak akan ada artinya jika tanpa diiringi kesadaran bahwa ada segelintir waktu yang harus diluangkan untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi anak-anak.

Sontak, tayangan inipun begitu menguras air mata dan meng-enyuhkan batin (untung lagi nonton sendiri haha). Bagi teman yang pernah meminta copyan film, pasti selalu saya rekomendasikan film ini dan bisa menontonnya di malam hari sebagai bahan renungan (biar greget). Maka tidaklah rugi bagi kita untuk dapat mengambil pelajaran penting dari setiap detail kehidupan. Dalam Hong Kong Film Awards  2006, I'm Not Stupid Too pernah dinominasikan sebagai Film Asia Terbaik. Wah, kereeen.

Hingga pada ending cerita, para orang tua dan guru ini begitu menyadari arti penting waktu, kasih sayang, begitu juga penghargaan. Sehingga bukanlah kekurangan yang menjadi fokus perhatian mereka dalam menumbuh kembangkan anak, namun lebih pada kelebihan dan bakat yang dimiliki. Dari semua itu, mereka akan lebih mampu untuk berkembang dan menuai prestasi sesuai dengan kelebihan yang dimiliki.

Ini hanyalah sebatas review secara singkatnya. Mungkin pemirsa disini akan mengira film ini terasa biasa-biasa saja bila melihat dari gambaran dasar yang telah saya uraikan. Tapi siapa yang tahu jika film ini begitu good quality bila kita tidak mencoba menontonnya terlebih dahulu?
Tiap alur cerita memiliki ke-khasan tersendiri, sehingga teramat sayang untuk dilewatkan. Apalagi dibungkus dengan balutan humor, haru, juga beberapa aksi yang mendebarkan. Nantinya akan kita temukan juga beragam petuah yang quotable dan menusuk di hati. Sampai disini, para pembaca darunnun.com bisa langsung siap-siap mencari film yang dijamin Good Sense ini.
Eiiits, jangan lupa sediakan tissue ya! Jangan salahkan saya kalau sampai air mata berlinang, hehe.




Selamat Menonton!


Salam,


Indah Nurnanningsih
Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Malang, 22 November 2017



Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar