Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Ekspresi Cinta Tak Terduga

Hasil gambar untuk cinta
oleh Ninis Nofelia 

“Hawa sejuk selalu saja mengagumkan saat melintasi bayangan tentangnya. Entahlah, rasanya hati telah tertawan sosok bersahaja itu. Hampir mendekati 100 bilangan bulan yang hingga kini belum terlepas juga. Pernah aku mencari tahu tentang perasaannya padaku. Karena saat menaruh rasa padanya tak hanya menimbulkan keindahan dan kerinduan namun juga keresahan. Adakah rasaku berbalas dengannya?”
            Pernahkah pembaca merasakan hal yang meresahkan di atas? Tertawan cinta namun takut dan malu untuk mengungkapkannya. Rasa yang tiba-tiba hadir, entah berawal darimana namun mengakar begitu saja. Rasanya tak hanya indah, namun juga membuat resah.
            Hadirnya cinta seakan mengelabui mata dan fikiran. Dunia seakan tiba-tiba berubah total menurut fantasi kita. Si dia yang mungkin dianggap biasa saja oleh dunia, namun bagi kita dia dalah sosok yang sangat luar biasa indahnya. Cinta memanglah indah, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Ibn Hazm, ruh seketika menjadi ringan dan lembut, badan kita tiba-tiba wangi, senyum kita tiba-tiba mengembang . segala angkara murka, dendam dan kebencian tiba-tiba lenyap. Tiba-tiba menjelma menjadi seorang seniman yang piawai bersastra. Yah mungkin itulah cara kerja cinta membius tawanannya. Ajaib bukan?
            Keresahan timbul karena berbagai alasan. Terkadang rasa malu, takut, gengsi, minder, atau yang lainnya. Takut, gengsi, dan malu kalau-kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Atau merasa tak PD untuk mendekati si dia yang bergelimang berbagai kelebihan. Inilah terkadang yang menggugah berbagai ekspresi cinta. Ia sangat ingin memberitahukan dimana eksistensi cintanya pada si dia.
            Islam tak pernah mengharamkan cinta. Karena Allah mencipta cinta itu sebagai fitrah bagi manusia. Justru Islam mengajarkan bagaimana mengelola perasaan cinta itu agar sesuatu yang fitrah akan senantiasa terjaga kefitrahannya. Cinta itu suci, namun terkadang disalahgunakan dalam pengungkapannya sehingga terkadang cinta dianggap sesuatu yang tak berbudi. Bukan cinta yang salah, namun cara mengekspresikannya yang tidak sesuai dengan pedoman yang sudah diberikan dari Sang Pemberi cinta itu sendiri. Karena para pecinta seyogyanya saling menjaga kehormatan. Allah menghiasi pada setiap jiwa lelaki maupun perempuan untuk saling bercinta. Tentunya sesuai dengan koridornya.
            Bagaimana seharusnya kita menyikapi cinta? Karena tanggung jawab cinta jatuh pada ekspresinya. Apakah ekspresi cinta yang kita beri mengundang ridha-Nya atau malah sebaliknya, mengundang murka-Nya. Naudzubillah.
            Dalam bukunya yang berjudul “Perempuan”, Quraish Shihab menerjemahkan QS. Al-Imran ayat 14, “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka syahwat, yaitu kepada perempuan-perempuan (dan lelaki), anak-anak lelaki (dan anak-anak perempuan), harta yang tak terbilang lagi berlipat ganda dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”.
            Firman Allah ”di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”, dinyatakan oleh Ibnu Hazm bahwa cinta yang paling besar dan yang paling langgeng adalah cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama manusia yang didasari cinta karena Allah SWT. Nah, mari kita simak beberapa kisah ekspresi cinta terindah sepanjang sejarah. Tak lain kita buka dengan kisah cinta sayyidah Khodijah dengan lelaki paling mulia di muka bumi ini, Sayyidina Muhammad SAW. Satu-satunya yang patut kita  buktikan dan yakini adalah janji-Nya. Bahwa perempuan baik-baik akan mendapatkan lelaki yang baik-baik.

*Bersambung….

Malang, 12 November 2017
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar