Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dibalik Kata Sukses dan Keadaan Sekarang




Karena orang tua adalah orang yang harus kita bahagiakan , perjuangan , pengorbanan mereka tak ada duanya saat membesarkan mereka “Ulfa Ilma”
Itulah salah satu ungkapan wanita yang biasa disapa ulfa ini, dia adalah anak pertama pasangan kholis dan siti mulyani , yah dia bukan terlahir dari kalangan berada, keadannya yang pas – pasan menuntut dia untuk menjadi wanita yang mandiri dan tak luput juga dari didikan ayahnya yang selalu mengajarkan dia menjadi pekerja keras .

Sempat saat itu ketika dia masih kecil bersama adiknya, ketika itu keluarga kecil ini masih tinggal disebuah kosan yang hanya ada 1 ruangan yang disekat dengan kain , yang memisahkan antara ruang tamu dan ranjang susun untuk tidur , saat itu masih belum ada pet air yang masuk ini sekitar tahun 95, jadi kalo mau ambil air harus nimba dengan gerobak yang diisi kedalam ciregen – ciregen . Ayah mereka pun menyuruh mereka untuk menimba air yang terletak di gang depan sebelah masjid.
terdengar suara dari samping rumah mereka seorang laki – laki yang paruh baya, “kholis.... itu anak mu kenapa kamu suruh menimba air , kasihan mereka masih kecil, air itu berat “ kata tetangga yang melihat kedua anak ini sedang mendorong gerobak dengan berisi air .
Dengan santainya si ayah menjawab biarlah , “biar mereka tidak mainan air sembarangan , tidak menghabiskannya dengan sia – sia , agar mereka tau kalo air itu didapatnya susah” .
si bapak ini menyaut lagi “teganya kamu mereka masih terlalu kecil”.
Si ayah masih tetap dengan santainya menjawab “aku tidak tega, justru aku sayang kepada mereka, aku menddik mereka untuk jangka panjang , bisa saja aku menyuruh mereka duduk dan biar aku saja yang menimba air, namun aku tidak mau itu, aku ingi anakku menjadi orang yang mandiri nantinya, agar mereka tau sebelum mereka menikmati maka mereka harus berjuang mendapatkannya itu, tidak terbatas masalah air saja namun untuk semua hal yang lain juga. 
Akhirnya si tetangga sempat jengkel karena tak tega melihat anak sekecil itu menimba air.
Lambat laun kehidupan mereka sedikit berubah, keluarga ini mulai membaik mereka tidak lagi tinggal dikos an, mereka membeli rumah di perkampungan pojok kenjeran , rumahnya juga tidak terlalu luas, namun mereka sedikit lega karena tidak perlu lagi memikirkan membayar kos an untuk perbulannya, tak luput dari situ perjuangan ulfa masih berlanjut , ketika dia smp saat itu masih belum ada program wajib sekolah 9 tahun , jadi waktu itu dia masih bayar spp dan orang tuanya sedikit keberatan namun dengan tekat yang kuat si orang tua ulfa masih ingin melihat anaknya mengenyam pendidikan setinggi – tingginya. Akhirnya sampai dia dibangku sekolah SMA masih tetap dia sedikit kesusahan dengan biaya sekolahnya .
Hingga sampai pernah saat itu, orang tua dia dipanggil untuk menghadap pihak sekolah , karena menunggak uang SPPnya. Namun orang tuanya hanya bisa menjawab secepatnya saya akan membayar dan pihak sekolah menjawab “baiklah bu mungkin ulfa akan kami keluarkan dari sekolah”. Si orang tuanya pun langsung sontak berkata “jangan pak, andai saya punya barang berharga dirumah, mungkin saya akan menjualnya tapi dirumah saya sudah tidak ada barang yang berharga dan bisa di jual untuk di jual. Kalo bapak tidak percaya silahkan ikut saya pergi kerumah sekarang “ ungkap orang tuanya dengan lemas sambil meyakinkan agar ulfa tidak dikeluarkan. Pihak sekolahpun memberi keringanan , waktu SMA pun berakhir dan dia melanjutkan dibangku kuliahnya. Dia senang sekali di kesehatan akhirnya dia mendaftar di jurusan kesehatan namun dia tidak lolos. Dengan sedih dia tenerima kenyataan pahit itu , padahal dia termasuk anak yang pandai. Namun ayahnya berpesan mungkin allah tidak mentakdirkanmu disini nak. “ungkap ayahnya mencoba menenangkan hati anaknya. Karena dia masih punya tekat untuk kuliah ditahun itu dia memutuskan mengambil jurusan IPS dan akhirnya dia diterima di jurusan teknik perpustakaan. Tak jauh beda dengan nasibnya saat bersekolah di SMP dan SMA. Saat kuliahpun ulfa masih harus berjuang demi membayar uang semesternya dengan dia berjualan bantal , Tas batik . Dia jajakan itu kepada dosen dan teman – teman , karena waktu itu masih belum ada sistem online yang seperti sekarang. Banyak rintangan yang harus dia lewati namun dia selalu mencoba melewatinya dengan sabar. Dengan berjalannya waktu dia lulus dengan predikat Comload dan dia termasuk cucu pertama di keluarganya yang menjadi lulusan sarjana. Dan sekarang dia telah diterima di salah satu perusahaan BUMN tepatnya di kalimantan. Dan allah pun mengganti segal kesusahannya saat dia mengenyam pendidikan dengan keadaan dia sekarang . Dan itu semua tidak luput dari doa orang tua dan iktiar .
Ungkap dia “Begitu indahnya yang kulewati saat itu, ketika aku melihatnya dikeadaan ku yang sekarang lebih dari cukup. Tapi begitu sulitnya aku saat itu ketika aku berada di keadaan waktu susah ku kemarin. Pada intinya semuanya sama tapi yang mebedakan hanyalah waktunya saja. Untuk itu kita syukuri semua nikmati proses karena itu adalah bumbu - bumbu sebelum kita sukses”. Dan jangan lupa bahagiakan orang tua selagi mereka masih ada , karena perjuangan mereka mungkin tak sebanding dengan apa yang kamu perjuangkan selama ini.
Oleh : Alif Nur Lailiyah
Malang, 8 November 2017

Pondok Pesantren Darun Nun Malang






Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar