Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SENYUMAN SAMBAL TERASI


Oleh Dyah Ayu Fitriana @fitri_yesss 

"Ayo makan." Kata Pak Dhe. Sedari tadi aku hanya membuka mangkuk plastik yang berisi empat ekor ikan pindang kurus kering. Sambal di atas cobek sudah melambaikan tangan, membuat liurku terproduksi tak beraturan. Tapi, ah empat pindang kurus tadi, tak sampai hati aku memakannya.
"Bang Tejo mana Budhe?"
"Lagi kerja, buat lunasi motornya."
"Kerja di mana?"
"Di kecamatan sebelah. Ikut mbangun gapura Desa."
"Aduh duh" Bu dhe ku meringis memegangi kaki kanannya. Segera aku berdiri menyeimbangkan beliau yang hampir saja tumbang. Sedikit memapah sebelum sampai di kursi kayu panjang dekat meja makan.
"Sudah sebulan, nduk, nggak bisa jalan jauh. Beli kebutuhan saja cuma bisa nitip." beliau tertawa meringis. Seolah menertawakan sesuatu yang selalu kita sebut dengan kesialan. Kaki kanannya diurut naik turun. Aku membantunya. Merasai sebuah kaki yang mengerut seakan ototnya sudah tak mau lagi dikawinkan dengan daging. Aku memandanginya dengan bingung bercampur sedih. Kualihkan pandangan pada tembok rumah yang tiada berpoles cat. Betapa redup dan sayu. Lonjoran kayu kayu penyangga genting ikut bercerita tentang kepedihan yang selalu ditertawakan oleh penghuni rumah ini. Aku beranjak kebelakang dan kutemukan sebuah perapian kuno yang menjadi saksi berbulan tak ada sesuatupun yang dapat dimatangkan. Lalu aku memaksa diriku ke pekarangan belakang.  Rimbunan pohon bambu bernyanyi merdu melihatku. Rantingnya mengelus punggungku. Melenyapkan segala perih dan kegelisahan beberapa detik lalu.
"Nduk, sini." panggil pak dhe.
Aku segera menghampirinya.
"Ayo segera makan." Senyumnya menyelimuti perasaanku. Bu dhe segera mengambilkan nasi lengkap dengan ikan pindang kurus kering dan sambal menggoda tadi. Mulai kulahap satu suap. Entah mengapa senyumku semakin mengembang. Diikuti senyuman Pak Dhe dan bu dhe ku. Lamat Lamat aku tau, sambal terasi dan nyanyian akustik bambu itu tak pernah membiarkan isi rumah ini menangis sendu.

Lamongan, 18 November 2017
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar