Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Allah Bersama Kita

Oleh : Cintia Dwi Afifa

"Tuhan tak pernah mempertemukan kita pada seseorang tanpa maksud, kecuali benar-benar tak kita pedulikan 'maksud' itu sendiri" - Cintia Dwi Afifa.

"Jadi ambil yang mana ?" pertanyaan yang sering dilontarkan orang saat bertemu denganku. Beberapa hari setelah pengumuman SBMPTN dan UMPTAIN, pertanyaan itu yang sering ditanyakan orang. Alhamdulillah dari kedua pengumuman tersebut ada namaku, yang juga dari keduanya tidak ada yang kupilih dengan sungguh-sungguh. Tidak ada gairah sama sekali untuk melanjutkan studi, waktu itu. Memilih jurusan dan mengikuti tes masuk PTN/PTAIN hanyalah formalitas dan ikut-ikutan. Semua bukan tanpa alasan, ada rasa 'takut' disana. Rasa takut yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sampai pada akhirnya...




"Kamu jangan bodoh, banyak anak yang ingin kuliah tapi tak dapat kesempatan lolos ujian. Kamu tinggal pilih malah mau kau abaikan keduanya". Bentak temenku kala mendengar jawaban dariku, yang enggan memilih di keduanya. Lagi-lagi keputusan ini kubuat tanpa alasan, hanya saja kurang bijak. "Kalau bingung, istikharah", bisik temenku. Tapi aku tak bingung, aku sudah mantep. Hari itu adalah hari dimana ada acara halal bi halal di pondok, yang mana sebelum kita menginap di pondok di haruskan sowan terlebih dahulu karena bisa di bilang kita fress Alumni kala itu. Bunyai dawuh, "Nanti malam jam satu, ikut bantuin nata graha (tempat perkumpulan, semacam bangunan khusus) ya.. Buat persiapan acara besok".

Tibalah waktu malam, tanpa ada istikharah. Sebenarnya hati ingin melakukannya, tapi rasa ingin itu kalah kuat dengan egoku. Akhirnya kuputuskan, melewatkannya. Aku bermimpi, ~ jam satu tepat seperti biasa kalau ada pengumuman apalah apa, diumumkan dengan speaker. Jam 1 pagi, speaker itu berbunyi.. Menyuruh semua santri (pengurus karena yang lain pada liburan), untuk kumpul di graha begitupun aku dan teman-teman. Setelah beberapa persiapan usai, bunya dawuh "Mari ikut saya, ke sana sebentar untuk ini dan itu.", jadi aku dan beeberapa Teman yang ikut, ternyata naik mobil. Singkat cerita, mobil itu berhenti di sebuah tempat yang bertuliskan Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang (tapi sangat berbeda bentuknya dengan aslinya). Ntah kenapa berhenti disana, yang lain semua disuruh turun untuk istirahat sejenak. Turunlah kita, semua pada makan. Aku seorang diri berkeliling di dalamnya dengan rasa bahagia. Melihat ini dan itu." Dan akhirnya aku terbangun, bukan karena kaget namun sudah waktunya untuk bangun. Aku tercengang.. Ternyata ini hanya mimpi. Jam satu tidak ada pengumuman seperti itu, padahal ada salah seorang temen yang jam segitu tidak tidur.

Aku mengadukan mimpi itu pada temen-temenku. Mereka bilang itu petunjuk, mereka menyuruhku untuk segera menghubungi orang tua dan menyatakan keputusan itu sebelum aku berubah pikiran. Sebelum menelpon orang tua, aku diam-diam membuka web, ternyata hari itu adalah hari terakhir registrasi ulang. Aku sempat bimbang, mau kah orang tua ku dengan kepusanku yang serba mendadak. Singkat cerita, akhiranya aku resmi jadi mahasiswa Malang.


'Ketakutan' itu tak hilang begitu saja, setiap harinya menghantui. Sampai pada akhirnya, Tuhan mempertemukan ku dengan seseorang teman yang bagiku, dia itu malaikat. Bukan berlebihan, tapi itulah yang kurasakan. Dia begitu banyak berjasa, menghapus rasa takut itu dengan caranya tanpa dia tau apa yang aku takutkan. Menghiasi hari-hariku (yang bagiku mencemaskan), dengan rasa yang mungkin bisa dibilang cinta dan juga bukan. Entahlah. Mengembalikan rasa percaya diri, dan dari dialah aku menjadi aku. Tak ada yang perlu ditakutkan lagi, semua rasa takut itu sudah terjawab. Ternyata, tak seperti itu. Allah punya cara sendiri,  untuk 'hidup kita'. Jadi, janganlah pernah takut untuk terus melangkah dan sertakan Allah didalamnya. Ambil resikonya sebagai pelajaran, dan nikmati hasilnya.

Dipertemukan bukan melulu berarti untuk dipersatukan. Ada pesan didalamnya, ambil baiknya. Ada banyak pesan-pesan untuk kita sebenarnya dari (kejadian-orang-dll) yang kita hadapi, hanya saja terkadang kita sering mengabaikannya. Degarkan hati nurani, untuk sebuah pilihan.

Tulisan ini kupersembahkan untuk ingatan. Untuk selalu mengingat anugerah ini, untuk terus bersyukur dan mengaca pada kejadian di masa lalu, untuk terus melangkah maju tanpa rasa takut. Karena, Innallaha Ma'anaa... (Karena sesungguhnya Allah bersama kita).
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar