Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Situ Santri?

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Situ Santri? Baca Rules di Bawah Ini
Pesantren Story: Bagaimana Menjadi Santri Berkarakter
oleh: Indah Nurnanningsih

Pesantren amat lekat akan tradisi keagamaan dan berbagai keilmuan yang diajarkan. Dengan begitu diharapkan adanya fase-fase perubahan tertentu, tentu guna menuju arah yang lebih baik. Kecenderungan dari seorang santri adalah belajar mengkonstruk diri menjadi berkembang natural melalui berbagai rutinitas yang ada. Hal ini pastinya memunculkan memunculkan tanda tanya, seperti apakah produk yang dihasilkan dari pendidikan ala pesantren?
Dulunya begitu sering diri ini berkhayal tentang keinginan untuk memondokkan diri. Ingin rasanya hidup dengan rasa yang berbeda, juga kebiasaan-kebiasaan yang baru. Tentunya dengan berbagai dasar pertimbangan dan alasan lain. Doapun terkabulkan, mahad dan pondokpun menjadi pilihan di tangan. Sampai terus-terusan diri ini menginginkan lagi dan lagi yang lebih. Hingga tangan usil ini pernah mencoreti website Ponpes Darun Nun dengan penggalan kata tentang keinginan mondok lebih lama (baca: http://www.darunnun.com/2015/05/aku-ingin-mondok-seribu-tahun-lagi.html), gara-gara berbagai hal yang selama ini terlewati dalam hidup, menjadikan diri semakin ingin memperpanjang masa-masa itu.

Namun setelah lama merenung, batin ini kembali mem-flashback tentang apa yang pernah terjadi pada masanya. Tentang bagaimana keinginan yang boleh jadi lain dari santri yang lain. Bagi seorang santri, istilah “pulang” menjadi prioritas yang senantiasa direncanakan dan terpasang dalam fikiran, bukan mondok dan terus memondokkan dirinya.
Untuk apa mau mondok sebegitu lamanya? Bila pada akhirnya tidak ada bekas yang dapat dibawa oleh diri, lebih-lebih dibagikan kepada masyarakat sekitar. Juga bila akhirnya hanya berbuah pada terbentuknya perubahan yang tidak diinginkan. Salah satunya jika hanya menghabiskan hari-hari di pondok untuk sekedar cekikikan, membahas perkara yang tidak menjadikan kita fokus pada tujuan, adalah suatu kesia-siaan (dan sayapun semakin menyadarinya).
Seorang teman kala itu pernah mengatakan, bahwa ia sudah terlalu bosan dengan kehidupan ‘mondok’nya, dikarenakan ketatnya peraturan pondok, terbatasnya ruang gerak untuk melakukan ini itu, dan berbagai hal didalamnya. Dari cerita ini, sesungguhnya keberhasilan dalam menempuh pendidikan bergantung dari niat si pemondok, namun juga tidak terlepas dari pondok pesantren tipe apakah itu, siapakah pengasuhnya, bagaimana kultur kehidupannya. Yang lebih penting, kembali lagi pada niat, biasakan bertanya kepada diri sendiri terkait pilihan-pilihan hidup yang sebetulnya telah berlangsung lama dijalani.

Dengan begitu, menjadi santri bukanlah urusan yang boleh dilakukan dengan asal sekali jalan. Bila mondok hanya sekedar dijadikan rutintas hingga tak tahu apa yang hendak dituju. Mondok bukanlah sekedar masalah “Tinggal dimana sekarang? Mengapa mondok?
Umpama orang bertanya tentang hal itu, dalam benak seorang santri harapannya sudah tersaji jawaban pasti.

Sebagasi lembaga tafaqquh fiddin , pondok pesantren memiliki visi misi khusus untuk menjadikan santrinya keluar dalam kondisi berbekal, salah satunya ialah berkarakter dan berkepribadian luhur. Abdullah Hamid dalam bukunya "Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren " menyatakan bahwa, mencetak SDM berkualitas dan berkarakter, harus ada sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan (dalam hal ini pesantren), dan masyarakat, karena karakter berawal dari sebuah kebiasaan. Dukungan dari berbagai pihak harus senantiasa menjadi penyokong di tengah-tengah perjuangan santri dalam mengemban jalan dakwah maupun tholabul ilmi. Bagi pesantren setidaknya ada 6 metode yang diterapkan dalam membentuk perilaku/karakter santri di dalam pesantren, yakni:

1. Metode Keteladanan (Uswah Hasanah);
Sebuah pesantren identik dengan sosok kiayi yang senantiasa digadang-gadangkan oleh masyarakat sekitar, pun bagi seorang santri. Hal ini menandakan bahwa pemimpin maupun pemuka akan selalu jadi sorotan, baik gerak geriknya, ucapan,beserta fatwa-fatwanya . Dalam hal ini diharapkan seorang pengasuh/pimpinan pondok memberikan uswah dalam berkehidupan, yang sesuai dengan yang diperintah oleh Allah melalui RasulNya. Perkara ini tidak berhenti pada ranah pemimpin semata, akan tetapi juga seluruh warga pesantren yang ada didalamnya. Terhadap sesama santri, diharapkan tidak menebar virus yang menjauhkan diri terhadap perilaku-perilaku karimah dan mahmudah.

2. Dalam Latihan dan Pembiasaan (tadrib);
Kita ambil contoh, di Pondok Pesantren Darun Nun Malang, setiap minggunya senantiasa diberikan pembiasaan menulis tentang segala bentuk ungkapan-ungkapan dalam dirinya. Hal ini merupakan salah satu bi’ah yang disinyalir mampu menjadikan pribadi santri semakin terbentuk dalam menuaikan gagasan. Tentang bagaimana mereka menyampaikan apa yang ada di hati juga fikiran dengan cara-cara yang lebih ahsan. Berlatih dan berlatih dalam hal kebaikan, maka akan muncul kebiasaan baik yang teristiqomahkan.

3. Mengambil Pelajaran (ibrah)
Menjalani kehidupan dengan banyak kalangan dan banyak perbedaan latar belakang membuat seseorang mendapatkan berbagai tantangan baru dalam menempa diri. Baik itu secara langsung yang didapat melalui pembelajaran intensif, maupun pembelajaran tidak langsung saat menghadapi suatu hal. Namun jika kita percaya bahwa kita mampu mengemban hal-hal serupa, maka akan terciptalah sebuah karakter yang kokoh, tidak mudah putus asa, senantiasa tawakal atas segala sesuatu. Sebab Allah senantiasa menyelipkan ibrah dalam setiap apapun yang dilaui oleh umatNya, utamanya bagi santri yang notabenenya sedang menempuh jalannya Allah. Dan bagi siapapun yang mau mengambilnya maka ia akan beruntung.

4. Ketika Nasehat Datang (mauidzah);
Nasehat begitu sangat dibutuhkan bagi kaum santri dalam menunjang kehidupan yang senantiasa bergulir. Dalam setiap pengajian maupun pembelajaran pastinya selalu diselipkan . Dan bagi seorang santri yang benar-benar berniat menjadikan kehidupannya lebih baik, mengambil mauidzah inilah salah satu hal yang sangat harus dilakukan.

5. Menerapkan Kedisiplinan;
Dalam hal ini akan senantiasa dikaitkan dengan tanggung jawab. Seorang santri akan diuji kedisiplinannya melalui bagaimana ia mengemban tanggung jawab yang dibawa. Karakter disiplin akan membawa seorang santri menuju keteraturan hidup. Buatlah jadwal yang dimulai dari membangun kebiasaan bangun pagi tepat waktu, mendirikan shalat tahajud, hinga pada menjelang tidur.

6. Saat-Saat Mendapat Pujian dan Hukuman (targhib wa tahzib)
Dan yang terakhir, mengenai reward and punishment . Tentu hal ini tidaklah asing bagi kaum santri yang telah bertahun-tahun menjadi penduduk tetap pesantren. Bila hukuman mampu dipandang santri sebagai suatu hal yang menjadi koreksi diri, maka karakter berjiwa besar, mudah memaafkan diri sendiri. Sedangkan pujian dianggapnya sebagai motivasi diri. Tidak untuk terlena bahkan menggila pada diri sendiri.

Seorang kiayi berpesan kepada santrinya, “Kalau sudah menjadi santri, jangan lupa mengabdi”. Dari sini, santri diharapkan mampu mewarnai kehidupan bermasyarakat. Memakmurkan sendi-sendi kehidupan dari yang paling sederhana, hingga pada taraf yang lebih mendunia. Bagi siapapun yang mampu menduniakan image kesantrian yang sesungguhnya, tentu akan menjadi hal yang sangat patut diacungi jempol.

Dari tulisan pribadi ini dapat saya ambil garis bawah, bahwa mondok bukanlah tentang seberapa lama seseorang menjadi santri, akan tetapi sejauh mana karakter santri mampu melekat dalam diri, senantiasa menjadi bayangan yang menyerta dimanapun berada. Lebih dari sekedar predikat sholeh/sholehah, namun juga pada pembuktian guna mewujudkan karakter yang berakhlak luhur, kokoh dalam berkepribadian ahsan, serta unggul dalam intelektual dan kerohanian. Bersama kokohkan jati diri sebagai santri yang berkarakter unggul dan senantiasa berbenah dalam hidup dan berkehidupan melalui keenam pilar di atas.

Bagi penulis pribadi, hal ini juga bukanlah perkara mudah ditengah-tengah sekian banyaknya kekurangan dan ujian yang dihadapi selama menjadi santri. Harapan demi harapan senantiasa terpanjatkan agar mampu mengemban amanah, tanggung jawab, serta karunia dari Allah sebagai seorang santri, sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada orang tua dan kepadaNya kelak disana. Semoga.

Malang, 14 Agustus 2017
Pondok Pesantren Darun Nun

Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar