Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

LAMPU MERAH, TEROBOS!

Pondok Pesantren Darun Nun Malang


Oleh :
Nur Alfiyatul Hikmah

Saat itu, perjalanan di mulai dari arah malang raya menuju malang alun-alun, dengan motor bebek kesayangan ulfa, ia berjalan dengan kecepatan 60km/jam. Kecepatan ini dirasa oleh ulfa begitu pelan, dengan percaya dirinya ulfa melaju dengan cepat disetiap belokan, tikungan, mobil-mobil berjejeran ia lewati dengan kelihaiannya. Namun, ditengah asiknya mengendarai sampai-sampai ulfa melalaikan bahwa ada lampu peringatan yang memang harus dipatuhi kalau tidak memang sangat berbahaya. Disinilah apes ulfa alami, ia masih dengan santainya mengendarai motor bebek kesayangannya itu, saat berhenti bertanya kepada tukang parkir terkejutlah ulfa dikagetkan oleh suara seram sekali "Mbak, serahkan semua surat-suratnya dan ambil surat ini dikantor perempatan", ampun pak tadi tidak ada kesengajaan, mereka tanpa  menghiraukan ucapan ulfa lalu pergi dengan meninggalkan sepenggal kalimat sinis "Tahu kan! lampu merah harus ngapain", iya bapak kesalahan saya karena tadi terburu-buru untuk segera mendapatkan barang yang ingin dibeli, tak penting bagi mereka ditinggallah ulfa seorang diri.

Begitu bengisnya mereka, tak ada sedikitpun hati untuk ulfa. Ulfa merenung (memang saya yang salah tapi setidaknya mereka seharusnya berkata sopan dan bijak tak seharusnya mereka berbuat kasar kepada yang salah, tak bermoral). Renungan telah usai setidaknya ulfa sedikit lega dengan berkaca pada dirinya yang memang ada salah namun ulfa tak terima kalau ia diberlakukan dengan tindakan tak sopan tak bermoral. Huuufffttt...! rasanya ulfa ingin meluapkan amarah ini saat mereka berkata tadi dihadapan wajahku dengan mimik yang bengis amis. Melanjutkan perjalanan dengan tujuan pertama yang ia rencanakan sejak awal, memutari seluruh komplek pasar yang begitu besar demi kardus besar untuk memuat barangnya yang banyak di dalam kontrakan yang sempit untuk itu perlu diamankan agar tertata rapi.

Tengok kanan-kiri, atas-bawah pasar tak ada satupun toko yang menjual salah satu barang yang ia cari, bertanya kesana kemari kepada tukang parkir dan tak ada satupun yang tahu. hemmmm... ulfa mulai kelelahan sudah memutari pasar dengan sabar, tapi tak disangka-sangka salah satu petugas parkir yang memberi petunjuk agar ulfa menuju kesalah satu toko sembako, dan didapatinya sebuah kardus berukuran besar yang memang dari tadi dicari. Alhamdulillah! Ujar ulfa, akhirnya menemukan mu untuk kesekian kalinya berputar hingga mencapai 360 derajat. Ia teringat akan surat yang disita oleh petugas penegak hukum (katanya).

Menujulah ia ditempat yang memang sudah diarahkan oleh mereka salah satu penegak hukum, "Permisi, ini tempat pengambilan uang", ujar ulfa. "Ia mbak, silahkan masuk yang mengendarai didepan saja yang masuk", kata sipenegak hukum itu. Berdebar hati ulfa saat masuk ruangan itu, ia tak percaya diri, ia ragu akan dirinya sendiri. Untungnya ulfa mulai menata pikiran dan hati agar tetap tampak tenang didepan mereka. Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan ke ulfa semua sudah dijawabnya, untuk terakhir kalinya ulfa diberi pertanyaan "Mau diambil saat sidang berlangsung atau sekarang?", dengan tegas lantang ulfa meyatakan "saya ambil sekarang!". Alhamdulillah usai sudah semua urusan ulfa.

Pelajaran berharga yang bisa diambil yakni, tidak selayaknya sifat ulfa harus ditiru karena memang melanggar peraturan yang sudah dibuat dan penegak hukum tidak harus semena-mena pada mereka yang salah, ada cara lain untuk menegur dengan baik agar tak ada yang tersakiti satu sama lain.

Semoga Bermanfaat.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar