Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kepulan Asap Di Dapur Emak

Oleh :
Nur Sholikhah




Hari masih petang, sang rembulan pun masih bertengger di langit kelam. Suara kokok ayam jantan membelah sunyi, membangunkan para manusia yang terlelap dalam mimpinya. Mimpi yang entah sampai kapan akan berubah menjadi kenyataan. 

Jam  menunjukkan pukul tiga pagi, aku masih saja berselimut hangat. Namun tidak dengan emak, ia melawan rasa malas dan dingin yang menyeruak. Dengan mata yang masih terasa perih, emak berjalan sempoyongan menuju dapur yang catnya tak lagi berwarna. Dinding-dindingnya terlihat mulai rapuh dimakan usia, warna putih itu telah tergantikan dengan warna kuning kecoklatan hinga coklat kehitaman. Tidak hanya itu, warna tersebut juga sudah mengelupas di beberapa titik. Sebuah pertanda bahwa tempat ini menyimpan banyak kenangan dan peristiwa. 

Suara  sendok yang beradu dengan gelas kaca begitu jelas terdengar di telingaku. Itu pasti emak. Kebiasaannya sudah kuhafal sejak kecil, bangun tidur langsung menuju dapur. Tangannya yang keriput masih cekatan untuk membuat secangkir kopi di hari yang petang ini. Kata emak, kopi itu mampu menghilangkan rasa kantuk dan mampu menyegarkan kembali badan kita setelah bangun tidur.

“Nduk, bangun! Kamu ikut emak ke musholla tidak?” bisik emak sambil memijit kakiku. Aku memicingkan mata, lalu bangun dengan muka yang sungguh berantakan. Ku sibakkan selimut, adikku terlihat sudah mengenakan mukenah kesenangannya.

Kami adalah keluarga kecil yang kata orang begitu harmonis, rumah kami tidak seluas rumah para tetangga, namun bagi kami sudah cukup untuk menampung kami berempat. Bapakku seorang insinyur desa yang terkadang berpindah profesi menjadi pedagang. Sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang dulunya pernah memiliki profesi sebagai buruh cuci pak RT. Seiring berkembangnya teknologi, jasa cuci itu tidak lagi diperlukan karena sudah ada tangan-tangan canggih yang lebih mahir darinya; mesin cuci.

“Nduk, tolong kamu cuci beras itu ya!” kata emak yang sedang berusaha menyalakan api di tungku. Ia tata kayu bakar dengan ranting-ranting kering dan beberapa lembar kertas yang sudah tidak terpakai. Asap mulai mengepul, semakin tebal dan tidak lama kemudian muncullah sepercik bayangan merah di dalam tungku.

Emak sudah mahir, ia terbiasa melakukannya sejak kecil. Ia tahu bagaimana cara menata kayu, ranting-ranting kering dan potongan kertas agar dapat menghasilkan api dengan cepat tanpa asap yang terlalu tebal. Aku juga sering disuruh emak untuk menyalakan api di tungku, namun sering kali aku gagal. Asap yang ku hasilkan begitu tebal dan terkadang sampai membuat pedih mata ini. Meski begitu, emak tak pernah memarahiku.

                                                                           ***                          
            “ Kapan kamu pulang?” Tanya seorang teman dekatku. Aku hanya menggelengkan kepala. Lalu diam dan merenungkan kembali pertanyaan itu.

            Kapan aku pulang? Aku sendiri tak tahu. Hatiku masih ragu, fikiranku belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Aku enggan bertemu dengan bapak dan emak. Sudah tiga bulan lebih aku tak pulang, tinggal di kota orang sebagai anak perantauan yang mencari rupiah hingga harus merelakan mimpi besarku. Bapak dan emak secara tidak langsung telah membangun benteng yang kokoh untuk mengahalangi mimpi itu. Mimpi yang telah aku bangun sepanjang siang dan malamku. Semua itu hancur seketika saat emak berkata,

 “Sudahlah nduk, kamu cari kerja saja. Kuliah itu cuman buat anak orang yang berduit.”

Aku hanya mampu diam saat itu, wajahku tertunduk, badan ini terasa lemas. Aku meninggalkan emak di dapur dan melangkah pergi ke kamar. Betapa sakit hati ini mendengar perkataan emak, kenapa emak tidak yakin padaku?. Anakmu ini sudah dewasa, umurnya tak lagi di bawah 15 tahun. Aku sudah bisa memasak nasi sendiri, aku juga sudah bisa menyalakan api di tungku tua itu.

Aku menangis sejadi-jadinya, apa salahnya jika aku punya impian untuk melanjutkan pendidikanku? Jika emak tidak mengizinkan hanya karna alasan keterbatasan ekonomi, di luar sana sudah banyak beasiswa bagi anak orang yang tidak mampu sepertiku. Bagaimana dengan alasan bapak? Bapak hanya diam saat aku mengutarakan keinginanku. Ia enggan menjawab pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya.

“Aku mau cari kerja vi.” Kataku pada Silvi, sahabat karibku sejak SMP. Aku berkunjung ke rumahnya untuk sekedar berbagi cerita. 

“Kerja bareng aku aja ya? Mau tidak?” ekspresi wajahnya terlihat begitu senang. Tangannya dengan segera memegang tanganku. Pertanda bahwa dia sangat berharap aku menganggukkan kepala.

“Dimana?”

“Di kota orang.”

Beberapa hari setelah pertemuan itu, aku dan Silvi berangkat menuju sebuah kota besar. Di kota ini terdapat banyak lapangan pekerjaan, bangunan pabrik berdiri leluasa mengepung kota, mal-mal besar pun tak kalah megah, tak heran jika kesempatan kerja di kota ini sangat besar apalagi untuk anak desa yang seperti kami. Kini, sudah 3 bulan lebih aku tinggal di sini, meninggalkan kampung halaman beserta mimpi yang pernah aku bangun di sana. 

Di suatu sore saat matahari baru saja tenggelam, aku merebahkan diri di tempat tidur. Betapa terasa lelah tubuh ini, 8 jam bekerja untuk menyambung hidup dan membangun mimpiku kembali. Terlintas sejenak wajah emak, bayangannya ketika ia memijit pundakku saat pulang sekolah, mengajariku menyalakan api di tungku, merawatku saat aku sakit. Tiba-tiba aku merasa ingin pulang, mencium tangan bapak dan emak sembari meminta maaf pada mereka.

Dering telpon berbunyi, mas Anton memanggil. Dia adalah saudara sepupuku. Segera ku angkat telepon itu. Tanpa basa-basi mas Anton mengabarkan kalau emak sedang sakit. Sudah 2 hari emak tidak mau makan. Katanya emak kangen denganku. Tak terasa air mata hangat ini merembes di pipi. Semua bayangan tentang emak semakin terlihat jelas di mataku. Wajahnya yang teduh, tangannya yang mulai keriput, suaranya yang lembut, semua tergambar jelas dan membuatku semakin sesak. 

Aku teringat saat emak mengajariku menyalakan api di tungku, meski asap tebal itu telah membuat matanya perih, namun ia masih sabar menasehatiku. Dia telah mengajarkan aku bagaimana pentingnya kesabaran untuk bisa mempertahankan hidup ini. Seperti saat kita berusaha menyalakan api di tungku tua itu. Kita harus sabar dan tetap sabar meski asap tebal membuat mata dan hati ini perih. Inilah kehidupan.

Emak, aku akan pulang. Kan ku nyalakan api di tungku tuamu, aku ingin memasakkan nasi juga air hangat untuk kau mandi. Aku janji, kepulan asap itu tidak akan lagi membuat mata dan hatimu perih. Percayalah, aku akan mematuhi semua intruksimu, menata kayu bakar dan kertas atau daun-daun yang kering di dalam tungku.







Malang, 20 Oktober 2017
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar