Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kalau Jatuh Cinta...

Hasil gambar untuk jatuh cinta
Oleh Ninis Nofelia

Jatuh cinta. Siapa yang tak pernah merasakannya? Setiap insan memiliki naluri untuk merasakannya. Seperti yang dirasakan kaum muda pada umumnya, terlebih bagi yang berusia beranjak remaja. Ketertarikan dengan lawan jenis membuat banyak perubahan dalam hidupnya. Baik dari segi  ekonomi, pendidikan, sosial sampai spiritual, hehe. Seperti menemukan kebingungan tersendiri dalam hidupnya. Senang karena merasakan cinta, tapi sekaligus susah karena tak tahu harus berbuat apa.
Jatuh cinta itu wajar dan tak bisa disalahkan. Yang menyebabkan ia bersalah atau tidak adalah tergantung pada pengungkapannya. Bagaimana ia mengekspresikan rasa “kejatuhcintaannya” terhadap seseorang ia jatuh cintai. Dengan cara mengajaknya berpacaran atau berani mengajaknya menikah segera.  Disinilah peran ilmu dan iman dalam diri seseorang bekerja. Yang mana kedua unsur penting itu mampu menjadi pengendali penting dalam dirinya.
Berpacaran. Ekpresi cinta yang satu ini rasanya hampir sering digunakan para kaum muda yang beralibi belum mapan segala macamnya dan  juga merasa dalam  masa proses penjajakan. Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Karena ia merasa belum memiliki penghasilan yang cukup untuk menafkahi, belum memiliki rumah untuk dihuni, belum memiliki ini dan itu untuk dinikmati. Sehingga berpacaran menjadi pilihan yang cerdas untuk hubungan cinta yang paling aman. Ya aman dari tuntutan pasangan, aman dari kewajiban menafkahi, aman untuk mencari yang baru setelah bosan melanda, hehe. Yakin untuk mengambil cara aman ini? Apakah sanggup menjamin aman dari murka-Nya? Padahal Allah telah mengingatkan kita dalam surat cinta-Nya,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”  (QS. Al Israa :32)
Mendekatinya saja tidak boleh, apalagi terjun payung di dalamnya. Sudah diwanti-wanti bahwa mendekatinya saja adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk. Karenanya, gimana kalau kita ambil jalan yang paling nyaman? Ya nyaman saat berada dalam pelukannya kasih sayangnya, nyaman saat menatap teduh wajahnya, nyaman saat menerima nafkah darinya, nyaman saat memasakkan masakan terenak untuknya, nyaman membesarkan putra-putri bersamanya, Nyaman berbagi kebahagiaan dengannya. Nyaman berburu pahala bersamanya. Aah... senangnya...
Semakin baper menuliskannya, hehe. Cara ternyaman itu telah Allah kabarkan dalam surat cinta-Nya,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum  yang berpikir” (QS. Ar Ruum :21)
Jalan cinta dari-Nya untuk para hati yang dilanda cinta, menikah menjadi penawarnya. Sebagaimana firman Allah dalam kalam suci-Nya,
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ  
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah yang akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui” (QS. An Nuur: 32)

                Untuk yang masih belum mampu, bagaimana solusinya? Sedangkan hati menggebu untuk meraihnya. Ups.. Yuk banyak-banyak berdoa, semoga Allah senantiasa menjaga diri kita dari berbuat tak selakyaknya dan membuat-Nya murka. Menjaga pandangan juga berpuasa insyaa Allah menjadi penolongnya. Sebagaimana sabda nabi Saw.,
“Wahai generasi muda, barangsiapa diantara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa  belum mampu, hendaknnya berpuasa sebab ia dapat mengendalikanmu” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
Daripada baper nggak ketulungan, yuk, kita isi penantian kita dengan menyibukkan diri untuk berprestasi dan banyak memberi kontribusi. Saat kita sibuk memperbaiki diri insyaa Allah si dia juga mengimbangi, karena jodoh adalah cerminan diri. Jadi, dimana posisi kita sekarang? Dan keputusan apa yang kita ambil? Semoga Allah ridha ya...

Wallahualam bishowwab
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar