Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Bukan Lagi Wedhang Jahe

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Siti Fathimatuz Zahro'

Pada tanggal 29 September aku bersama kelompok tugas, menghadiri acara pemutaran film G30S. Sebelum berangkat aku membayangkan bahwa disana akan ada suguhan wedang jahe. Mungkin akan membuat suasana semakin hangat dan lebih terasa akan masa sejarahnya. Jumlah penonton yang membludak karena saking penasarannya dengan sejarah ini juga tergambar jelas dalam benak ku. Bisa dikatakan bahwa hal ini masih kali pertama aku alami.
Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya kami sampai. Namun aku kecewa. Sungguh kecewa. Imajinasi ku terurai. Tak ada suguhan wedhang jahe dan tak ada penonton yang membludak. Jauh dari angka 200 jumlah saksi sejarah malam itu. Anak-anak yang dapat dikatakan hanya mampir, dan sisanya terisi oleh remaja tanggung dan dewasa. Aku berjinjit. Mengintip siapa gerangan penonton sejak awal. Kekecewaan ku semakin bertambah tatkala aku tau pengisi bangku depan adalah muda-mudi penyedia fasilitas. Inilah yang akan menjadi sejarah masa nanti.
Adegan demi adegan tayang. Masuklah pada klimaks. Tatkala dimana para pemangku negara diundang untuk menemui ajal. Taukah kau siapa yang bertandang datang malam itu? Itu rakyat mereka. Kawanan mereka. Satu tanah satu bendera. Para tentara pembela tanah air yang entah mengapa berbeda visi dan misi. Sungguh mengerikan. Aku bergidik. Ku tutup kan ransel ku saat itu. Hanya aku yang bertingkah seperti itu. Bagaimana dengan pemirsa? Diam!!! Iya...mereka diam. Entah sulit berekspresi atau hatinya telah mati.
Aku penasaran. Mengapa mereka diam. Apakah diamnya tersirat bahwa mereka tak tau harus berkata apa dan bagaimana. Semoga saja bukan hatinya yang benar-benar mati. Aku menilik kebelakang. Aahh, itu dia. Seorang bapak-bapak berusia kisaran setengah abad mungkin. Dengan celana pendek dan jaket parasut mendekap sembari bersandar pada sebuah tiang. Aku luapkan apa uneg-uneg ku, bagaimana tanggapannya akan film tersebut. Aku bersyukur ketika beliau mengatakan bahwa pemutaran film ini bagus. Hal itu menjadikan semua rakyat tahu bagaimana sejarah negaranya berdiri, bagaimana perjuangan keras mengiringi kokohnya pertahanan. Lebih gembiranya aku saat beliau mengatakan bahwa beliau mengetahui siapa-siapa nama tokoh dan siapa-siapa yang memerankannya. Tidak!!! Sejarah ku tidak mati. Aku salah. Negara ku masih bernafas.
Ku usaikan malam ku saat itu. Mimpi ku indah malam ini. Wedhang jahe ku tergantikan akan hidupnya sejarah. Itu lebih berharga. Wedhang jahe ku mungkin akan habis. Tapi tidak dengan sejarah ku.


Malang, 02 Oktober 2017
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
www.darunnun.com

Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar