Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RISALAH LIR-ILIR


(oleh     : zahra sumayyah)

Mataku mengerjap. Sisa begadang semalam meninggalkan rasa perih yang lekat dimataku.  Kopi yang dibuat mamak mengepul di sudut meja bertaplak biru disamping abah, asapnya mengisyaratkan bahwa ia masih terlalu panas untuk disesap. Mataku menyapu sekitar. Di pojok atap rumah, derkuku milik mas Mukri bersiul-siul tak jelas dan terdengar fals semenjak ia ditinggal mati pasangannya. Mungkin saja ia mulai tak waras.
Abah menutup buku Serat Gatholoco yang sedari tadi dibacanya, matanya yang syahdu menerawang langit yang semburat samar.
“ Manusia iku kudu ngerti hakikat kemanusiaannya ” ucap abah tiba-tiba.
Aku mengucek mata sebentar sambil menatap abah dan perut gendutnya yang sekarang juga sedang menatapku.
“Maksudnya Bah?” tanyaku penasaran. Pasalnya Abah tidak mungkin hanya sekedar berucap jika kata-kata itu tidak benar-benar penting untuk diucapkan.
“Kamu tau bagaimana poro Sunan menyebarkan Islam di tlalah Jawa ini?” aku yang anak zaman edan dan zaman gadget ini menggeleng perlahan.
“ Dulu, poro Sunan itu menyebarkan islam ke tanah Jawa dengan cara yang santun dan sesuai dengan tradisi masyarakat kala itu, ndak mekso” ungkap Abah. “Salah satu caranya adalah dengan menggunakan tembang dolanan” Abah menghentikan tuturnya.
“Maksudnya Bah?” tanyaku penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaanku Abah malah mulai mendendangkan salah satu lagu anak-anak yang dulu pernah akrab ditelingaku tapi kini menjadi bait-bait asing yang samar.
 Lir ilir- lir ilir- lir ilir
Tandure wes sumilir
Tak ijo royo-royo
tak sengguh temanten anyar
cah angon- cah angon penekno blimbing kuwi
lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro
dodot iro-dodot iro kumitir bedah ing pinggir
dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
mumpung padhang rembulane
mumpung jembar kalangane
podo surak o… surak iyoo
Kanjeng Sunan Kalijaga yang meengarang tembang ini” Abah menatapku.
“ Tapi kan ini hanya lagu permainan anak-anak biasa Bah?” tanggapku polos.
“ Salah, ada filosofi kehidupan yang besar dalam tembang dolanan ini” jawab Abah.
“ Nggih to Bah? Apa itu?” Aku beringsut mendekati Abah.
 Abah menghela nafas panjang sambil menutup matanya seakan ia tidak ingin melewatkan sepatah katapun untuk disampaikan. Akupun membuka mata, hati dan fikiranku siap mendengarkan dan memahami makna dari filosofi kehidupan manusia. Bahkan derkuku Mas Mukri yang sedari tadi manggung-manggung tak jelas mendadak terdiam. Dunia seakan senyap. Angin enggan menyemilirkan pucuk-pucuk gembrot yang menjalar manis di bebatuan. Si Srinthil yang sedari tadi mengeong kesakitan karena borok barunya juga mendadak diam. Hanya gadget pintar ku yang seakan tak peduli tetap bertingtung-tingtung setiap kali ada pesan masuk akupun membungkamnya dengan paksa. Sekarang sempurna.
“ Aku siap menjadi manusia” gumamku kala itu. Dan Abah pun memulai kisahnya
“Konsep dakwah para wali itu adalah memposisikan agar manusia merasa butuh dengan agama. Bukan menjejalkan agama apalagi mekso kanthi nesu-nesu, iku salah. Wali itu mengerti manusia tidak akan membuka hati dan fikirannya untuk memahami kecuali sebelum mereka merasa butuh. Maka ketika hendak mengajarkan kehidupan pun kanjeng Sunan begitu. Tembang ini diajarkan kepada anak-anak, ya hanya sekedar tembang ndak langsung ndakik-ndakik dalil. Baru setelah sekian lama orang-orang mulai penasaran dengan makna dari tembang itu mereka mendatangi Kanjeng Sunan. Melihat masyarakat sudah mulai antusias dan butuh barulah Kanjeng Sunan menjelaskan makna sebenarnya dari tembang lir ilir” Abah menghentikan petuahnya menyesap kopi pahitnya yang mulai dingin.
 “ Lir ilir-lir ilir ayo kabeh podo tangi. Bermakna bahwa hidup bukanlah tempat untuk istirahat. Sebagian kaum arifin berkata bahwa dunia dalah tempat untuk sakit, bekerja, dan berusaha sedangkan akhirat adalah sebaik-baik peristirahatan. Tandure wus sumilir tanaman telah tumbuh subur. Tanaman yang dimaksudkan dalam bait ini adalah tumbuhan padi yang telah mulai tumbuh. Menggambarkan saat manusia masih remaja ketika semangat dan kekuatan masih berelasi sempurna. Bermakna bahwa manusia-manusia muda janganlah terlalu sering bersandar apalagi berbaring, bekerja keraslah. Tak ijo royo-royo, tak seengguh temanten anyar bait ini menggambarkan peluang mereka laksana dedaunan yang masih hijau dan semangat mereka laksana temanten baru maka tidak ada alasan bagi mereka untuk diam dan egla-egle. Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi bocah angon iku kudu wong kang sabar, kuat, ngemong lan nduweni ati kang resik. Hewan – hewan itu terkadang lebih peka daripada manusia mereka hanya bisa lulut kepada manusia berhati sehat. Blimbing, dudu blimbing buah tapi blimbing wuluh, zaman dahulu masyarakat jawa sering menggunakan blimbing jenis ini untuk mencuci noda pada dodot-dodot mereka atau pada panci dan piring. Dadi wong enom iku harus memiliki sifat-sifat terpuji dan berusaha sekuat tenaga untuk dapat meraih alat pencucian diri dan hati yakni ilmu syariat hingga hakikat” Abah kembali menyesap kopinya yang sekarang telah benar-benar dingin. Derkuku Mas Mukri masih diam saja. Si Srinthil sudah hilang sedari tadi ketika suaminya datang menjempunya. Sedangkan aku masih terpaku dengan sosok bijaksana didepanku.
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodot iro, bermakna meskipun untuk mencapai hakikat kehidupan dan ilmu Allah itu lunyu, tidak mudah kadang terpeleset dan jatuh tetaplah berusaha. Untuk mbasuh dodot iro yakni pakaian raga dan batinmu. Dodot iro- dodot iro kumitir bedah ing pinggir, pengulangan bermakna peringatan perhatikan rogo lan batinmu – rogo lan batinmu! Ketika kau perhatikan kau akan menemukan cacat disana kau akan menemukan kekurangan disana. Dondomono jlumatono, maka setelah menemukan kekurangan itu benahilah! Dan jangan berhenti sampai disitu setelah kau benahi teliti lagi apakah masih ada kurang dan cacat jangan berhenti berbenah. Kanggo sebo mengko sore, maksudnya adalah sebagai persiapan menghadap Allah ketika telah sampai pada penghujung kehidupan kelak. Agar kita pantas disebut sebagai hamba-Nya, jeru nduk.. jeru..” Abah menyelesaikan sesapan terakhir pada wedang kopinya. Matanya terpejam dalam.
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, mumpung ono kesempatan, mumpung ono sehat mumpung ono kaya, mumpung guru-guru sik akeh. Semangat belajar lan ngamalno ilmu mumpung lahan khidmah sik jembar. Semangat nyuceni ati, membersihkan raga dan batin. Iku kabeh filosofi bait lan pengajaran Kanjeng Sunan Kalijaga ing tembang lir ilir.. kadang-kadang mikir iku ojo mung nggawe dhengkul wae, kolo-kolo nggawe ati” Abah mengakhiri petuahnya, beranjak meninggalkanku yang masih terdiam.
Matahari telah sempurna menyinari punggung bumi. Matahati telah sempurna mendewasa. Kearifan budaya mengajariku bagaimana bergerak lebih luwes dan bagaimana seharusnya aku berjalan. Tiba-tiba gairahku bangkit, telingaku mendengungkan semangat, mataku menyapu langit, bibirku mngucap lirih, “Berjuang, belajar dan bermanfaatlah!”.
  
 Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar