Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

RESENSI CERPEN " PERAHU KERTAS YANG TAK TAHU KEMANA HARUS PULANG"

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Oleh :
Intani Sholihah Hafizatul Husna

Identitas Cerpen :
Judul cerpen : Perahu Kertas Yang Tak Tahu Kemana Harus Pulang
Pengarang : Ayun Qee
Tentang Pengarang :
      Ayun Qee adalah nama pena dari Qurratul Uyun. Gadis asli jember, yang sekarang tinggal di Yogyakarta. Ia adalah gadis yang menyukai pantai dan ingin memiliki sebuah cottage di tepi pantai. ia memiliki salah satu mimpi yaitu menjadi Owner travel Agent.

Sinopsis :
           Sekar adalah seorang gadis rantauan yang rindu akan kenangan masa kecil di kampung halamannya. kampung halaman yang asri dan penuh dengan hamparan sawah. Dimana ia biasanya bersama bocah-bocah yang lainnya berlari kesana sini tanpa beban, tertawa riang dengan begitu membahana.Ia bahkan sering kali menghabiskan waktu di sungai kecil yang berfungsi untuk mengairi sawah.Disana jua ia sering membawa selembar kertas yang ia robek dari buku tulisnya, yang kemudian ia bentuk sedemikian rupa menjadi sebuah perahu kertas, yang kemudian ia biarkan mengikuti aliran sungai menuju parit-parit kecil di sisi pematang.Hingga suatu ketika ibunya mengetahui kebiasaan buruknya yang selalu merobek buku tulisnya untuk membuat perahu kertas sehingga membuat buku tulisnya cepat habis.
           Namun, hal indah itu hanya menjadi kenangan belaka. Ia harus meninggalkan kampung halamannya karena akan segera digusur, dan ia harus pindah ke jember. Sejak saat itulah ia merasakan sakit hati layaknya kehilangan kekasih. Bagaimana tidak? Sejak ia lahir sebagai bayi merah dari rahim Ibu nya hingga tumbuh menjadi bocah yang gemar bermain di sawah, lalu beranjak remaja dan dewasa, semua ia lalui di kampung itu. Karena baginya, tak ada yang mampu mengganti kenangannya dengan materi. Semua kenangan di kampung halaman itu adalah metamorfosis dari cinta seorang gadis kepada tanah kelahirannya. Cinta pertama yang ia bangun jauh sebelum ia mengerti rasanya jatuh cinta kepada seorang lelaki selain ayahnya.
     Sobat, tahukah kamu apa itu perahu kertas? perahu kertas itu adalah lambang seorang anak yang merantau, lepas dari orang tuanya. Apakah perahu kertas juga rindu pulang? Layaknya ia yang selalu rindu akan kampung halaman beserta kenangannya. Yah tentu saja, setiap yang pergi pasti merindu pulang. Tapi terkadang seseorang tak pulang bukan karena tak tahu jalan atau bagaimana caranya pulang, melainkan tak tahu ke mana harus pulang. Seperti sekar yang kini hanya tinggal di pulau rantauan, ingin pulang ke kampung halaman namun ditempat itu siapa yang harus ia temui? Rumahnya yang dulu? warung pecel milik ibunya? atau bahkan pusara ayahnya yang kini telah rata dengan tanah? Tak ada sama sekali yang bisa ia temui, tempat itu kini telah datar.
      Hendak pulang ke mana jika kampung halaman telah tenggelam? Bahkan genting rumahnya tak lagi kelihatan. Kalaupun ia mengunjungi kampung halaman, rumah dan hamparan sawah di belakangnya tak akan pernah ia dapati lagi. Memang akan ia cium aroma lumpur, tapi bukan lumpur sawah yang dulu kerap mengotori bajunya seperti dulu, melainkan lumpur panas yang terus menyembur dan menenggelamkan kenangan. Entah sampai kapan.

Analisis unusur instrinsik : 
Tema : Anak rantauan
Latar : Di kafe, di rumah.
Alur : Maju - mundur (Campuran)
Tokoh : Sekar, Alan, ibu.
Watak Tokoh : 
       Sekar : Baik, penurut, perindu kenangan.
       Alan :  Baik, perhatian.
       Ibu :  Baik, pekerja keras.

          
Sudut pandang : Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama.

 Analisis unsur ekstrinsik
Nilai moral : Sejauh apapun kita melangkah, namun tetaplah tempat yang paling nyaman adalah dirumah.
Nilai sosial : Menghargai keputusan orang tua demi kebaikan.
Nilai Budaya : Menghormati orang tua

Kekurangan & kelebihan.
Kekurangan : Dalam penyampaian ceritanya terlalu datar, sehingga membuat para pembaca tidak terlalu terbawa kedalam cerita tersebut.
Kelebihan : Penggunaan bahasa dalam cerita pendek ini sederhana sehingga membuat pembaca mudah memahami maksud dari tulisan/cerpen tersebut
 
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar