Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Panggilan Subinah

 
Oleh:
Nur Sholikhah 

Rambutnya terurai panjang nan semrawut diterpa angin lembut yang menyapa pagi. Pakaian lusuh membungkus tubuhnya yang semakin hari kian mengurus. Kuku-kukunya dibiarkan memanjang untuk mencakar dinding-dinding yang telah rapuh dimakan oleh rayap-rayap kelaparan. Entah apa yang menjadi beban hidupnya? Bukankah dia tak memiliki beban hidup seperti manusia yang kehilangan akal pada umumnya? Sudah hampir seumurku dia menggila, sejak kehidupan rumah tangganya dirundung duka. Suaminya berubah, tak lagi memberi rupiah kepadanya. Begitupun dengan nafkah batin untuk dirinya. Ketiga anaknya pergi merantau ke pulau seberang dan tak pernah kembali. Mungkin mereka menganggap dia sudah tiada, terkubur tanah bersama kegilaannya.

Terkadang ia mampu tersenyum, terkadang ia mampu tertawa, terkadang juga berbicara dengan makhluk-makhluk abstrak. Kebiasaan itu merupakan hal yang biasa yang tak perlu pembiasaan. Masyarakat sekitar membiarkan ia asyik menikmati dunianya. Ketika ia merasa lapar, ia pergi ke rumah tetangga tanpa mengetuk pintu. Masyarakat yang merasa iba memberinya sesuap nasi dan selembar pakaian, tak lupa minuman bening sebagai pelepas dahaga. Ada pula orang yang menghardiknya, mengusirnya dan memakinya. Ia pergi tanpa membalas manusia itu, pergi berjalan pelan kembali ke gubuknya yang gelap.

“Jangan kamu ganggu anakku!” teriaknya saat aku bermain di halaman depan rumah. Aku menoleh ke arahnya dengan rasa takut. Takut dia akan mengejarku dengan membawa senjata yang tak ingin ku sentuh. Matanya menatapku dengan tajam dan ternyata benar, di tangan kanannya membawa sebuah clurit yang dipakainya untuk ngasak kacang tanah di sawah sebelah. Aku siap berlari menjauhinya, menghindari sesuatu yang kutakuti terjadi.

“Jangan bunuh anakku! Beraninya kau cabik-cabik dia didepanku!”. Sorot matanya semakin tajam. Clurit di tangannya sudah siap meluncur. Aku berlari sekencang-kencangnya, dia mengejarku tanpa ampun. Aku telah mencabik-cabik anaknya, Oh tidak aku hanya bermain pasaran seorang diri. Apa yang terjadi selanjutnya? Aku pun tak tahu dan tak bisa menerka.

Aku terus berlari menerobos semak belukar di kebun samping rumah. Aku ingin menuju 2ke ibuku yang sedang memanen cabai disana. Langkahku terhenti, aku menoleh ke belakang. Tak ada siapapun yang mengejarku. Nafas ini tersengal-sengal, kakipun mulai terasa kram. Apakah aku terlalu cepat berlari? Sehingga ia tak bisa menyusulku? buktinya tak ada siapapun yang mengejarku. Apakah dia menghilang bersama ingatannya? Bahwa apa yang dia lakukan membahayakan nyawaku dan yang ku cabik-cabik bukanlah anaknya, melainkan bunga-bunga yang telah layu. 

Ah sudahlah, kejadian ini begitu aneh bagiku. Aku kembali ke halaman rumah dengan rasa was-was yang membekas. Tak ada siapapun disana, kemanakah ia perginya? Ku tengok gubuknya yang reot itu, gubuk yang hanya berjarak 2 rumah dengan rumahku. Gubuknya tetap saja gelap meski sinar mentari telah lama bertengger di langit. Jendela dan pintunya tertutup rapat seolah memang tak ada tanda-tanda kehidupan disana. 

Aku bergumam, “Ah mungkin dia tadi tidak jadi mengejarku, ia lebih memilih kembali pulang ke gubuknya untuk melakukan pekerjaannya. Memasak makanan untuk suaminya yang akan pulang sore hari nanti, menemani anak-anaknya belajar mengeja huruf-huruf hijaiyah. Atau mungkin ia lebih memilih mengolah kacang tanah hasil asakannya tadi pagi untuk dihidangkan saat keluarganya menonton televisi.” Oh tidak, kehidupan yang normal itu telah hilang 15 tahun yang lalu. 

***

            “Nduk, akan ku ceritakan padamu tentang dia, budemu. Namanya Subinah. Dia dulu adalah orang normal sama seperti kita. Dia cantik dan kulitnya putih. Bapakmu adalah adik kesayangannya. Dia menikah di usia belia, 16 tahun. Seorang lelaki telah memiliki hidupnya. Awal pernikahan, rumah tangga mereka begitu harmonis. Ketiga anaknya tumbuh dengan sehat”. Ibu terdiam sejenak sambil memberi makan ayam-ayam kecil yang berlarian girang. 

“Hingga suatu ketika, rumah tangganya mulai dirundung banyak masalah. Suaminya tidak bekerja dan anak-anaknya mulai merantau mencari rizki di kota orang, ada pula yang ikut suaminya ke luar pulau. Kehidupannya benar-benar sedang diuji. Sebagai ibu rumah tangga ia berpikir keras untuk mempertahankan kehidupannya. Hingga di suatu pagi ia mengamuk seperti orang kerasukan. Ia melempar benda-benda yang ada dirumahnya ke dinding. Ia mulai mengancam kedamaian masyarakat sekitar karena tindakannya yang tak terkendali”. Kembali ibu terdiam, mungkin mengingat kembali cerita yang telah lama terkubur bertahun-tahun silam.

“Dia pernah tinggal di rumah sakit jiwa, namun karena keterbatasan biaya ia tidak bisa dirawat lama disana. Bapakmu dan saudara-saudaranya bergantian merawatnya. Dia sering merasa kesepian, anak-anaknya tak ada lagi yang peduli dengannya. Suaminya meninggal 2 tahun setelah ia mulai gila”.

Hanya itu kisah yang ibu ceritakan padaku di suatu sore. Ketika dia, budeku Subinah sedang sakit di gubuknya. Sebuah tumor telah bersarang di pahanya. Badannya yang kurus itu semakin terlihat seperti tulang yang terbungkus kulit. Hati ini terenyuh melihatnya, dia yang pernah mengejarku dengan membawa clurit lalu tiba-tiba menghilang, dia kini terkapar lemas tak berdaya. Ia sakit bersama rasa sepi yang menjelma. 

“Shodik, Atik, Ragil”. Berkali-kali ia memanggil nama ketiga anaknya. Namun mereka tak kunjung datang memenuhi  panggilan ibunya. Apakah mereka tuli? Atau pura-pura tak mendengar dan tetap sibuk dengan dunianya. Berhari-hari budeku tetap saja begitu, memanggil nama anak-anaknya dengan suara lirih, namun di hatinya dia berteriak karena jarak antara dia dan mereka sangatlah jauh.

Akhirnya, dia tak mampu lagi memanggil. Suaranya berat dan perlahan-lahan menghilang bersama hembusan nafasnya yang terakhir. Bibirnya tertutup rapat, begitu pula kedua matanya. Jemarinya lemas tak mampu lagi menggenggam semua kenangan. Kenangan itu kini jatuh berkeping-keping. Tak ada lagi tangan yang mau menadahi, karena kenangan itu begitu lembut dan meyesakkan. Dia membiarkan kenangan yang dia miliki terurai bersama rasa sepi yang bertahun-tahun telah menguhujami. Menghujam hati yang gelap dan akal yang tak sehat.   





Pondok Pesantren Darun Nun
PERUMAHAN BUKIT CEMARA TIDAR F3 NO.4
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar