Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Menimbang Gajah Di Pelupuk Mata



Picture : Elephants on the Eye 


                                                                                             Pict Source: https://prab-prab.deviantart.com




"Salah.e akeh ning bener.e yo ora setitik, dadi uwong kudu wicaksono oleh.e nimbang pikir sebab lan akibat.e... cek ora ngawur oleh.e mbiji"



Membuka beranda dengan dijejal pernyataan yang demikian. Sebuah akun grup yang senantiasa terikuti setiap harinya, hingga tak terasa menjadi suguhan harian di pagi hari. Walau terkadang hanya diam dan menyimak, namun terkadang diri ini ikut terjatuh dalam empati. Empati terhadap permasalahan yang bersinggungan dengan hal-hal yang tajam seperti berbau perselingkuhan,hingar bingar kehidupan dan sejenisnya.

Kali ini tentang pernyataan bergaris miring itu yang lantas anggota tersebut meminta pendapat anggota yang lain. Kecenderungan diri yang gemar menganalisis problematika ibu-ibu, remaja maupun kalangan lain tak lantas pasif dalam mengetahui adanya pernyataan anggota yang katanya diungkapkan oleh mbah sepuhnya itu. Biasa lah, mbah-mbah sukanya berdawuh hal yang sejatinya filosofis, namun terkadang masih sulit dipahami oleh nalar kawula muda. Demikian dengan yang lain, berbagai statement anggota bermunculan, beratus-ratus komentar datang, namun kurasa begitu singkat untuk menafsirkan makna yang sejatinya bisa saja bermakna luas. Akupun menghela nafas panjang dan mulai mencari-cari keyboard. Jika yang lain telah berpendapat seperti itu maka aku menuangkan perspektifku sendiri. Aku sendiripun tidak sepenuhnya merasa bahwa kebenaran ada dalam perspektifku ini, namun setidaknya tetap kucoba menafsirkan. Kurang lebih begini,

Seseorang itu terkadang kerap memiliki ksalahan dalam dirinya,
Namun bukan berarti ia tidak memiliki nilai kebajikan dalam keseharian,
Menjadi manusia haruslah bijaksana dalam mempertimbangkan sebab akibat atas keputusan maupun pilihan yang akan diambil,
Baik dalam hal menentukan sikap, memutuskan jawaban, maupun memilih seseorang, dan sebagainya,
Lakukanlah dengan tidak semena-mena mengikuti nafsiah diri dalam menilai hingga memutuskan, karena nantinya semua itu akan berpengaruh dan kembali pada diri kita sendiri..

Kesimpulannya, jangan gampang menjudge orang semau kita, sekeluarnya apa yang kita rasakan seketika.. karena setiap orang yang di mata kita maupun di mata orang lain terkesan buruk, pastinya orang tersebut masih memiliki sisi kebaikan yang dapat kita ambil hikmah di dalamnya, bahkan terkadang tidaklah sedikit hikmah yang dapat diambil. Manusia memiiki kekurangan kelebihan, juga tempat salah dan khilaf. Berupaya untuk berprasangka baik jauh lebih utama..

Niki namung mnurut pmahaman saya.. pngapunten jika terdapat kkurangan dan ksalahan..

Pesannya mbah jnengan sgguh luar biasa..
 

Kuakhiri pesan tersebut dengan terus memantau pendapat-pendapat lain yang terus berdatangan. Lantas beberapa menit kemudian sang threat starter menanggapi apa yang kuimbuhkan dalam postingannya.
Ia pun membalas,


Jan sakti tenan, matur nuwun sanget pun dicerahaken. 

Akupun sebatas nyengir. Teringat betul tentang apa yang ada di kehidupan ini. Berkehidupan akan selalu membawa seseorang menghadapi lelaku orang lain yang entah memberikan pengaruh maupun tidak dalam hidup kita pribadi maupun orang lain. Sampai disini saja karena diri inipun sejatinya memang belum pantas memberikan label A, B, C, pada 'produk' ciptaan Maha Gusti Allah. Maka dari sini saya tidak akan berlebar-lebar memberikan fatwa bahwa kita harus begini dan begitu. Silahkan menimbang sendiri terhadap lakon yang anda temukan di keseharian. Lalu timbanglah yang pas, sesuai dengan kaidah normatif dan agama. Kemudian tanyakan pada diri sendiri, pantaskah jika saya memberikan penilaian seperti itu?
Ujung dari segala ujung pertimbangan, bilamana mengacu pada yang sudah-sudah maka jangan heran jika kita akan dipertemukan pada satu kata ajaib bernama Khusnudzon. Selamat menimbang.



Malang, 19 September 2017


Indah Nurnanningsih
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar