Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KREATIFITAS SEORANG IBU




By : Siti Khoirun Niswah

Pada hari libur kuliah  saya bersama teman saya mengunjungi sebuah pondok Tahfidzul Quran. Awalnya kita berdua hanya sekedar mengantar makanan dari pondok kami. Setiba di pondok tersebut, saya sangat terharu mendengar dua putri kecil masih berumur 2 dan 4 tahun sudah bisa membaca Al-Quran dengan sangat fashih benar makhroj dan panjang pendeknya. Saya heran kenapa, karena di daerah saya anak berusia 2 tahun baru bisa bicara dan itupun masih mengeja. Terkejut lagi yang berumur 4 tahun sudah mulai menghafal Al-Baqoroh juz 2. Hati saya meleleh saat mendengar suara anak kecil itu melantunkan ayat-ayat suci. Dalam hati saya berkata, subhanallah bagaimana jika sebagian besar masyarakat bisa mendidik anak-anaknya seperti itu, awal kali yang diterapkan dalam potensi anaknya adalah Al-Quran. Hati saya terus bertanya bagaimana cara atau metode yang digunakan oleh orangtua sehingga anak seumur mereka bisa membaca dan menghafalkan Al-Quran. Saya merasa tidak sabar untuk mewawancarai  ibu yang mengajarkan baca Al-Quran itu.
Dengan berbesar hati, ibu itu bersedia diwawancarai dan hasil wawancara itu dapat saya ambil poin-poin penting. Beliau adalah seorang alumni dari pondok pesantren as-salafiyah Bangil Pasuruan, beliau adalah santri penghafal Al-Quran. Setelah lulus menjadi santri, beliau melanjutkan kuliah dengan jurusan PGRA. Beliau mulai mempelajari cara mendidik anak sejak dari pondok pesantren. Karena di pesantren baliau seorang pengurus, dimana setiap harinya menjadi pengurus santri-santri yang umurya masih dibawahnya. Pendidikan awal yang didapat oleh seorang anak adalah dari orangtuanya. Semenjak didalam kandungan ibu itu terus mengaji, murojaah dan membaca kitab berbahasa arab, hoby membaca dan mendengar yang berhubungan dengan Bahasa arab baik al-quran, hadist, murrotal, ataupun sholawatan. Karena menurut riset, psikologi seorang ibu saat hamil akan membawa dampak terhadap  anak yang dikandungnya. Apabila anak dalam kandungan dimasuki suara-suara indah, anak akan menyukai hal-hal yang baik. Lalu pada saat lahir,seorang bayi paling peka dengan suara dan menirukan apa yang diucapkan oleh orang disekitarnya terutama ibunya, jadi kewajiban seorang ibu adalah memberi masukan suara-suara indah terhadap anaknya.

Menurutnya seorang anak yang masih kecil labil untuk menerima bahasa, alangkah baiknya anak yang masih kecil difokuskan dalam satu bahasa terlebih dahulu, kemudian apabila sudah menginjak usia sekolah, baru seorang anak akan berkembang dengan sendirinya bersama lingkungan sekolah yang ia tempati. Dua anak kecil beliau ini belum masuk TK namun sudah bisa membaca Al-quran dan menulis huruf-huruf arab. Bahasa berbicara yang digunakan didalam keluarga  juga sangat mempengaruhi anak kecil. Ibu harus mampu mendidik anaknya mulai dari bahasa yang ia gunakan. Karena anak kecil mudah sekali menangkap dan meniru apa yang ia lihat dan ia dengarkan. Dari situlah seorang ibu harus berhati-hati dalam berbicara. Ibu dari dua peri kecil ini setiap hari berbahasa jawa karma inggil dengan suaminya. Hasilnya, kedua anak ini pun bisa berbicara dengan orang lain menggunkan bahasa karma inggil.

Seorang anak mampu membaca Al-Quran apabila orangtua juga mengajarkan Al-Quran. Seperti yang dinyatakan tadi, seorang anak kecil mampu fokus dalam satu bahasa. Pernyataan itu beliau dapatkan semasa kuliah tentang psikologi anak. Dari situlah, setiap hari saat mulai bisa berbicara, ibu terus mengajarkan membaca al-quran. Awalnya hanya mendengarkan, setiap kali ibu mengaji selalu mengajak anak-anaknya menyanding kedua anaknya disebelahnya lalu membaca dengan suara yang keras agar kedua anaknya bisa mengikutinya. Saat memasak,menyapu, menyuci, setiap waktu apapun ibu itu selalu mengingatkan ayat-ayat Al-Quran  dan hal ini sudah menjadi kebiasaan. Untuk  pembenaran makroj, beliau lakukan saat jam belajar anak kecil yakni setelah magrib. Setelah magrib beliau mewajibkan anak-anaknya untuk belajar makhroj-makhroj huruf al-quran dan menulis huruf-huruf hijaiyah,caranya pun seperti mengajar anak TK. Awalnya huruf alif, huruf yang paling mudah ditirukan, lalu huruf-huruf bengkok seperti tsa’,ta’,ba’ dan nun dan seterusnya, hal ini beliau lakukan semenjak kecil dan hal ini sudah menjadi kebiasaan. Jenjang sekolah TK awal yang diajarkan menulis adalah mengenai garis tegak lurus, miring dan selanjutnya menyusun kotak, segitiga dan lain sebagainya. Jadi, beliau terapkan sendiri kepada anak-anaknya dirumah. Sekarang, kedua anaknya sudah bisa menulis huruf-huruf arab walaupun belum masuk sekolah TK. Beliau merasa anak-anaknya tidak kalah dengan teman sebayanya, walaupun belum lancar berbicara bahasa Indonesia dan belum lancar juga terhadap sesuatu yang berhubungan dengan angka. Namun beliau tidak khawatir karena itu akan dapat dipelajari sedikit demi sedikit saat masuk sekolah formal.

Selanjutnya pembelajaran tentang akhlak, akhlak seorang anak tercermin dari pengajaran seorang ibu. Ibu merupakan orangtua yang paling dekat dengan anaknya. Apapun yang dilakukan atau diucapkan seorang ibu pasti ditirukan oleh anaknya. Selain megajarkan bahasa yang baik, ibu juga harus mengajarkan moral dan kesopanan. Apabila ada tamu, kedua anak ini langsung ulur tangan untuk mengajak berjabat tangan. Memang ibu ini sengaja belum memasukkan anaknya di sekolah play group ataupun TK. Karena sudah menjadi kewajibannya untuk mengasuh dan mendidik anak-anaknya itu,sebelum seorang anak hormat kepada gurunya, beliau tanamkan agar seorang anak hormat dan berbakti kepada orangtuanya. Maka dari itu beliau didik sendiri kedua anaknya sampai anak-anak ini benar-benar menghormati orangtuanya.  Cara ibu mendidik ini membawa dampak baik bagi anak-anaknya karena memang tujuan orangtuanya itu adalah mengajarkan Al-Quran, memfokuskan Al-Quran pada usia anak masih kecil. Apabila sudah benar-benar Al-Quran dikuasai saat sudah masuk sekolah formal, beliau menginginkan anak-anaknya memfokuskan pada ajaran pemahaman kitab-kitab salafiy. 

Semua hal yang dilakukan oleh orangtuanya membawa dampak yang baik, anak masih kecil bisa membaca dan mampu menghafal Al-Quran, sopan dan ramah, mampu menulis tulisan arab. Namun dai beberapa cara tersebut, ada beberapa kekurangan yang dialami kedua anaknya tersebut. Karena keseringan di bekali soal Al-Quran, kedua anak ini kurang menguasai ilmu perhitungan dan kurang bisa berbicara dan menulis dengan bahasa Indonesia. Tulisan arab selalu dimulai dari kanan, sementara tulisan Bahasa Indonesia selalu dari kiri ini bertolah belakang bagi seorang anak. Akhirnya kedua anak ini bisa menulis huruf-huruf abjad namun mereka memulainya dari kanan. Sang ibu pun tidak khawatir, karna sedikit-demi sedikit pasti bisa. Karena seorang anak akan terus berkembang jika orangtua mampu mendidik anak-anaknya dengan benar.
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar