Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

A.A Navis Kucing Gubernuran


Judul                     : Kucing Gubernuran
Peresensi            : Zahra
Pengarang          : A.A Navis
Sumber                                : Kumpulan Cerpen Bertanya Kerbau Pada Pedati
                Seperti biasa, A.A Navis dalam cerpennya selalu memberikan sentilan-sentilan cerdas baik yang bersifat politis maupun sosial. Karyanya juga senantiasa memberikan wilayah tafsir bagi pembaca. Amanat yang ingin ia sampaikan adalah semua yang dapat ditangkap oleh pembaca. Nilai moral yang ingin ia sampaikan adalah semua nilai yang dapat diambil oleh pembaca. Cerpennya selalu sarat akan makna sosial, kejiwaan, hingga religius yang dikemas dalam bingkai realitas dan apa adanya.
                Dalam novelnya kali ini, A.A Navis menyinggung dan menyoroti tentang maraknya praktik korupsi pada masa itu. Dimana kantor-kantor gubernuran telah menjadi sarang koruptor yang diibaratkan sebagai tikus. Telah banyak cara dilakukan untuk memberantas praktik korupsi yang merajalela akan tetapi berbagai upaya tersebut tidak membuahkan hasil, malah membuat praktik ini semakin bebas dan terang-terangan. Akhirnya seseorang mengusulkan agar memlihara kucing saja agar tikus-tikus menjadi takut. Kucing yang dimaksud disini adalah KPK atau badan hukum yang fokus terhadap masalah KKN. Usul itupun dijalankan dan memang benar tidak ada lagi tikus yang berani muncul di istana gubernuran. Akan tetapi dampak negatif lain muncul. Kucing-kucing itu semakin hari semakin malas saja bekerja. Mereka mulai malas-malasan dan membengkakkan dana APBD Negara dengan rongrongan atas tuntutan fasilitas mereka. Mereka juga mulai kurang ajar dan menjadi miskin norma dan etika. Ditambah tingkat pertumbuhan mereka yang makin pesat,  pemilik kucing-kucing itupun menjadi jengkel. Akhirnya datang seorang pengusaha lalim yang tak peduli dengan negeri sendiri menawarkan untuk memlihara seekor kucing persia, mungkin kucing ini di ibaratkan sebagai tenaga asing yang dipekerjakan di dalam negeri. Entah bagaimana caranya tiba-tiba selepas pak gubernur dan istrinya pulang dari luar negeri untuk memenuhi suatu undangan mereka dapati kucing-kucing pribumi itu telah lenyap berganti sepasang kucing parsi. Mereka disingkirkan dan dibuang. Gubernur yang merasa bersalah selalu terbayang-bayang akan kesalahannya kepada kucing-kucing itu. Gubernurpun jatuh sakit. Para dokter berkumpul demi membehas penyakit yang diderita oleh gubernur mereka akhirnya memutuskan untuk membawa gubernur ke luar negeri. Namun sebelum hasil seminar itu disampaikan, gubernur itu keburu meninggal.
Unsur Intrinsik
Tema                     : Politik
Latar                      : tempat seminar, istana gubernuran.
Alur                        : flash back
Tokoh                   : Banda, Aku, Tikus, Kucing, gubernur, istri gubernur, pengusaha, kucing pers, profes
Sudut Pndang    : orang ketiga serba tahu
Amanat                               
·         Berhati-hatilah dalam menjalankan amanat negara
·         Hindarilah praktik KKN
·         Jangan terlena dengan jabatan sehingga melupakan tugas
·         Hindari campur tangan asing untuk kesejahteran bersama








 Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar