Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

DIALOG DUA RUMPUT MASJID



Dyah Ayu Fitriana
Aku benar-benar terkejut. Sore ini kulihat dua batang rumput masjid sedang menertawakanku.
"Lihatlah ia, betapa kasihan. Sedari tadi berpikir keras. Namun kata yang diketik nya sendiri sudah berulang kali ia hapus." rumput berwarna kekuningan itu tertawa lagi. Ia tak tahu jika aku mendengarkan tawa keringnya itu, sekering tubuhnya yang tak pernah terguyur hujan.
"Kau tau apa yang ia pikirkan?" cibir rumput kurus di sampingnya. Ia seperti tak peduli angin menerpa tubuhnya yang pipih dan ceking itu.
"Apa?"
"Ia ingin menulis sesuatu yang istimewa, yang setidaknya ada satu dua orang pembacanya berdecak kagum. Untung-untung jika bisa masuk koran atau majalah sembarang."
Sampai di sini telingaku terasa begitu geli. Ingin aku melangkah mencabut dua rumput yang sangat menjengkelkan itu. Untung saja hatiku menghalaunya. Bisa aku bayangkan jika mereka menjelma menjadi manusia, akan ada dua ibu-ibu rempong yang hobi mencibir teman-teman pkk nya.
Matahari menyembunyikan diri, lalu entah dari mana ia membawa pasukan langitnya pelan tapi pasti mengguyur dua rumput tadi. Aku curiga hujan kali ini adalah sebuah mantra yang mampu menghidupkan kembali kenangan dan mimpi yang sudah lama pergi.
"Sejujurnya aku rindu." katanya kali ini sambil menatapku.
"Dan aku yakin ia juga." sahut lainnya.
"Ia tak perlu menuntut jemarinya agar secerdas otaknya. Otak bisa menyampaikan banyak hal yang logis, sistematis, dan pembuktian kecerdasan. Namun ia tak memiliki cukup keceriaan , kejujuran dan keluwesan seperti yang jemarinya miliki."
Kami bertiga membisu, seakan hujan beserta dinginnya memang benar-benar merapalkan mantra yang membuat kami tercekat. Hanya sekelompok pohon bambu yang berani bersuara. Ia mendendangkan gending-gending Jawa. Penawar segala penat dan kekacauan jiwaku. Aku tersenyum memandang dua rumput masjid yang basah kuyup. Satu hal yang pasti, ada seseorang di dalam diriku yang harus segera kupanggil kembali. Aku harus mengajaknya bermain layang-layang ketika hujan telah reda nanti. 
Pondok Pesantren Darun Nun
Perum BCT Malang
Ditulis di Pelataran Masjid SMKN 13 Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar