Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Sandal Jepit

Pondok Pesantren Darun Nun Malang


Pesan Tersirat: Tanggung Jawab itu penting
Oleh : Nur Alfiyatul Hikmah

Malam puncak perayaan HUT RI ke 72 ri RT 03, yang diselenggarakan dilapangan bunderan perumahan yang sekarang mutia tempati. Pada saat menghadiri acara ini dengan teman-teman yang lainnya mutia merasa terhibur dengan penampilan serta suguhan yang telah disediakan oleh panitia. Ditengah-tengah keramaian mutia memperbicangkan suatu penampilan yang sedang berlangsung dengan teman disampingnya.

Mutia : ehh.. lihat deh keren banget ya penampilan adek-adek kecil. Masih kecil sudah jago main sepatu roda
Robi’ah : wah iya mbak, keren sekali. Aku saja belum tentu bisa. Palingan baru coba sepatunya sudah jatuh duluan. (tertawa terbahak-bahak)
Mutia : (tertawa dengan bahagianya) oh iya ya rob kamu kan emang kelebihan berat badan.
Robi’ah : iya mut, bajuku sampe gak muat semua. (tersipu malu)

Penampilan sepatu roda telah usai kini dilanjutkan dengan penampilan sepatu roda anak-anak dengan didampingi pelatih. Si mutia dan robi’ah histeris dengan pelatih yang keren luar biasah.
Robi’ah : hadududu... pelatihnya gemesin ya mut. (sambil memegang tangan yang ditempelkan di pipinya)

Mutia : waduh rob, iya ya.. sayang ya sepertinya dia umurnya dibawah kita. (ketawa sambill menepuk pundak robi’ah)
Robi’ah : ya gak apa-apa lah mut hiburan semata “gemesh gemesh gemesh deh” (melototin mata tanpa berkedip melihat pelatih yang tampil didepannya).

Usai sudah penampilan kali ini, kini panitia mengajak para hadirin dan undangan untuk menyantap hidangan yang sudah panitia siapkan untuk para hadirin dan undangan. Sembari membagikan makanan panitia meminta grup perkusion menampilkan aksinya. Dengan begitu semangatnya grup perkusion menampilkan aksinya si rabi’ah dan mutia kelaparan menyantap makanan yang telah diberikan panitia. Menyantap sambil diiringi perkusion mereka berdua memulai perbincangan yang amat serius.

Mutia : mut mut lihat deh kayaknya aku bisa yah punya grup perkusion seperti didepan itu (sambil tangan menunjuk kearah perkusi)
Robi’ah : iya mut boleh boleh (menganggukkan kepala sambil memakan makanan)
Mutia : bagaimana kalau kita kerjasama saja rob? 
Robi’ah : wuah ide bagus ini mut.! (kepala menengadah keatas membayangkan sesuatu)
Mutia : ayo deh kita kembangkan didesa kita, nanti paling banyak yang suka. Satu kali penampilan kita mintai saja 50rb. Gimana rob? (menepuk bahunya)
Robi’ah : idemu bagus sekali, tapi terlalu murah deh kalau 50rb per penampilan. Grup drum band ajah dirumahku hampir 200rb per penampilan. Masak yang perkusi 50rb.
Mutia : wuah lumayan ya. Ayo kita coba kembangkan deh bersama. (senyum sambil membayangkan punya uang banyak)

Khayalan keduanya semakin menjadi-jadi saja ya. Tapi kita doakan saja semoga terwujud. Amin. Nah semua pertunjukan dan penampilan sudah ditampilkan, dilanjutkan dengan pembagian hadiah dan dorprise berhubung si mutia dan robi’ah serta teman-teman bukan asli warga rt 3 mereka pun bergegas pulang. Saat pulang si robi’ah kebingungan mencari sandal yang tadi ia pakai tapi waktu pulang sandal yang tadi ia pakai ternyata sudah tidak ada. Sungguh kasihan sekali nasib robi’ah. Sesampai dipondok robi’ah terkaget dengan wujud sandal yang sudah berada di rak sandal.

Robi’ah : nah loh ini kan sandalku. Kok sudah ada disini (garuk-garuk kepala)
Mutia : ya rob siapa dong yang pakai sandalmu.
Robi’ah : aku gatay mut siapa yang pakai (kebingungan sambil mencuci kaki yang kotor akibat tidak memakai sandal)
Mutia : dengan tegasnya mutia menanyai satu per satu santri, namun tak seorang pun yang tau.

Setelah dicek alhamdulillah sandal robi’ah ketemu, ternyata sekarang yang tidak ada di rak sandal justru sandalnya si mutia. Kagetlah dia.

Mutia : loh loh loh kok sekarang malah sandalku yang ndak ada rob (mrengut mecucu)
Robi’ah : loh mut aku tadi lihat sandalmu di samping karpet kita duduk.
Mutia : lah kok bisa ada disana toh mut (mulai memerah wajahnya)
Robi’ah : ya aku ndak tau mut. Coba kamu sekarang kesana cek sandalmu. (mendorong mutia)
Mutia : ndak ah (mondar mandir)
Robi’ah : mumpung belum larut malam mut.
Mutia : duh siapa sih yang sudah pakai sandal tapi ndak dibawa pulang (tanduk mulai keluar dari kepala mutia).
Robi’ah : wes toh mut kamu kesanao sekarang. (mengelus punggung mutia)
Mutia : iya deh tak kesana (sambil ngomel-ngomel “kok bisanya pakai sandal orang tanpa ijin pula pakainya malah ditinggal disana merepotkan orang saja. Siapapun pelakunya semoga dapat hidayah dan bertanggung jawab dalam hidupnya”)

Ocehan mutia berhenti setelah sandalnya ia ambil di acara yang tadi ia hadiri bersama teman-temannya. 

Untuk menenangkan dirinya mutia mengambi wudhu lalu ia melaksanakan ibadah sholat.

Tanggung jawab itu penting , tanamkan tanggung jawab sejak dini terhadap anak-anak kita agar terus terbawa sampai dewasa nantinya.

www.darunnun.com
Share on Google Plus

About Darun nun

PP Darun Nun adalah pondok yang berada di Kota Malang, sebagai sarana penguatan akidah, penyempurnan akhlaq, dan tempat untuk menggembleng menjadi penulis yang baik.

0 komentar:

Posting Komentar