Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Dia Lelakiku


Source: google.com



Dia lelakiku,
lelaki yang melamarku, yang mengucap akad di depan paman-pamanku. Hingar bingar pernikahan terasa syahdu, masa tunggu yang tak lebih lama dari penantian antara ramadhan satu dengan berikutnya nan begitu mengundang rindu. Malam ini, ketika Sebuah jenis aroma yang menguar dari bantal yang pernah kita tiduri mengecap lidahnya bercerita tentang dongeng masa lalu. Mengantarkan malam syahdu memeram rindu. Malam ini aku tak dapat tidur, mataku lelah, namun hati gundah, tenaga tak lagi bersisa untuk bercengkerama bersama kegelapan malam. Sebuah makhluk bersemayam dalam tubuh memaksa untukku mengeluh pada alam. Sensasi tak nyaman seringkali menjadi alasan untuk menyebutnya sebagai kesakitan. Layar handphone mengabarkan pusat malam sedang bergelimpangan, memaksa mata tak lagi berdaya, pukul 02.15. Aah! Aku tak tahan. Raungan yang kutahan membangunkan lelaki di sampingku dengan keresahan yang tergambar jelas dari matanya. “kenapa dek? Masih sakit?” “iya mas. Aku gak bisa tidur. Ini sakit sekali” “mas buatkan air hangat ya, buat kompres perutnya” “enggeh mas” Tak lama, bayangan lelaki itu memberi kabar bahwa dia dengan botol air hangatnya telah siap meringankan lilitan perutku. Pukul 04.30, aku mulai sanggup tidur, merasakan kelelahan dan kenyamanan. Ketika hari telah terang “mas, ayo ke puskesmas. Aku khawatir” Benar saja, janin yang bersemayam dalam pelukan kulit dan dagingku terus berteriak tak nyaman. Suatu tindakan operasi harus dilaksanakan demi kelangsungan generasi penerus kami berikutnya. Aku tak takut dengan jarum ataupun segala pernak-perniknya. Aku hanya tak rela jika harus berpisah dengannya yang telah kujaga 3 bulan terakhir. Ibu tak ada di sampingku, hanya ada lelaki itu. Hanya dia peredam segala kekalutan. Dia sungguh sekuat kaki ibuku, tak sedikitpun nampak air mata menghias wajahnya meski kutahu dia pun terluka. Tak peduli berapa banyak yang menghibur, berkata baik, “sabar mbak, pasti ada hikmahnya. Suatu saat akan diganti, semoga segera dikasih titipan lagi ya”. Mungkin pada mulanya ketika dia meninggalkan tubuhku, ada sedikit perasaan lega karena aku tak lagi harus tersiksa dengan segala kesakitan itu. Namun tak dapat kupungkiri betapa sesal menghujam begitu dalam, mengisi malam-malam dalam kesendirian. Tak ada lagi rasa dingin, atau apapun selayaknya malam. Malam tak lagi mau menyapa dengan kelembutan, semua terasa hambar. Hanya kegelapan dan penyesalan, betapa aku tak dapat menjaganya dengan baik. Betapa bodohnya diri ini, hingga dia tak lagi dapat tahan bersama tubuh ibunya. Aku ibunya, meski hanya untuk 2 bulan. Nur Wahid, begitulah ayahmu menyebutmu. Kau anak pertamaku yang gagal kupertahankan. Ku kira ini semua hanya candaan dunia, ku kira akan mudah menghadapi semua seperti yang selama ini telah terjadi. Namun hati ini yang katanya ikhlas nyatanya masih saja menangis, tak mampu mengusir penat demi mata agar tenang terpejam. Betapa yang dapat memahami penyesalan sosok ibu seorang. Biarpun musik keras berdendang mengabarkan keceriaan, hambar tak lagi dapat menguarkan setitik senyuman. Hanya air mata penjawab segala rasa. Dia lelakiku, makhluk indah yang tak banyak bercakap ketika mulut ini tak berhenti berucap. Berkelit dengan nasib, membuncahkan emosi terkesan tak sabar dengan ajaran Tuhan. Ketika musim hujan telah sampai dipelupuk mata, rengkuhan hangatnya memaksa syaraf tuk berucap “tak apa, ini hanya sementara,kau akan lebih bisa menerima, entah besok atau lusa semua akan baik-baik saja”. Kedunguan dan kerasnya emosiku tak lagi tajam seiring ketulusan yang dia siramkan perlahan setiap waktu. Inikah yang kuidamkan? mengapa aku dipertemukan dan dipersatukan dengan makhluk semacam dirinya? Bentuknya tak indah, benar namun dia memiliki warna yang sempurna. Dan yang terpenting dia manusia. Makhluk misterius dengan segala nafas Tuhan yang dinampakkan dari perangainya. Mengapa ada pernikahan? Mengapa Tuhan memilihkan dia untuk merengkuh separuh jalan hidupku? Ada apa dengan diriku yang tak mampu menolak tawaran Tuhan, hingga kami dipersatukan. Tak ada kalimat romantis selayaknya kisah percintaan di novel-novel remaja. Tak ada wangi kasturi nan sempurna. Aku tahu diri ini banyak luka, aku tahu dia tak sempurna. Tapi bukankah ini sepadan dengan kurangnya kemanusiaanku? Tuhan tak pernah salah menempatkan kemampuan sebagaimana kotaknya. Jika saja kerinduan adalah alasan yang paling tajam tuk berjuang, mungkin aku tak harus menikahinya untuk menghadapi dunia, cukup dengan merindukannya dan menikmati segala rasa bahagia itu sendiri. Namun apalah arti manusia tanpa cinta? Bagai laut yang tak punya rasa. Aku manusia yang ingin merasakan ketenangan jiwa, tentu saja dengan cinta, materi, kenyamanan, perlindungan dan kasih sayang. Beruntung, Tuhan memilihnya untuk menemaniku, untuk itu kubahagia dia memilih diriku untuk dirinya. Kuharap Tuhan akan selalu memeluk erat dan mencurahkan segala cintanya demi kami para penyembahnya. Karena aku ingin Dia, itu saja.
 

 Amanatul Mubtadiah
Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar