Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Beginakah Dunia Dewasa?



Oleh Rofikatul Islamiyah

Sang Mentari begitu menyilaukan, sinarnya tak lagi menghangatkan terasa menghanguskan pada setiap pori-pori yang tertransmisi. Tak heran, jarum jam memang menujuk pada sudut 1800 lebih. Suara adzan berkumandang, menandakan istirahat untuk yang sedang mencari ilmu, nafkah atau lebih tepatnya waktu untuk merefresh iman bagi para muslim.

Talita seorang santri yang berada di sebuah pondok. Pondok yang tak begitu besar tapi in syaa Alloh berkarakter, berinspirasi, berwawasan juga berdakwah. Pondok Talita tak jauh dari masjid umum, sehingga dia bersama santri yang lain bisa dengan mudah berjamaah disana. Seperti saat ini watunya sholat sholat dhuhur. Selesainya Talita bertemu dengan beberapa anak kecil, yang tak lain adalah anak dari jamaah masjid. Mereka bertiga, saudara kandung. Di luar masjid begitu panas, Talita sejenak memperhatikan mereka, bercanda, berlarian dan sesekali berteriak.

"Aku rindu hal seperti itu, ketika kita kecil hanya ada keceriaan dan kejujuran. Saudara adalah saudara, tapi kenapa saat beranjak dewasa kita menjadi asing satu sama lain. Lebih mudah terbuka dengan sahabat. Lebih nyaman dengan kawan. Bahkan tak jarang kita lebih memilih untuk chating dengan para teman daripada ucapkan apa kabar adek/kakak?" Dalam lamunan Talita.

Karena masjid mulai sepi Talita kembali ke pondok, melewati lorong alami, kanan kiri terdapat pepohonan dan sawah membentang meski tak begitu luas, namun sudah menyejukaa. Apa lagi disaat matahari begitu terik. Dalam perjalanan itu, di bawah sinar matahari yang membantu proses fotosintesis membuat Talita semakin menikmati lamunannya. Ya lamunan tentang kenapa dan bagaimana keadaan yang dialami harus berubah. Tak ada jawaban, tapi tetap saja dia terjebak dalam lamunannya. Semakin panjang, semakin rumit dan berakhir pada keterpurukan hati yang terasa menyat. "Mulai kapan kita menjadi begini? Ah tak sadar, kenapa juga kita menjadi asing dalam keluarga? Mungkinkah karena perpisahan dari jalan yang kita pilih masing-masing?? Tapi bukankah jika kita bertemu seharusnya saling bercerita, tentang apa saja yang kita lewati masing-masing? Tapi apa yang terjadi. Kita membisu. Lagak manusia-manusia yang memiliki batasan untuk berinteraksi? Ah itu tak ingin ku rasa, tapi apa? Faktanya kita bagai orang asing yang dikumpulkan dalam satu ruang. Lebih sepi dari pada para antrian di klinik yang memang tidak boleh bersua. Apakah memang begini kehidupan dewasa?? Atau apa karena aku yang dewasa di kota, kamu di desa dan kalian di gunung??

 "Mungkinkah kita munafik?? Atau cuman aku saja yang munafik. Aku benci, benci pada diri ini yang keluar dari desa itu. Aku merindukan kebersamaan disana. Namun, sesekali aku kembali dan saat bertemu terasa begitu tak menyamankan. Kaku. Beku dan dingin. Hingga rumahku tak lagi terasa surga. Saat jauh seperti ini, ingin rasanya kembali. Ah, asal kalian tahu. Aku tak ingin disini, aku ingin bersama disitu. Tapi dalam keadaan yang seperti dulu. Ngobrol hal penting dan tak penting tanpa ada batasnya. Tanpa batas, tanpa sekat. Bukan seperti jumpa pers yang setiap kali omongan harus di ajukan dengan pertanyaan. Aku ingin setiap kali mau terlelap kita bercerita hal-hal yang telah terlampaui. Tapi apa, kembali pada realita. Kita asing. Keluarga tapi asing. Satu atap tapi beda visi dan misi. Satu ruang tapi beda jalan. Salah siapa jika begini? Asuhan? Atau taqdirnya memang begini?"

Bruk...

"Neng kalau jalan jangan sambil ngelamun, untung saya pelan. Coba kalau ..." Suara seseorang yang sedang mengendarai motor.

"Eh, maaf bang. Maaf" tersadar dari lamunannya.

Sang pengendara pergi dengan sewotnya.

"Ah, dimana ini? Blok C? Aduh. Salah jalan lagi". Gumam Talita.
"Apakah begitu parah retaknya keluargaku? Atau semua keluarga juga seperti ini?" lanjutnya.

Jika di film-film keluarga yang terasa asing sebab perpisahan dan perbedaan pergaulan oleh mereka-mereka yang di besarkan di kota. Tapi kali ini? Dia yang tinggal di kecamatan malah menjadi lebih acuh dari mereka yang berjuang di kota untuk menghidupi diri? Faktor apa lagi ini? Adakah rumus sikologinya? Atau masih belum ada penelitian dan kasus yang serupa? Jika Talita ingin jawaban dari semua unek-unek nya, mungkinkah ada yang dapat menolong? Talita yang ingin kembali pada kehangatan keluarga tapi keluarga yang selalu mengatakan "sudahlah, kamu hidup di sana aja. Di sini tak baik, lebih baik hidup sendiri dengan demaian dari pada bersama dengan pertengkaran dalam lingkar keluar besar". Adakah yang bisa membantu?? Jika anak orang kaya kekurangan kasih sayang orang tuanya, itu sudah kasus yang banyak ditemukan. Namun kali ini, orang yang ingin bersama tapi tak bisa. Orang-orang yang sederhana, berjuang sendiri, selalu rindu peluk keluarga tapi keluarga selalu merasa lebih baik si dia hidup jauh dengan alas an dalam keluarga besar sudah tak lagi surge, tapi malah jalan menuju jurang kebencian. Ya, mungkin mereka tak pernah tahu betapa sepi dan hampanya kehidupan ini? Bukankah siksa yang mematikan adalah sepi?

"Apa diantara kita tak ada kemistri sebab masa kecilku bersama nenek, besar di pondok dan dewasa di kota?" Tapi "bukankah saudariku juga lebih asing dariku meski kalian hanya dipisahkan oleh periode pondok?". Ah, pikiran ini masih menyitaku. Gerutu Talita.

Talita gadis dusun yang dewasa di kota, merindu kehidupan bersama keluarga yang ternyata kini telah jatuh berubah. Keluarga besar yang dulu Talita tinggalkan adalah keluarga yang saling mendukung, salin melindungi dan saling menyayangi. Tapi saat Talita kembali kini menjadi keluarga yang asing, acuh bahkan tak jarang sindiran-sindiran yang sama sekali Talita tak merasa. "Apa yang salah dari halamanku? Kenapa jadi begini? Jika memang ada masalah, haruskan aku terkena getahnya? Bukankah kalian sangat tahu, aku sudah lama meninggalkan halaman. Aku yang tak mengerti apa yang terjadi. Aku yang perih di luar sendiri harus juga merasakan kepedihan saat bersama".

Rasanya dunia tak lagi punya sudut untuk kehangatan. Tak ada tempat yang menyamankan. Tak lagi ada insan yang bisa memeluk dengan kasih sayang. Surga itu kini terasa jumbatan menuju neraka. Hanya Sejuknya udara, indahnya pemandangan dan jernihnya air sungailah yang tak berubah dari desa dari Lereng itu.

Tak jarang pertanyaan ini muncul “Ta, kamu tidak pengen pulang ta? Ini libur panjang loh?” atau “Udah berapa lama kamu tidak pulang Ta?”. Tak ada yang tak ingin pulang. apalagi saat titik jenuh mulai merasuki. Menjelma menjadi diri yang haus akan pendengaran, pelukan dan dukungan. “Aku meang ingin pulang, tapi… perasaan tidak nyaman saat terahir pulang membuat rasa ingin itu keok. Ya, aku takut dengan kenyataan bahwa halamanku sudah menjadi ladang pertempuran. Aku yang tam mengerti dengan jelas apa yang terjadi menjadi mahluk yang paling bingung saat berada di antara pertempuran itu. Terserah dunia mengatakan aku pencundang sejati yang lari dari peperangan. Tapi aku benar-benar tak memiliki keberanian untuk menghadapinya. Aku kebingungan. Aku tak tahu apa yang harus ku lakuakan. Hanya bersembunyi di negeri rantaulah yang sedikit memberiku hidup dala nyata tapi kalud dalam jiwa”.

Setibanya di pondok Talita langsung merebahkan diri, memejamkan mata dengan maksud melupakan semua yang telah menyita kefokusannya selama pulang dari masjid.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar