Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Jeritan Sepi

Oleh:
Nur Sholikhah



Terkadang aku merasa iri dengan mereka, bisa tidur di tempat yang nyaman dan terlindung dari panasnya matahari dan dinginnya air hujan. Sedangkan aku, hanya mampu berkeliaran kesana kemari tak tahu arah karena semua tempat bagiku terasa sudah tiada rasa. Kadang aku benci, kenapa aku diciptakan seperti ini, liar dan tak terurus bahkan ayah dan ibuku tega pergi meninggalkanku. Aku seorang diri, meski terkadang aku bertemu dengan salah satu teman, tapi mereka semua seolah acuh dan tak mau peduli denganku. Bahkan hanya sekedar berbagi makanan saja, tidak.
Aku berjalan pelan tanpa arah, perut ini sudah terasa sangat perih, kakiku berat dan ngilu karena tadi pagi di pasar kakiku terinjak oleh salah satu pedagang ikan. Pedagang tersebut mencaci lalu mengusirku. Padahal aku hanya ingin meminta sedikit belas kasihan darinya. Ah, sungguh malang nasibku. Aku hanya bisa pasrah dan aku yakin bahwa tuhan itu maha adil dalam mengatur rizki untuk semua makhluk ciptaan-Nya termasuk diriku.

Terkadang aku terpaksa menyusup di suatu rumah dan mencuri sesuatu yang bisa ku lahap, meski itu hanya secuil daging dan tulang. Dengan sigap ku bawa lari makanan itu, berlari dan terus berlari karena takut ketahuan sang pemilik. Jika aku sampai ketahuan mencuri, aku akan dikejar dan dipukul dengan gagang sapu atau bahkan dilempar batu. Ah untuk secuil makanan saja aku harus rela mempertaruhkan nyawaku. Aku begitu takut, aku tak mau tubuh kecil ini terluka lagi. Semakin kencang aku berlari, maka laju kaki ini tak terkendali. Aku bisa menjadi perusuh dadakan di rumah itu, ku tumpahkan air dalam gelas di atas meja, ku singkirkan benda-benda yang menghalangi laju lariku.
Sungguh malang nasib diriku, tak ada seorangpun yang mau menjamahku, menggendongku, dan memberiku makanan dengan kasih sayang. Aku seperti sesuatu yang buas dan pembawa kerusuhan. Padahal aku seperti itu hanya karena lapar dan kalian tak peduli denganku. Setiap kali aku bersuara untuk meminta makan, kalian langsung mengusirku dan menghardikku bahkan terkadang kalian menendangku. Kembali aku pergi berlari dengan rasa haus dan lapar yang menggerogoti. Tuhan, apakah mereka sudah tak memiliki hati nurani?
 




Pondok Pesantren Darun Nun
Bukit Cemara Tidar f3 No.4 Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar