Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Tak perlu kau bertanya kenapa?



Oleh Rofikatul Isalmiyah
Dewandaru, 4 April 2016

Sudah ku katakan bukan? Aku hanyalah senja yang terkadang tak terlihat. Tertutup oleh gupalan awan suram yang sengaja terbang tepat di depanku. Ya seperti saat ini, senja yang di dominasi oleh gelap. Bukan karenya tak meronakan cahayanya. Namun, awan itu telah menutupinya. Menghilangkannya dari sekian derajad, sudut semesta. Mungkin di tempat yang berbeda dia terlihat begitu anggun. Mega merahnya membalut semesta, membuatnya menjadi pujaan di fase itu. Tapi tak apalah. Bagiku senja selalu yang istimewa.

Sore ini, di kota yang mempertemukan kita. Senja seperti begitu tahu apa yang terjadi di hati ini. Kita seperti dua hal yang saling berikatan. Saat hati begitu mendung. Senja juga enggan menghibur. Sungguh saat ini aku hanya ingin kau yang nyata berada di sampingku. Bukan ku butuh pundak tuk rebahan. Bukan ku butuh tangan tuk hapus buliran air yang tak sengaja tumpah. Bukan juga ku butuh telinga tuk mendengar segala keluh. Ku hanya ingin kau berada di dekat ku. Cukup diam. Sebab itu saja sudah memberikan kenyamanan.

Saat ku merasa merindukan apapun dan itu tak bisa ku temui, hati selalu ingin hal yang sama. Hanya ingin kau. Lagi dan lagi hanya ingin kau ada di sebelahku. Apakah aku terlalu egois??

Ku rasa tidak. Sebab keinginan itu juga hanya jadi keinginan yang tak pernah terwujud. Tentang kamu yang di sampingku mungkin hanya akan menjadi bumbu yang melengkapi rindu ini. Mengoyak hati. Membuatku hanya terdiam sendiri. Oh tidak, masih ada secangkir kopi hitam yang setia menemani dan sangat rela untuk ku nikmati.

Kamu memang paling bisa menjadi ujung dari segala yang ku rasa. Tapi maaf, faktanya di sini tentang aku bukan kamu. Aku yang begitu merindu akan banyak hal di ruang dan waktu yang telah lampau. Yang katanya itu kenangan, tapi bagiku itu sejarah. Karena sudah menekan terlalu kuat rindu itu, membuat luas hati ini menyempit dan kembali ku ingin kamu yang membersamai.

Tak perlu kau bertanya kenapa?

Aku juga sudah lama memikirkannya, kenapa perasaan lelah ujungnya akan kamu. Entah aku juga tak faham kenapa setiap ini terjadi, ujungnya kamu, kamu yang begitu mustahil. Benarkan, ini tentang hatiku. Bukan kamu? Ya ini tentang hatiku yang merasa nyaman dengan orang yang tak begitu lama ku kenal. Dan sekarangpun aku tak tahu kau dimana. Tapi... Anehnya selalu ada bisikan halus yang meyakinkan hati, "tak mengapa, cukup kau menunggunya". Jangan lagi bertanya dari mana bisikan itu. Sebab aku juga sudah ribuan kali bertanya. Dan hasilnya sama. Aku tak tahu jawabannya. Mungkin takkan pernah tahu.
 
Jika itu disara aneh, maka bagiku ada yang lebih aneh. Saat ku benar-benar menunggumu. Meski ku tahu kau tak pernah memberikan janji ataupun tak pernah memintaku menunggu.

Ah, sudahlah. Senja kali ini sesungguhnya hanya berawal dari aku ingin pulang. Ku rindu fajar di tengah sawah. Memelukku kuat-kuat tanpa ada penghalang. Menelusup dalam setiap pori-pori. Menyinari pasak bumi yang begitu tinggi. Terlihat biru dari ribuan kilometer. Lereng-lerengnya tampak jelas dengan bayang-bayang pepohonan. Mengkombinasikan degradasi warna. Hijau biru. Kuningnya padi. Putihnya awan. Sapaan orang-orang yang sibuk dengan keberangkatannya menuju aktivitas masing-masing. Ya itu yang sejatinya ku rindu. Dan itu juga yang sejatinya tidak bisa ku temui saat ini. Akhirnya hati yang terlalu sesak oleh tekanan rindu itu membuatku ingin dirimu mendampingi. Untuk memberikan gaya, yang bisa menghilangkan atau setidaknya mengurangi tingkat kekuatan tekanan itu. Sehingga luasnya hati bisa sedikit terbuka.

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar