Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Kepastian Yang Tak Pasti


Oleh Rofikatul Islamiyah

Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan (Diponegoro).
Kematian merupakan fakta biologis, akan  tetapi juga memiliki aspek sosial, kultural, historis, religius, legal, psikologis,  perkembangan, medis, dan etis. Aspek-aspek tersebut memiliki keterkaitan antara satu sama lain (Papalia. 2008).
Sedangkan Harun Nasution mempunyai analisis yang cukup menarik mengenai kematian. Menurut  Harun Nasution menjelaskan bahwa kematian adalah terpisahnya tubuh halus atau yang disebut dengan astral body atau body lichaam dengan tubuh kasar. Menurut Harun, antara tubuh halus dengan tubuh yang kasar itu dihubungkan dengan tali yang sangat halus di bagian kepala manusia (El Shafa, 2010). Selama tali penghubung tersebut masih utuh dan tidak terputus, maka  tubuh astral itu masih bisa kembali ke tubuh fisik. Tetapi kalau sudah terputus, maka tubuh astral sudah tidak bisa kembali lagi ke tubuh fisik, dan dari sinilah terjadi  kematian. Dibalik definisi kematian, hal yang paling jelas adalah kematian itu sangat misterius, tak ada seorangpun yang tahu kapan, dimana dan bagaimana mereka akan dipisahkan antara ruh dan jasadnya.
Pikirkanlah wahai manusia! Engkau dapati dirimu dalam bahaya, karena maut selalu mengintaimu. Terkadang seseorang keluar dari rumahnya dan kembali hanya dengan kabar duka belaka. Ada juga yang duduk di atas kursi kantornya dan tiba-tiba telunglai tak bangkit lagi. Juga ada yang tidur di kamranya, namun tidurnya ini mengantarkannya pada ranjang pemandian jenazah. Maka, manfaatkanlah kesempatan umur untuk melakukan amalan-amalan sholeh serta selalu bertaubat. (Asy-Syaikh Muhammad. 2006)
Meski hal ini telah disadari bahwasannya roda kehidupan dan kematian akan terus bergulir namun, tetap saja ketika kematian merengut maka duka nestapa itu muncul, kesekan bahkan tak jarang dari mereka-mereka yang ditinggalkan mengalami reaksi psikologis yang ekstrim, yang berpeluang mengacaukan emosional dan kesehatan dimasa-masa berikutnya.
Pagi selalu membuka jendela-jendela harapan dan kehangatan yang indah untuk nanti ditutup saat senja, dan diceritakan serta di renungkan saat malam tiba. Sejuknya desa tak ada yang menandingi apa lagi di bawah lereng gunung tertinggi di pulau Jawa ini, tak perlu ditanya dan di ragukan lagi. Alam nan asri, lalu lalang para petani yang berangkat menuju sawah dan kebun masing-masing memberi kedamain tersendiri dan yang jelas menggagalkan move on_nya perantau untuk kembali ke tanah rantau yang notabandnya kota. Tak luput dari kisah Pak Haji Abidin, seorang tokoh masyarakat yang dermawan.Seperti pagi-pagi sebelumnya, beliau menunggu waktu Dhuha di musollah depan rumahnya, sembari menyapa para tetangga yang lewat. Sebenarnya beliau masih cukup muda untuk hanya diam di pagi hari. Namun akhir-akhir ini beliau memiliki sakit diabetes sehingga bisnisnya dikelolah oleh sang anak sulungnya.
“hallo, assalamualaikum”. Jawab dari seberang telfon
“waalaikumsalam, Ji ada dimana?”. Tanya H. Abidin
Panggilan Ji sudah menjadi kebiasaan masyarakat sekitar desa tersebut untuk orang-orang yang sudah pergi haji ke tanah suci.
“di rumah Ji, memangnya ada apa?”. Jawab peria dari seberang telfon yang merupakan rekan bisnis H.Abidin
“saya kesana sekarang Ji”. Jawab H. Abidin
“ada apa Ji? Penting? Kalau tidak terlalu penting jangan, soalnya saya harus beli sentrat sapi.” Suara dari balik telfon
“oh, ya nanti sepulangnya kamu dari beli sentrat saja”. jawab H.Abidin
“sore mungkin Ji, soalnya masih mampir-mampir. Kalau memng penting, nanti sebelum berangkat saya mampir kerumahmu saja Ji”jelas suara di balik telfon.
“tidak kk Ji, cuman sudah lama tidak ngobrol”. Jawab H. Abidin
“ya nanti sore saja Ji, saya hubungi kamu kalau sudah di rumah”. Suara itu menengaskan.
“iya sudah Ji. Assalmualaikum”. Jawab H. Abidin
“waalikumsalam”. Suara itu mengakhiri obrolan
“telfon dari siapa Ba?” Tanya istri H. Abidin
“dari H. Arifin mik”. Jawabnya singkat.
“memangnya ada apa ba? Urusan bisnis?” Tanya isrinya lagi
“tidak. Cuman saya ingin ke rumahanya. Sudah lama tidak kesana”. Jawab H. Abidin
“sekarang ba? Di antar anak-anak?” Tanya istrinya sedikit khawatir.
“tidak, nanti sore. Dia sedang keluar. Tidak usah mik. Abah sudah bisa nyetir sendiri kok”. Jawab H. Abidin
Singkat cerita, senja mulai menampakan ronanya. Namun panggilan dari H. Arifin tak kunjung datang. Entah perasaan apa yang sangat mendorong H. Abidin untuk datang ke rumah H. Arifin, sehingga tanpa menghubungi H. Arin dan tanpa pamit sang istri Beliau langsung berangkat. Beliau berangkat dengan mobil pick upnys yang berisikan rumput, beliau sangat tahu bahwasannya H. Arifin butuh rumput untuk ternak sapinya yang sudah berkembang di desanya. Selain rekan bisnis H. Arifin juga merupakan sahabat dari H. Abidin. Keduanya merupakan perantau yang mendapatkan jodoh di kecamatan yang sama. Jadi sngat wajar jika mereka seperti saudara yang lahir dari rahim berbeda.
Tak butuh waktu lama, H. Abidin sampai di rumah rekannya itu.
“tin tin…” suara klakson mobil.
Seketika istri H. Arifin keluar membukakan pintu gerbang.
“Kaji dimana?” Tanya H. Abidin yang masih di dalam mobil
“di kandang”. Jawab Istri H. Arifin singkat
“iya kalau begitu saya langsung ke kandang saja”. Ucap H. Abidin
Pick up jenis carry 1.5 itu meluncur di sisi rumah, yang kebetulan di sana juga sudah ada pick up jenis grand max dan pick up L300. Sudah seperti dealer mobil ya?.
“tin tin…” Suara klakson mobil H. Abidin
H. Arifin keluar dari kandang, memeriksa siapa yang datang. Sambil meminta pegawainya untuk meneruskan pekerjaan beliau.
H. Abidin    : “Ji ini saya bawakan rumput”.
H. Arifin     : “loh, kok repot-repot Ji?”
H. Abidin    : “tidak repot Ji, kalau mobilmu di pindah 1, biar saya bisa lewat untuk masukin ini, lagian kok tidak mengabari kalau sudah di rumah”.
H. Arifin     : tersenyum “iya sebentar. Soalnya saya masih ngasih tahu caranya bersihin kandang anak sapi Ji, takut nanti malah kamu saya tinggal”.
H. Arifin masuk ke dalam rumah mengambil kunci mobil, kemudian memanggil pegawainya.
H. Arifin     : “Har, ini tolong pindahin pick-upnya ke depan rumah saja”
Hartono      : “nggeh ba.” Bergegas keluar kandang dan mengambil kunci mobilnya
H. Arifin     : “setelah itu, angkut rumput ini kedalam” (sambil menunjuk mobil H. Abidin).
Hartono      : “nggeh ba”. (Berjalan menuju mobil pick up grand max)
H. Arifin     : “ayo kedalam rumah saja Ji”. Mengajak H. Abidin
H. Abidin    : “sebentar Ji, saya lihat sapi-sapimu dulu”
H. Arifin     : “jangan Ji, sedang di bersihin kandangnya, takut nanti ada cipratan di bajumu”
H. Abidin    : “ya, di cuci Ji”
H. Arifin     :”yak an sudah sore Ji, itu pasti nanti buat sholat magrib”
H. Abidin    : “ganti nanti Ji, kayak punya satu aja. hahaha”
Mereka berdua masuk dalam kandang, entah apa yang di perbincangakan di dalam kandang. Namun tak terasa suara tarhim mulai bersautan dari masjid-masjid sekitar. Tanda semua aktifitas kedunian harus dihentikan. Saatnya bermunajjah pada Sang Pencipta. Berkumpul dengan keluarga. Dan bercerita tentang apa-apa yang dilalui sepanjang siang tadi. yah, entah bercerita pada Sang Maha Pendengar, pada kekasih hati nan halal, atau sekedar bercerita pada sang malam sambil menuliskannya pada kertas-kertas kesayangan.
H. Abidin    : “sudah magrib Ji, saya pulang dulu”. Mereka keluar dari kandang
H. Arifin     : “iya Ji, hati-hati”.
H. Abidin    : “kok, rasanya sedikit pusing ya Ji?”
H. Arifin     : “ya jangan pulang Ji, sholat disini saja, nanti saya antarkan pulang”.
H. Abidin    : “tidak Ji, saya tadi tidak pamit sama istri”.
H. Abidin    : “yakin tidak apa-apa Ji”
H. Arifin     : “ya Ji, nanti kamu kerumah ya? Saya masih pengen ngobrol lagi”
H. Arifin     : ”kamu ini Ji, kan dari tadi sudah ngobrol. In syaa Alloh ba’da magrib saya kesana”
H. Abidin    : “Assalamualaikum” dari dalam mobilnya.
H. Arifin     : “waalaikumsalam”.
H. Arifin menutup gerbang dan memeriksa pintu-pintu kandang juga rumahnya. Dan tiba-tiba………
“Ji, Ji,,,,,” Suara riuh di depan rumah.
Spontan seisi rumah keluar.
“ada apa? Loh kenapa?” Tanya H. Arifin setelah melihat sahabanta dipopong para tetangga.
“tidak tahu Ji, ini kita temukan di dalam mobil yang masih hidup tapi tidak berjalan”. Jawab salah satu tetangga yang membawa H. Abidin
“bawa sini, sini” pinta H. Arifin ke tetangga.
Setelah di masukan di kamar anaknya, segera di lihat kondisi dari sahabatnya itu.
“Ji, Ji,,,” di pangil-panggilnya.
“iya Ji” jawab H. Abidin
Sedang para tetangga masih di ruang tamu bersama anak dan istri dari H. Arifin. Mereka menceritakan kronologi kejadian ketemunya H. Abidin di dalam mobil yang sedang hidup di tengah jalan di depan rumah mereka. Karena waktu sholat magrib sebentar, mereka berpamitan pulang. Begitu juga istri dan anak H. Arifin sholat duluan.
“Alhamdulillah, kenapa kamu Ji? Sudah saya bilang untuk sholat di sini saja, nanti saya anterin setelah magrib”. Kata H. Arifin khawatir
“saya cuman pusing saja, minta tolong kasih balsam di punggung Ji” pinta H. Abidin
“iya”. H. Arifin menggosok-goskan balsam sambil memijat pungguh H. Abidin
“jangan banyak-banyak Ji panas”. Pinta H. Abidin lagi
“iya Ji, bagaiman ini Ji. Di kasih minum apa biasanya kalau kamu sakit? Atau kamu bawa obat?” Tanya H. Arifin
“tidak apa-apa Ji, cuman ini telfonkan Ubed biar jemput saya kesini” kata H. Abidin
“gak usah Ji, nanti saya anterin saja.” jawab H. Arifin
“jangan Ji, nanti mereka khawatir menunggu saya”. Ucapa H. Abidin
Tanpa banyak tanya lagi, dicarinya kntak atas nama Ubed itu. Selajutnya di telfokan.
“assalamualaikum, Le. Abahmu di rumah ini. Katanya pusing. Mau saya anter tidak mau. Minta di jemput kamu”. Kata H. Abidin di telfon
“waalaikumsalam ba, nggeh ba. Saya segera kesana” jawab singkat.
Beberapa menit anak dan istri H. Abidin sampai di rumah H. Arifin
“assalamualaiku,,,” serentak mereka mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah H. Arifin
“waalaikumsalam,,” jawab istri H. Arifin yang menunggu di ruang tamu, sebab beliau bukan mahrom dari H. Abidin
“monggo mik disini” mengajak ke salah satu kamar di rumah beliau.
“ya Alloh ba? Kenapa sampean ba? Apanya yang sakit?” bergegas anaknya mendekati H. Abidin
“Le, saya belum sholat. Saya solat dulu ya, ini kalian sudah datang”. Kata H. Arifin
“nggeh ba” Jawab Ubed
Dengan begitu tegar istri dari H. Abidin merangkul sembari menyandarkan tubuh H. Abidin di rebahannya.
“nak, ini abahmu di ngajikan sudah”. Pinta ibunya.
Namun si Ubed tidak faham, mungkin sebab emosional yang tidak terkntrol. Dia hanya ambil al- qur;an yang berada di dekat pintu kamar. Sebab itulah istri H. Arifin juga menyusuh anaknya mengaji di dekat H. Abidin
“Alloh ba. Alloh. Alloh” bisik istri H. Abidin di telinga suami tercintnya.
Tak lama kemudian, sebelum selasai H. Arifin sholat magrib ternyata H. Abidin telah berpulang ke dimensi yang menandakan perpisahan untuk selamanya.
“nak, abahmu sudah tiada”. Kata Hj. Abidin
“maksudnya mi?” sambil memeriksa kebenaran dai abahnya. Sontah tangisan dari dalam kamar, terdengar oleh istri H. Arifin. Beliau berlari dan memeriksa apa yang terjadi. Terlihat di sana sudah tebaring H. Abidin dengan penuh peluh, dengan wajah putih bersih berada di pangguan istri dan anaknya menangis tersedu-sedu sambil mengucap tahlil. Sesegera mungkin istri H. Arifin datang ke Mushollah memanggil suaminya.
“Ba,, Ba,, Kaji …………” kata istri H. Arifin
“sudah meninggal” potong H. Abidin
“loh, kok tahu?” Tanya Istrinya heran
“suara jeritan tadi, juga mimpi semalam”. Jawab H. Arifin
Istri H. Arifin masih belum faham, akan tetapi dia tak berniat bertanya lagi, sebab keadaan sudah genting. Mereka bergegas menuju kamar.
Ketika sudah seperti ini? Apa yang terjadi dari H. Abidin? Kini tinggal amalnya yang akan setia menemaninya di alam metafisika itu. Mobil, rumah, uang, sawah dan keluarganya tak ada yang bisa menolongnya. Jika sudah tiba waktunya, tak ada yang bisa menegosiasi sang Izroil untuk melaksanakan tugasnya. Tak ada yang luput dari intaianya. Tak ada yang bisa kabur darinya. Juga tak akan salah tempat untuk mengmbilnya. Seperti kisah H. Abidin di atas. Siapa sangka beliau akan meninggal di rumah sahabatnya? Tidak ada yang meminta beliu untuk datang ke rumah H. Arifin, bahkan meski di pagi harinya telah di tolak oleh H. Arifin. Berangkat dari rumah, dengan menggunakan mobilnya dalam keadaan sehat wal afiat dan kembali dengan mobil yang berbeda dalam keadan terbujur di iringi tangisan-tangisan dan tahlilan. Namun jika taqdir yang menuntunnya tak ada lagi yang dapat mencegah, menghalangi dan menyekatnya. Maha Suci Alloh, tahu yang terbaik untuk hambanya.
Kini tinggal nama beliu yang berkeliaran dari mulut kemulut sebab kedermawanannya. Kisah-kisah baiknya. Namun juga tangis dan duka dari sanak sadara juga orang-orang terdekatnya.
Maka harus selalu kita ingat dan diwaspadai bahwa kita sedang menuju kematian, entah datang pagi atau sore. Kematian akan terus mengintai kita. Seperti  ungkapan Ali bin Abi Thalib,
“Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.”
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar