Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Bus Ketiga




oleh:
Nur Sholikhah



Kami berdiri mematung di pinggir jalan raya tepatnya di depan sebuah toko isi ulang air minum sambuil memandang lalu lalang kendaraan yang lewat begitu saja tanpa permisi. Aku dan kedua temanku akan kembali ke tempat perantauan, di salah satu kota yang mendapat julukan kota pelajar di provinsi Jawa Timur ini. Sudah 1 jam lebih kami menunggu disini, menunggu bus tujuan kota Malang untuk kami tumpangi. Lelah sudah pasti kami dapati, begitupun rasa haus yang ikut berkelahi. Sebenarnya sudah ada 2 bis yang lewat dan menawari kami tumpangan, namun kedua bus tersebut sudah penuh dan kami tidak mau berdiri di dalamnya dalam waktu 2,5 jam. Tawaran itu kami tolak, dan kami berharap bus selanjutnya membawa penumpang yang lebih sedikit agar kami dapat tempat duduk untuk bersandar.

Namun untuk menunggu bus yang ketiga sangatlah lama, mungkin sekitar 15-20 menit, hingga matahari tersenyum melihat wajah kami berpeluh keringat. Ku tengok jam tangan yang sengaja ku tempel di tangan ini. Jarum kecilnya sudah menunjukkan pukul 9 pagi, sedangkan kami harus sampai di Malang maksimal jam 1 siang karna ada urusan yang harus kami selesaikan. Aku beranjak dari tempat dudukku dan kembali berdiri dengan wajah menoleh ke kanan, berharap ada armada bis berwarna orange putih menghampiri kami. Banyaknya kendaraan yang lewat menambah pemandangan semu mata ini. Setelah beberapa menit kemudian aku tak kunjung melihat bus itu melaju, hanya mobil-mobil pribadi orang-orang kaya dan para truk pengejar waktu yang kudapati. Kaki ini sudah terasa kram dan aku memutuskan duduk kembali, begitupun dengan kedua temanku.


Untuk menghilangkan rasa bosan, kami mengobrol santai. Entah apa yang kami bicarakan, sudah berapa banyak kata yang keluar dari mulut ini dan sudah berapa topik yang kami perbincangkan hingga kami tak tahu kalau ada bus yang kami tunggu telah melaju kencang melewati kami. Kami hanya bisa menatap tak percaya, sejenak suasana menjadi hening lalu gelak tawa pecah diantara kesunyian itu. Aku menertawakan diriku sendiri yang hanya bisa diam saat melihat bus itu melaju di depan kami. Akhirnya mau tak mau, kami harus menunggu bus yang selanjutnya. Matahari semakin terik, jam pun sudah menunjukkan pukul 09.30. Kami harus segera berangkat, pilihan terakhir adalah harus naik bus yang selanjutnya dalam keadaan apapun.

Beberapa menit kemudian, aku melihat bus berwarna orange putih itu melaju dari arah utara. Aku berteriak kepada kedua temanku "eh itu busnya". Dengan perasaan gembira bercampur kesal, kami pun terpaksa naik. Di dalam bus sudah dipenuhi penumpang. Cuaca yang panas menambah sesak suasana, bau keringat bercampur minyak wangi dan minyak kayu putih ikut menebar rasa mual di perut ini. Kami berdiri dan berdesakan dengan penumpang lainnya. Tubuh kecil ini harus rela terjepit di antara mereka. 

" Yakin mau nyampek Malang dengana keadaan kayak gini?" tanya salah satu temanku.

"Iya, mau gimana lagi?" dengan wajah setengah kesal temanku yang satunya menimpali.

Aku hanya mampu menggerutu dalam hati, "Sudah cuacanya panas, harus berdiri lagi" .

Kami pun pasrah dengan keadaan ini. "Sudahlah mungkin ini memang yang terbaik" gumamku. Aku mencoba menikmati perjalanan yang melelahkan ini, ku tatap setiap pemandangan asri di daerah pegunungan yang menjulang. Terlihat pohon dan sungai saling melengkapi, warna hijau yang mendominasi membuat segar kedua mata ini.

Macet berkali-kali menghambat perjalanan kami, aku harus lebih bersabar menahan kantuk dan gerah serta rasa kram di kedua kakiku. Setengah perjalanan telah berlalu, tiba-tiba ada sebuah pemandangan yang membuat kami harus bersyukur dengan keadaan. Bagaimana tidak? bus ketiga yang kami tunggu-tunggu sedari tadi ternyata mogok di tengah jalan. Sedangkan jalan tersebut berada di daerah pegunungan yang jauh dari pemukiman dan tempat reparasi mobil. Maka terpaksa para penumpang terlantar dan harus menunggu untuk di oper ke bus yang selanjutnya. Dalam hati aku bersyukur, ya Allah kini aku tahu rencanaMu tadi. Kenapa kita diharuskan untuk ketinggalan bus yang ketiga, agar kita tidak terlantar seperti mereka. Ya Allah rencanaMu memang begitu indah. Ampuni kami hambaMu yang tak tahu diri, yang hanya bisa mngeluh dengan semua kehendakMu. استغفرالله العظيم

                                                                                                         
Ini hanyalah sepotong kisah penuh hikmah yang pernah terjadi dalam sekelumit hidup ini. Setiap peristiwa sekecil apapun sesungguhnya terdapat hikmah di dalamnya dan apabila peristiwa-peristiwa tersebut dirangkai, maka akan saling berkaitan satu sama lain. Kita sebagai hamba yang lemah tak mampu berbuat apa-apa tanpa daya dan kekuatan dariNya لاحول ولاقوة الا بالله العلي العظيم. Maka kita tidak patut mengeluh dengan semua kehendakNya, bersabar dan ambil hikmah dari setiap peristiwa maka kita akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.




Malang, 17 April 2017

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar