Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Save budaya Indonesia



 

Jedhor
Oleh: zahra
Seni itu tidak pernah terikat dengan ruang. Tidak juga terpasung dengan logika dan pemikiran. Tak terpengaruh dengan dinamika politik dan permainan media, Oh iya dalam seni  juga tak pernah mengenal kata laba apalagi presentase keuntungan. Karena seni, hanya soal rasa.
*****
Tulungagung, 10 Agustus 2015
            Mungkin sudah sekitar dua jam tubuh ringkihnya berdiri di pinggir gerbang tua tak jauh dari naungan pohon Akasia yang menciptakan keteduhan. Hari itu pasar terlihat penuh sesak oleh para penjaja yang menjajakan dagangannya. Tak ketinggalan para calon-calon pembeli yang sedang sibuk memilih dan memilah barang-barang kebutuhan yang sesuai dengan kocek mereka. Maklumlah tahun ini harga barang-barang sembako sedang tak bersahabat.Tenggorokannya juga sudah mulai mengering. Nampakya secangkir teh panas yang disajikan istrinya pagi tadi telah habis tak bersisa menguap terbawa matahari yang mulai tak kuat menahan panasnya sendiri. Kaki hitamnya juga tak sekuat dulu, padahal...dulu..dulu sekali..dua puluh tahun lalu, kaki hitam itu pernah membawanya menjadi juara dalam sebuah pertandingan maraton.Yaah.. walaupun hanya pertandingan tujuh belasan tingkat RT, setidaknya dia dan istrinya tak perlu bingung memikirkan anggaran sembako untuk beberapa hari kedepan. Kaki keringnya itulah yang  memaksa dirinya untuk hanya sekedar bersandar atau sesekali duduk, tapi rasa tanggung jawab kepada perut istri tercintanya seketika membuatnya kembali kuat.
            Peluhpun mulai menetes melewati lipatan-lipatan keriput di pipi tuanya. Seakan sungai kecil yang menceritakan tentang sejarah panjang kehidupan yang telah berhasil menciptakan gurat-gurat penuh makna dan perjuangan. Sekaligus menjadi pertanda berapa lama ia telah berusaha mencari seseorang yang bersedia menaiki sedan roda tiganya yang dia biarkan terpanggang matahari di sudut sana.
 Matanya yang sudah mulai kabur ia paksa untuk terus siaga, jika tiba-tiba ada wajah putus asa yang sudah tak sabar menunggu angkutan kota atau malas menanggapi tukang-tukang ojek nakal yang suka menggoda para calon penumpangnya. Tapi nampaknya hari ini rupiah sedang tak berjodoh dengan kantongnya,yang ia dapati di kantong nya hanya lima ribuan lusuh upahnya mengantar mbok Suginem pagi tadi. Lima ribu yang ia dapatkan dengan tenaga dan keringat berbumbukan omelan mbok Suginem karena laju becak yang semakin melambat di setiap tikungannya. Untungnya Ia memang tak pernah ambil pusing masalah tarif, yang penting halal katanya.
*****
Matahari sudah mulai reda dari panasnya ketika ia memutuskan untuk meninggalkan hiruk dan pikuk pasar siang itu, saat tiba-tiba seseorang bertangan besar menepuk pundak kecilnya dengan kasar,
“ Mbah karcis !” kata laki-laki gempal itu setengah menggertak.
“Mbah mboten sadeyan nak, cuma mbecak”Jawabnya sambil tersenyum.
“Lho..lho..wah sudah berani njawab yo.. sampeyan tadi mangkal di area pasar kan? Dapet penumpang juga dari pasar kan? Ya harus bayar karcis to..! ini negara hukum Mbah!!” Kata laki-laki itu sambil mendelik.
 Walaupun ia hanya tamatan MI dan kurang mengerti apa itu hukum, tapi nuraninya berkata bahwa hukum yang sebenarnya pasti tidak sekejam ini. Yang menjadikannya terlihat beringas adalah manusia-manusia penuh nafsu dan ambisi yang merusak kewibawaan hukum di mata masyarakat awam dengan  melakukan kejahatan,kekejaman dan keculasan dengan  beratasnamakan hukum. Tapi akhirnya ia memilih untuk mengalah.Upah seharian bekerjapun dengan mulus berpindah tangan. Rasanya memilikinya hanya seperti mimpi, hilang dan pergi. Ia hanya bisa tersenyum... Gusti Allah punya rencana..fikirnya.
*****
            Sapu itu telah bersandar dengan nyaman di sudut rumah mungil nan rapi itu. Segera ia pasrahkan dirinya pada kursi tua peninggalan mertua yang masih tertata apik di sisi kiri ruangan. Dan kini mata tua Parmi menerawang jauh kepada seperangkat Jedhor di depannya yang menghuni hampir seperempat ruangan 4 x4 itu.Ya.. seni musik tetabuhan jedhor yang merupakan kegemaran suaminya, Sukamto. Sekaligus peninggalan turun temurun dari bapak mertuanya . Sebenarnya meskipun telah lebih dari setengah abad menikah, ia masih belum faham kenapa alat-alat itu bisa membuat suaminya begitu tergila-gila. Padahal kalau di fikir-fikir selama ini alat-alat itu hampir tidak pernah memberikan pertolongan yang berarti bagi kehidupan ekonominya bahkan suaminya. Seringkali malah suaminya Sukamto yang harus keluar ragad untuk memperbaiki alat-alat tabuhan itu. Sudah sering ia bicara pada suaminya perihal hobi lamanya yang Parmi anggap membawa kemudharatan itu, tapi setiap kali jawabannya selalu sama,“Kalau bukan kita yang melestarikan budaya ini terus siapa Dek..”. Kalau sudah begitu Parmi lebih memilih untuk diam. Ia tak mau sampai adu mulut apalagi berdebat dengan suaminya masalah jedhor. Emm... suami tercintanya.. karena ia tak memiliki siapa-siapa lagi untuk mendengarkan keluh dan kesahnya, menyeka air matanya, atau hanya untuk sekedar meminjamkan bahunya... tanpa Sukamto.. ia bukanlah apa-apa.
*****
            “Mas...! Kamtoo...!!”
Ia mendengar suara yang sudah sangat di kenalnya ketika ia baru saja menaiki becak kesayangannya. Ia menoleh.
“ Weehh.... San...” ucapnya sambil turun dari becak. Kata bapaknya dulu, berbicara dengan orang dari atas kendaraan itu bukan merupakan bagian dari adab. Ndak  ilok katanya. Mereka berjabat.
“Mas nanti malam jadi kan latihannya?”Tanya Kasan sambil meletakkan topeng-topeng wayang dagangannya. Sesekali ia membetulkan peci hitam khas nusantara yang tak pernah absen menghiasi kepalanya.
“Wah.. yo jelas jadi to San.. tak tunggu lho!”
“Siip Mas... konco-konco siap to..”
“Wwah.. ya jelas siap to.. paling yang ndak isa hadir cuma Mas Setu, ada hajatan di rumah teman katanya..”
“Wahh... terus yang megang Tipung wadonnya siapa Mas?”
“ Halah.. gampang.. itu si Patoni kan bisa..”
“ Woo iya Mas siip.. Tapi Mas saya ini sempat mikir kita ini kok latihan terus.. kapan tampilnya ya..hehehehe..” ungkap Kasan sambil mlengeh. Menunjukkan seperangkat gigi depannya yang tak lagi utuh termakan usia.
“Maksud sampeyan ini opo?”
“Yaaahh.... siapa tau komunitas kita bisa terkenal kayak grup kethoprak Siswo Budoyo itu, atau grub Tayub Semar Mendem, yang sekali manggung bisa sampe lima juta satu malam Mass... waahh kan ya lumayan.. bisa tambah disayang istri to mas..untung-untung bisa cari istri lagi...hahhahahah....” sejenak Kasan melupakan usianya yang sudah hampir kepala tujuh, menafikan anak-anaknya yang sudah pada menikah, sekaligus dua belas cucu-cucunya yang kebanyakan sudah mencapai usia sekolah.
Air muka Kamto seketika berubah serius. Tanpa sadar Ia menjawab,“ San.. kita kudu ingat komitmen awal kita... jangan sampai semangat berkesenian kita ini tercampur dengan unsur-unsur materi seperti itu.. karena bisa jadi unsur itu merusak rasa dari keindahan seni itu sendiri, bahka bisa jadi karna rebutan duwit ,guyub lan rukune kito sak suwene iki bubrah...” Entah dari mana ia dapat melancarkan kata-kata yang tak biasa ia ucapkan itu, mboh...semua keluar begitu saja dari lisannya yang pasti selaras dan senada dengan apa yang ada di fikirannya.
“Eeeee... suuuannttaii Mas Kamto... injih..injih... leres.. ampuunn..” Kata Kasan sambil menyatukan kedua telapak tangannya dan bergaya bak biksu-biksu shoulin yang sedang berdoa di kuil. Bedanya kalau biksu shoulin sengaja di gundul, sedangkan kalau Si Kasan ini gundul karena faktor usia. Jadi hasilnya cuma bagian depan dan tengahnya saja yang kinclong.
            Mendadak Kamto tak mau banyak bicara, jadi Ia hanya menanggapi Kasan dengan senyuman.Senyum kecut yang membuat Kasan tak krasan .
            “Emmm....ya sudah Mas saya pergi dulu..mau lanjut keliling... ba’da Isya ya Mas...” Pamit Kasan sambil beranjak meninggalkan Kamto.
            “Iyo.. ati-ati San...”Jawabnya sambil menjabat tangan Kasan.
            Kamto masih berdiri sambil memperhatikan punggung Kasan sampai sosok itu benar-benar hilang. Tertelan kerumunan orang yang saling terjang bahkan kalau perlu saling sikut untuk hanya sekedar mencari jalan tercepat guna sampai ke tempat yang mereka inginkan. Entah apa yang dipikirkan Kamto saat itu. Yang Ia tau perutnya sudah mulai perih. Satu-satunya tujuan Kamto saat itu adalah rumahnya, meja makan khususnya. Ia yakin nasi panas yang baru di angkat dari dandang ,tempe goreng dan sambel terasi kesayangannya pasti sudah menunggunya. Dan...O iya si cantik Parmi yang pasti juga sudah menunggunya di depan pondok mereka..Ahh.. maafkan Mas Dek Parmi... Mas belum bisa membawa uang siang ini...maaf...
******
            Malam itu usai menunaikan sholat Isya berjamaah di musholla Pak Kaji Luthfi,Kamto segera bergegas untuk pulang. Ia sudah tak sabar ingin segera memainkan alat musik kesayangannya itu bersama para personil komunitas pecinta Jedhor,Pager Budoyo. Setelah berganti pakaian ia duduk di kursi teras.Tangan kanannya memegang tipung lanang sambil sesekali memainkannya. Seni Jedhor ini memiliki makna yang dalam menurut Kamto. Dulu,ayahnya, Sukidi sesepuh Jedhor di Tulungagung pernah bercerita tentang filosofi dari kesenian Jedhor yang terdiri dari enam alat inti ini yakni ,Tipung Lanang yang merupakan simbol dari kaum laki-laki. Tipung wadon yang merupakan simbol dari kaum perempuan. Kempyang, yang bersifat menyatukan antara bunyi dari Tipung lanang dan Tipung wadon, hakikatnya kempyang bisa di artikan sebagai sebuah ikatan pernikahan yang menyatukan antara laki-laki dan perempuan. Berikutnya terbang, yang memiliki bunyi lebih berat dari tiga alat musik sebelumnya,tebang di ibaratkan meupakan gambaran dari berbagai kesulitan dan cobaan yang akan di hadapi oleh pasangan yang telah hidup bersama. Kemudian gendhang yang memiliki suara yang bervariasi, suara gendhang ini yang menentukan kemana arah dari musik Jedhor ini. Seperti beragamnya cara setiap pasangan ketika menyelesaikan sebuah masalah. Terakhir Jedhor, yang memiliki suara menggelegar seperti gong, memiliki makna bahwa sekuat apapun manusia berusaha keputusan selalu ada di tangan Allah.
            “Assalamu’alikum Mas Kamto..!!” Suara Karjiman membuyarkan lamunannya. Ia lihat di belakang Karjiman, Sugeng, Patoni, dan Kasan berjalan dengan penuh semangat.
            “Wa’alaikumussalam..” Ujar Kamto sambil berdiri menyambut mereka. Mereka berjabat.
            “Ayo Mas segera di mulai saja biar ndak malam-malam biasa balung tua Mas ndak tawar kena angin malam” kata Karjiman buruh pengrajin genteng memulai percakapan malam itu.
            “ Wah... lha si Salim jedhor mana ini kok malah telat?” Tanya Kamto ketika menyadari sosok tambun penabuh jedhor itu tak ada. Biasanya buruh sapu pasar itu yang paling bisa menyemarakkan suasana dengan guyonan dan kelakar-kelakarnya.
            “Ia mas, tadi saya sudah ke rumahnya tapi kata istrinya dia sudah keluar, saya kira dia duluan kesini ee... lha kok ternyata malah belum datang.” Ujar Sugeng, tukang sol sepatu yang biasa mangkal di kawasan pasar Boyolangu.
            “Apa di tunggu dulu Mas?” Kata Patoni juragan Cenil yang merupakan donatur terbesar bagi komunitas Pager Budoyo ini.
            “Ndak usah lah jedhor kan ndak sering-sering di tabuh...kita mulai saja...” Kata Kamto sang pemegang Tipung lanang sekaligus penembang memberikan keputusan.
            Tipung mulai di tabuh menyibak sunyinya malam. Mengalun sendu mengiringi syair-syair tentang hakikat hamba dan Ketuhanan. Tabuhannya bukan tabuhan yang bisa membuat kita berdendang, menari-nari, bergoyang, atau sekedar menjetikkan jari, akan tetapi irama dari seni jedhor  ini justru akan memaksa kita untuk menunduk, melihat kedalam diri,dan menyadari atas posisi kehambaan serta keagungan Sang Pencipta. Kesenian ini akan mampu mambawa pendengarnya kembali kepada kampung halaman mereka yang telah lama mereka lupakan dan mereka sisihkan yakni, kampung akhirat.
Mumpung urip sucenono badan sira, mbesuk mati,sapa sira kang nyuceni. Poro wali wong mukmin sedoyo-doyo....”
*****
            Waktu hampir tengah malam ketika para jedhoris ini selesai. Bertemankan teh panas dan kaspe goreng yang baru di angkat dari penggorengan mereka melepas kepenatan dan kelelahan usai bekerja seharian ini dengan obrolan seputar topik-topik ringan seperti pekerjaan,politik,kenaikan harga bahkan skandal artis dan pejabat,yang tentu saja mereka bawakan sesuai dengan kapasitas berfikir mereka sebagai orang-orang biasa yang bisa di bilang tidak di perhitungkan. Kecuali kalau ada kepentingan-kepentingan terselubung seperti kampanye pilpres, pilgub, pilkada dan pil-pil lain yang mengusung tema “Kemerdekaan rakyat kecil”, ”Kesejahteraan wong cilik” dan sejenisnya, barulah kaum-kaum seperti mereka ini mendapat sedikit perhatian lebih.. yah paling tidak dapat kaoslah meskipun kadang bahan kaosnya kasar dan warnanya segera pudar.
            “Assalamu’alaikum Mas Kamto..!”  Teriak Salim memecah keakraban malam itu.
“Wa’alikumsalam..lhadalah dari mana Lim? Konco-konco sudah mau pamit ini!” Kata Karjiman ketika melihat Salim memasuki teras rumah Kamto dengan langkah tergesa.
            “Sepurane Mas, tadi saya sudah mau kesini..eee tapi pas saya lewat depan kelurahan saya di  cegat Pak Lurah...! Ada berita gembira Mas...”
            “Berita gembira opo to?? Sing jelas!” Kata Kamto mulai jengkel
            “Grup kita akhirnya di tanggap Mas! Untuk acara tujuh belasan minggu depan!”Kata Salim dengan mata berbinar.
            “Wah mantab itu Lim berapa juta semalem??” Tanya Kasan topeng antusias.
            “Wah kalo itu...” Salim hampir menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba Kamto memotong.
            “Sudah...!Apa San gunanya bertanya tentang sesuatu yang tabu untuk di pertanyakan? Kalau memang kita jadi di tanggap, niat utama kita hanya untuk melestarikan budaya mbah-mbah kita....sudah..! jangan sampai bercampur dengan urusan-urusan materi! Bukannya sok ndak perlu duwit, tapi saya Cuma ndak mau guyub rukunnya kita bubrah cuma gara-gara duwit... prinsip kita hanya melestarikan budaya! Urusan di kasih upah atau tidak itu urusan belakang.. jangan sampai jadi prioritas..!” Kamto terhenyak, Ia juga tak faham apa yang sedang ia katakan. Yang Ia tau sekarang hatinya yang panas karna pertanyaan Kasan tadi sudah mulai mendingin.
            “Mas..! Maaf ya tolong jangan munafik! Kita ini masih hidup di dunia Mas belum di surga! Apa salahnya saya bertanya? Toh kalau misalnya dapat duwit kan lumayan bisa untuk beli alat jedhor baru? Ndak perlu pake jedor yang sudag kendor kabeh itu! ini juga untuk kepentingan dan kesejahteraan komunitas Mas! Coba..kalau misalnya saman dapat uang, apa Mbak Parmi ndak seneng...!!” Jawab Kasan tak kalah tinggi.
            Mata Kamto memerah. Kalau Sugeng tak menenangkan entah apa jadinya,” Sudah Mas tenang... ini pertamakali kita di tanggap sejak komunitas ini berdiri. Tolong jangan sampai ada perpecahan di antara kita...ayo Mas..ndak apik... Kanjeng Nabi dhawuh kita kudu nduwe sikap toleransi dan pemaaf... semua orang itu punya pendapat masing-masing mas..”.
            Hhh... Duwit oohh duwit.. betapa hebat dirimu duwit... padahal belum ada wujudnya, baru dibayangkan saja bisa membuat dua sahabat karib adu mulut bahkan hampir adu jotos. Kamto merasa mamang.. Ia tak yain apa yang diberitakan Salim itu benar atau Salim hanya salah dengar. Pasalnya selama lima belas tahun kelompok ini berdiri baik Pak RT, Pak Lurah,apa lagi Pak Camat tidak pernah memberikan apresiasi apapun pada pelestari kesenian asli Tulungagung ini. Jangankan memberi apresiasi, untuk sekedar bertandang pun tak pernah. Bahkan Kamto ragu mereka tau tentang adanya komunitas jedhor Pager Budoyo.
            “Hhh..”. Kamto mengatur ritme nafasnya,”Ya sudah begini saja, besok saya akan pergi menemui Pak Lurah dan memperjelas masalah ini” Ujar Kamto akhirnya.
            “Leres Mas begitu lebih bijak..” Kata Patoni cenil sambil menepuk bahu Kamto.
            “Ya sudah Mas kalau begitu kami tunggu kabarnya besok pagi, sekarang kami mohon pamit Mas..sampun dalu..” Kata Karjiman mengakhiri pertemuan mereka malam ini. Mereka saling berjabat begitu pula Kasan dan Kamto. Sebenarnya Kamto masing jengkel dengan kata-kata Kasan, tapi semua rasa itu ditepisnya ketika ia melihat rambutnya yang tak lagi hitam dan kulitnya yang tak lagi kencang ,Ia sudah tua...
*****.
“Ndak salah Mas Kamto, saya memang mau nanggap grup jedhor Pager Budoyo untuk memeriahkan acara Agustusan plus kampanye gubernur yang akan di adakan di rumah saya Mas.. Karena Mas Kamto, kalau nanti saya jadi gubernur, saya akan mengangkat derajat orang-orang yang melestarikan budaya leluhur.. yaaah .. seperti Mas Kamto dan kawan-kawan ini... soal bayaran semua beres Mas..Bahkan saya minta sama Mas Kamto dan kawan-kawan Pager Budoyo khusus hari itu ndak usah bekerja dulu seperti biasa, konsen saja pada pagelaran ini, yaah.. latihan gitu lho Mas maksudnya, karna nanti yang hadir itu bukan orang-orang biasa tapi orang-orang besar...Saya yang  menanggung semuanya Mas tenaaanng..” Cerocos Pak Lurah tak memberikan celah kepada Kamto untuk menyela. Jadi Ia cuma bisa mantuk-mantuk saja. Mengiyakan.
“Sudah lah Mas Kamto ndak usah di ambil pusing pokoknya tanggal tujuh belas Agustus pas..ba’da Ashar..saman dan teman-teman sudah stand by di rumah saya... soal alat jedhor, konsumsi, pesangon dan lain-lain serahkan pada saya Mas... pokoknya Mas Kamto cuma bondho awak thok..! Lah lak enak to..?”  Kata Pak Lurah sambil mengantar Kamto keluar. Kamto seperti terhipnotis. Ia hanya bisa diam dan mengamini ucapan Pak Lurah. Dalam hati Ia menyimpan secercah harapan bahwa grup jedhor Pager Budoyo akan di kenal oleh masyarakat luas. Ia mulai berharap banyak dengan penampilan perdananya ini.Kalau ia bisa membuktikan kualitas permainannya,mungkin akan banyak orang yang mempelajari kesenian ini. Sehingga apabila kelak ia mati musik jedhor tak ikut terkubur bersamanya. Dan... untuk Parmi .. kalau Ia sudah terkenal nanti Ia berharap akan melihat sesuatu yang lain di meja makan selain tempe dan sambal terasi. Dan yang paling penting dari semua itu,senyum bahagia dari wanita ayu yang selalu sabar menemaninya itu. Ia tak boleh munafik.
*****
“Mas,Pak Lurah baik sekali ya.. saya ndak menyangka Pak Lurah akan demikian peduli dengan seni-seni tradisional macam jedhor ini..” Kata Parmi sambil merapikan jarik motif kawung yang di kenakan suaminya.
“Ya semoga semua lancar dik...Mas berharap besar pada acara ini. Mas pengen kesenian ini dapat di terima oleh masyarakat dan mendapat tanggapan yang positif. Jadi Mas ndak perlu bingung memikirkan siapa yang akan melestarikan budaya ini setelah Mas ndak ada..” ujar Kamto sambil mematut dirinya di hadapan cermin. Ahh.. rupanya dia tidak terlalu terlihat tua. Apalagi setelah kumis dan rambutnya kembali berwarna hitam berkat semir rambut dari warung Mbok Welas. Kamto merasa kembali muda.
“Semoga semuanya lancar Mas.. Maaf Parmi ndak bisa ikut mengantar. Sepertinya saya agak ndak enak badan..” ungkap Parmi.
“Iyo.. istirahat saja di rumah, kuncinya Mas bawa ya..Mungkin nanti pulang agak malam. Mas berangkat dulu” Jawab Kamto sambil memberikan tangannya kepada Parmi yang segera menggenggam tangan Kamto seraya menciumnya dengan penuh hormat.
“Ia Mas hati-hati”
Luapan semangat mulai memenuhi dada. Bertemankan kesunyian dan desir angin ia melangkah. Langkah penuh harapan dan asa. Mata tuanya berbinar, kaki hitamnya mendadak kuat. Jangkrik-jangkrik dan pokok padi yang menguning menatap kepergiannya dengan keraguan, tapi ia tak peduli, ia terus melangkah mengikuti kata hati,mengikuti apa yang ia yakini. Meski ia tak tau pasti apa yang akan terjadi.
“...Kalo-kalo sikalono,kalo-kalo yola sikalono. Sikalono nuli den jawab. Nuli den jawab den jawab sopo Pengeran.Nuli den jawab den jawab Allah Pengeran. Kala –kala yola sikalono,kalo-kalo yola sikalono. Sikalono nuli den jawab. Nuli den jawab sapa nabimu. Nuli den jawab den jawab Nabi Muhammad....”
      Alunan musik jedhor tak mengizinkan malam untuk menebarkan kesunyiannya, tak membiarkan angin menghembuskan desiran lelap. Syair yang mengalun dari bibir yang bergetar, kesyahduannya diamini dengan tetea-tetes sunyi yang tak kuasa terbendung setiap kali syair itu bercerita tentang kecintaan kepada Tuhan atau tentang kematian. Mereka seakan tak peduli dengan kepekatan malam yang kian mendominasi.Emosi dalam nada, ketukan dan syair yang indah berpadu dalam sebuah pagelaran seni persembahan dari pahlawan-pahlawan sejati negeri ini. Yang mengabdikan hidup mereka untuk menjaga apa yang ada. Bukan mencari apa yang tak ada.
******
      Pagelaran telah usai, para tamu sudah banyak yang pulang. Sejatinya mereka juga ingin pulang tapi, nampaknya ada sosok yang mereka tunggu. Tak lama sosok itu mendekat menghampiri mereka,” Wah muantab Mas Kamto..hebat.. tamu-tamu saya banyak yang suka Mas...” Sambut Pak Lurah ketika Kamto,Kasan,Patoni, Sugeng, Karjiman dan Salim menuruni panggung.
      “Alhamdulillah kalau memang begitu Pak.. saya ikut senang.” Jawab Kamto sumringah.
      “Tapi kalau boleh, saya mau kasih usul ini Mas Kamto sebenarnya saya ini cuma penyampai dari pendapat teman-teman saya di dalam tadi lho.. Begini, kalau bisa, mungkin lebih bagus kalau musik jedhornya itu di mix dengan musik dangdut Mas.. ya yang ada biduannya sekalian mas biar ndak bosen gitu lho maksud saya.. kan wanita cantik itu obat stres to..hahhahahhahha....”Ungkap Pak Lurah enteng tanpa memperhatikan wajah lawan bicaranya yang memerah.
      “Sabar Kang... sabar...” Bisik Sugeng menenangkan.Sekedar antisipasi untuk sesuatu yang tidak diinginkan.
      “ Oo... iya Mas ini janji saya semoga bermanfaat untuk keluarga di rumah..Dan terimakasih kehadirannya malam ini Mas Kamto, dan teman-teman komunitas Pager Budoyo..semoga sukses selalu hahahah..” Lanjut Pak Lurah sambil membagikan amplop berwarna putih.
      “Emm... Iya Pak Lurah matur nuwun.. kalau begitu kami pamit Pak lurah..” Karjiman segera berpamitan, Ia tak ingin melihat Kamto sampai kehilangan kesabaran.
      Segera Ia pasrah kan dirinya pada kursi tua di sisi kiri ruangan 4x4 itu. Kamto mengatur nafasnya yang naik turun. Berulangkali ia mengucap istighfar untuk meredam kekecewaannya yang tak terbantahkan. Beginikah cara orang menghargai sebuah karya asli leluhur? Jujur, Kamto tidak terima seni tradisional warisan nenek moyangnya di samakan dengan musik dangdut yang menurut persepsinya jauh dari norma dan etika.
      Parmi sudah tidur ketika ia pulang...  dan sejenak ingatannya kembali pada amplop dari Pak Lurah tadi. Sebenarnya Kamto malas mengingat tentang Pagelaran, Pak Lurah, atau yang berhubungan dengan itu semua. Termasuk amplop itu. Entah kekuatan apa yang memaksanya membuka amplop putih itu. Darahnya kembali meninggi ketika melihat selembar uang merah dan sebuah kertas yang bertuliskan tulisan kapital berwarna hitam,
“INGIN BUDAYA TETAP LESTARI? INGIN RAKYAT CILIK MAKMUR DAN DAMAI? JANGAN RAGU JANGAN BIMBANG! PILIH KAMI NO 2! “
      Disertai foto Pak Lurah dan entah siapa Kamto tak kenal,dan tak mau kenal. Kamto muak. Bermacam-macam yang ada di fikirannya. Bermacam-macam yang ingin di ungkapkannya. Kekecewaannya tak terbendung. Nasib budaya semakin tidak jelas.Betapa anehnya bangsa ini. Ketika seni dan budaya tradisional masih ada di depan mata mereka seakan tak peduli, tapi ketika seni dan budaya di klaim oleh bangsa lain mereka marah dan baru berkoar-koar tentang pelestarian budaya. Kamto mulai lelah.. mata tuanya sudah tak sanggup lagi, akhirnya ia memilih untuk menyerah pada keajaiban malam yang menyenyakkan.
*****
      Teh panas, nasi yang mengepul, tempe dan sambel terasi terlihat lebih indah bagi Kamto hari ini. Dengan semangat ia giring becak kesayangannya, bersiap berangkat setelah sebelumnya berpamitan kepada  istri tercintanya. Kamto hampir meninggalkan pekarangan rumahnya ketika Ia mendengar suara yang akrab di telinganya,”Mas Kamto..! ba’da Isya’..!!” Teriak Kasan dengan topeng dagangan dan kopyah hitam nusantaranya. Kamto mengacungkan jempol tanda sepakat. Tak perlu dikenal untuk menjadi pecinta seni dan budaya, tak perlu berduit untuk menjadi pelestari seni dan budaya, tak butuh orang besar untuk melanjutkan estafet seni dan budaya. Sederhana, hanya membutuhkan keberanian dan komitmen untuk terus berkarya....

SALAM BUDAYA


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar