Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Amplitudo (A) Perasaan

Oleh Rofikatul Islamiyah
 
Entah berapa waktu (yang pasti sudah lupa kapan terakhir pertemuan itu) ku tinggalkan semua kenangan itu, perlahan hidup ku berjalan normal. Durasi setiap kegiatan teratur sesuai dengan apa yang di pleningkan. Aktivitas berjalan dalam skema yang tersusun rapi sesuai dengan keseharian. Tak jarang ku merasa bosan namun rasa itu juga hilang begitu saja. Ku berjalan dalam koridor yang terstruktur. Hari-hari tak bervariasi. Berjalan datar, tak ku dapatkan gelap juga terang. Entah hati ini mungkin sudah mati. Atau masih tertidur. Amplitudo kehidupan serasa datar, seperti orang koma yang terdapat dalam monitor rumah sakit. Mungkin lebih seperti seorang putri tidur di menara di balik goa yang menunggu sang pangeran untuk membawanya terbang. Namun dengan begini aku tak pernah merasa sedih ataupun kecewa seperti pegalaman-pengalaman masa lalu yang terulang-ulang dengan sebab pangeran dalam fajar (yah, ku sebut dia_pangeran fajar). Hingga semua yang ku jalani terlampaui dengan seharusnya. Maka, ini bukanlah keburukan kan? Meski tak lagi ada rasa senang, cinta, sedih atau benci. Ada yang mengatakan “mungkin kau telah menjadi robot. Tak berperasaan”. Itu salah, saya memang tak merasakan apa-apa. Tapi perasaan itu masih ada, selain itu robot tak berakal dan saya masih menggunakan akal untuk segala hal yang ku rangkai dalam pulze kehidupan ini.
 
Terbukti skema itu hancur berantakan ketika kita jumpa tanpa terencana. Jauh sebelum kau melihat dan menyapaku ku tahu ada kamu di sana. Ku tata hati sekut baja, ku berusaha tenang dan memberanikan untuk menyapa sebab kau adalah petandang ku. Namun, tak dapat ku pungkiri atau kau juga menyadari bahwa perangai ku sedikit berlebihan atau lebih tepatnya salting. Kita hanya saling sapa, basa-basi sedikit selebihnya diam, oh tidak selebihnya ku memalingkan diri darimu, bersua dengan yang lain. Ku takut tingkah ini semakin berantakan. Dan kau tak nyaman dengan hal itu. Meski sangat ingin ku ucap meski sekali dengan suara lemah dan dekat di telingamu "aku sangat merindukanmu" ya hanya itu atau “aku rindu kebersamaan kita”. Walakin, ku tak mampu! ya jelas, meski dalam hal lain aku adalah sosok pemberani namun untuk perasaan tentang mu nyaliku menjadi ciut seciut ciutnya. Ku tak ingin kau risih dan menjauh. Meski realitanya kita memang jauh. Dengan jauhmu itu ku berhasil membangun skema hidup tanpa rasa, yang hari itu telah hancur berkeping-keping. Nah benarkan? saya bukan robot tapi manusia yang tenggelam dalam samudra kenangan. Hingga indahnya permukaan tak lagi ku rasa, semua yang di permukaan bagai fatamorgana pengisi kekosongan. Apalagi yang di daratan, cinta, kasih dan cerita seakan lewat tanpa sapa.

Pondasi kestrukturalan aktivitas itu ternyata tak begitu kuat di bandingkan tsunami perasaan yang terjadi hanya beberapa menit. Kini skema itu luluh lantah, hampir setiap keheningan kau tiba-tiba menjelma dalam fikiran. Memudarkan konsentrasi. Melarutkan imajinasi tanpa bayang. Menyita kefokusan. Jika sudah begini, bisakah ku meminta pertanggungjawaban? Untuk mengadili perasaan? Mungkinkah ada pasal tentang rasa yang abstrak? Namun tak mungkin rasanya, selain ku tak memiliki bukti fisik untuk menuntutmu, bukan kau tersangkanya. Tapi lebih tepatnya diri sendiri. Seperti bunuh diri.

Aduh terasa begitu naif. Menyadari ketidakpastian yang pasti. Tapi tetap menikmati. Apakah ini kebodohan yang nyata? Bukankah fitrahnya mencinta, merindu, membenci juga kecewa?
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar