Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Si Manis











            Di suatu pagi, ketika sinar sang mentari mulai menghangatkan seluruh jagat raya dan awan-awan indah mulai menghiasi  cakrawala. Aku dan bekal makananku telah siap untuk bersantai bersama, menghabiskan waktu pagi hanya berdua saja di tengah gazebo taman yang indah nan asri. Perut ini sudah terasa perih karena menahan lapar sejak di kelas tadi. Rasa haus juga mulai menyentuh tenggorokan ini. Ah, aku akan usaikan semua rasa ini.

            Ku buka perlahan tutup wadah bekalku dengan penuh perasaan, aroma masakan ibu sudah tercium mesra di hidungku. Dengan segera ku lahap penuh semangat, namun di tengah asyiknya aku menikmati makanan itu. Ada sesuatu yang menatapku pilu, kedua matanya penuh harap dan tangannya seolah-olah ingin ikut menjamah makanan ini. Ah, aku begitu kasihan melihatnya.


            “Sini, mendekatlah. Aku punya tulang ayam untukmu”. Ia pun melangkah mendekatiku. Perlahan ku pilihkan tulang ayam untuknya lalu ku berikan padanya. Ia nampak begitu gembira dan langsung melahapnya tanpa menatapku.

             Aku tersenyum puas, dalam hati terasa lega. Perasaan ini begitu senang karna bisa berbagi dengannya. Aku tahu dia sedang lapar sama sepertiku. Matanya yang pilu dan penuh harap membuatku tak tega untuk menyantap makanan itu sendiri.

            “Meong” suaranya yang lucu terdengar, aku menolehnya. Dengan wajah dan ekspresi yang sama ia menatapku kembali. Mungkin dalam hatinya ia berkata “aku masih lapar, tolong kasih aku makanan lagi!”. Aku tersenyum geli, dasar sok tahu bahasa kucing haha. Ku ambilkan ia sedikit daging ayam lalu ku remas dengan sedikit nasi. Aku berharap karbohidrat dalam nasi tersebut dapat membantu kucing itu untuk merasa kenyang. Ketika nasi telah berada di hadapan si kucing, ia menatapnya dan mencium baunya. Mungkin ia sedang menerka makanan apa yang aku berikan, mengapa tidak sama dengan makanan yang pertama tadi. Ah biarlah dia sibuk dengan pikirannya sendiri. 

              Beberapa menit kemudian, aku telah menghabiskan makananku dan menyisakan sedikit untuk kucing tadi. Ia terlihat begitu senang karna ada secuil daging ayam yang ku sisakan. Aku memandangnya dengan hati gembira, menatapnya yang sedang menghabiskan sisa makananku. setelah ia selesai melahapnya, ia menatapku kembali. Ku bereskan wadah bekalku dan ku masukkan ke dalam tas. Lalu aku bersiap-siap untuk meninggalkan gazebo ini. Kucing itu masih memperhatikanku, aku memandangnya sambil berkata,

“Terima kasih ya sudah menemaniku makan, semoga kamu juga merasa kenyang dengan sedikit makanan yang ku berikan tadi. Sampai jumpa si manis!”

Aku meninggalkannya dengan tersenyum, ia menatapku seolah-olah mengucapkan terima kasih padaku. Langkah kaki ini perlahan-lahan menjauh dari tempat itu dan menuju sebuah pintu perpustakaan kampus yang terbuka lebar.
 








Nur Sholikhah
Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Perumahan BUKIT CEMARA TIDAR
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar