Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

SERIAL MAKRUPA - MAKRUPA NGANTUK MAK


Oleh Dyah Ayu Fitriyesss

Makrupa menunduk layu. Apalah daya, kata hatinya. Tak seperti teman-temannya yang solehah dan menjadi wanita idaman. Makrupa hanyalah gadis ngantuk an, yang dibilang pandai pun nggak pantas, wong di kelas ngantuk terus kerjaannya. Dibilang sholihah ya nggak sama sekali. Pagi ini berkali-kali ia mengucek matanya sambil membatin “Kenapa sih kau ini ngantuk an diajak belajar, tapi awet jika nonton pertandingan”. Tapi seberapa banyak mata itu dikucek, pipi itu dicubit, ia tetap saja gagal melek.

Si Desi menyenggolnya memberi isyarat agar segera cuci muka. Makrupa tak menggubris. Matanya tak kuat lagi, alih-alih ke kamar mandi, bisa-bisa pingsan ia di jalan karena ngantuk. Ia baru mau berdiri ketika mendengar ketawa tipis teman-teman perempuannya melihatnya. “Dasar para penyihir, mak lampir, nggak membiarkan aku tidur dikit aja.”


Setelah ambil wudhu, kondisinya semakin mengenaskan. Kantuk semakin berat. Desi tak henti-hentinya menyenggol sohibnya ini. Sesekali membisikkan “Banguuun, ketahuan Pak Narto noh.” Pikri anak paling bandel pun membuat ulah. Ia ajak semua teman kelasnya memandangi makrupa yang terkantuk-kantuk. “Wahahaha. Makrupa lagi-lagi ngantuk.” Bisiknya pada teman-temannya. O bukan bisikan lebih tepatnya, lha wong sekelas dengar semua.  

Makrupa terbangun sambil terkaget-kaget. “Wahahaha” seisi kelas menertawakannya. sedetik sebelum mewek ia segera berlari keluar kelas. Tak perduli pak narto yang memanggilnya sambil membawa penggaris kayu panjang.

“Maaaaaaak… Maaaaak… Huaahuaa hiks hiks.” Teriak makrupa di teras rumah. Emaknya yang sedang menggoreng tahu-isi di warung segera berlari keluar. Padahal sutil dan serok tahu masih di tangan.

“Loh loh kenapa nduk?”

“Maaaaaaaak….. Maaaaaak… Huahuahua. Mak dulu hamil makrupa ngidam tidur ya mak, makrupa jadi ngantuk an. Hiks hiks.” Rengekannya persis anak tetangga ketika ayam piaraannya digoreng sang ibu.

“Wes wes masuk dulu sini nak.” Mau memeluk anak gadisnya emak baru sadar kalau alat-alat gorengan masih di tangan, hehe.

Mereka segera masuk diikuti ibu-ibu yang penasaran mendengar tangisan Makrupa. Emak segera mengusir halus para ibu-ibu ratu gossip itu. “Kenapa to nduk nangis kayak gini ini.”

“Huahua, mak Makrupa malu ngantuk an di kelas huhuhuhu.”

“Wes wes udah nangisnya. Intropeksi diri makanya.”

“Iya mak” tangisnya mulai mereda.

“Kalau malam jangan begadang nonton bola, biar paginya bisa seger. Makannya juga jangan banyak-banyak. Nabi kan sudah memberi contoh itu pada kita. Tidur setelah isya tanpa banyak ngobrol sana sini. Makan juga secukupnya, kalau kekenyangan bisa ngantuk. Tombo ati pula berbunyi ‘kudu weteng ingkang luwe’ perutnya harus lapar. Makanya jangan suka diam-diam bawa gorengan sekresek ke sekolah. Rugi pula mak jadinya. Dan mohon sama Allah agar bisa nggak ngantuk an lagi. Lha wong mata juga Allah yang punya. Kalau ada teman yang mencibir ya diemin aja. Jangan ditiru, mengolok orang lain sama dengan mengolok ciptaan Allah. Wes gitu ya nduk.” Kata emak sambil memeluk dan mengusap pelan kerudung makrupa yang kotor. Paling-paling ini anak pulang lewat jalan pintas di hutan. Batin emak.


“Kamu tadi lewat hu …” belum selesai emak bertanya, ternyata si makrupa sudah tertidur dari tadi. Dasar ini anak gadis, padahal emak sudah repot merangkai kata buat nasehatin. Ternyata.     

Pondok Pesantren Darun Nun Malang
www.darunnun.com
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar