Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

KETIKA KEDUA MATA SALING MENYAPA


oleh  : zahra
Ada perasaan aneh yang mengalir sejuk di dada Sayyidah Halimah kala itu. Bayi yang ia gendong itu seperti diliputi oleh cahaya,senyumnya indah, dan menenangkan siapapun yang melihatnya. Bahkan Abu Lahab yang terkenal keras pun luluh hatinya ketika melihat keponakan tercinta sekaligus musuh bebuyutannya itu.
                Apa yang tidak dapat kau tolak maka sambutlah kehadirannya, paceklik dan kemarau panjang yang melanda kota Makkah memaksa penghuninya untuk belajar bertahan dan menjadi kuat. Panas matahari tak memberi ampun sedikitpun pada sahara-sahara yang menganga kehausan. Debu-debu beterbangan dalam putaran angin panas yang kebingungan, jika bukan karena alasan bertahan tidak akan ada orang yang cukup nekat melewati punuk-punuk sahara yang membakar dan seakan berusaha mengenyahkan apa saja yang berjalan diatasnya.
                Bani Sa ad yang terkumpul dalam sebuah rombongan kecil menuju Makkah. Mereka berjalan beriringan tak peduli dengan perut yang mengempis apalagi menyerah pada gertakan panas padang pasir. Tahun itu mereka harus mendapatkan bayi susuan. Sudah menjadi sebuah tradisi di Arab kala itu untuk menyusukan anak-anak mereka kepada wanita-wanita Arab dusun dengan harapan anak-anak mereka akan menjadi seorang yang fashih dalam bertutur kata dan santun dalam berperilaku.
                Perjuangan tidak pernah mengecewakan hasil, meskipun terkadang kita terlalu dungu untuk memahami esensi dari hasil itu sendiri dan kemudian kecewa akibat dangkalnya kita memahami makna keberhasilan. Mereka sampai di Makkah. Segera para perempuan Bani Sa ad memilih bayi-bayi dari keluarga terpandang dan terkemuka untuk disusui. Berbeda dengan mereka, Sayyidah Halimah dan suaminya kala itu tengah kebingungan karena belum mendapatkan bayi untuk disusui. Yang tinggal hanya bayi yatim Abdullah bin Abdul Munthalib. Sedangkan disisi lain ada sebuah anggapan bahwa menyusui seorang bayi yang yatim itu hanyalah sebuah kerugian semata. Tapi ternyata Sayyidah Halimah dan suaminya tidak memiliki pilihan lain selain mengambil bayi laki-laki tersebut. Maka merekapun mendatangi Sayyidah Aminah dan memohon izin untuk menyusui bayi laki-laki beliau yang akhirnya mereka ketahui bernama Muhammad. Keajaiban pun DIMULAI.
                Pengalaman pertama Sayyidah Halimah memandang Nabi adalah ketika beliau masih dalam gendongannya. Ketika mata mereka bersapa dan senyum penuh cahaya dari bayi yang merona itu membuat Sayyidah Halimah tak mampu lagi berucap. Yang ia tau kini ia sangat menyayangi sosok mungil yang ada di belaiannya itu layaknya ia menyayangi anak kandungnya sendiri.
                Musim kemarau ganas melenyapkan sungai-sungai kecil, mengeringkan danau dan tak memberikan kesempatan kepada tanaman untuk tumbuh. Paceklik nan parah kala itu juga berimbas kepada air susu Sayyidah Halimah yang sudah lama kering, bahkan anak beliau sendiripun sudah mulai bosan menangis yang tinggal hanya rengekan-rengekan kecil  yang dijawab oleh tatapan kebingungan. Tapi ajaib, dihari datangnya Rosulullah dalam keluarga tersebut air susu sayyidah Halimah mengalir deras sehingga Muhammad kecil dan bayi  sayyidah Halimah sendiri dapat tidur dalam keadaan kenyang. Begitupula keanehan yang terjadi pada kambing kurus beliau. Mendadak kambing kurus yang susunya kering tersebut berubah menjadi penuh dan berisi sehingga Sayyidah Halimah dan keluarganya dapat memerah dan meminumnya sampai kenyang.
                Begitulah Sayyidah Halimah merasa bahwa bayi ini adalah anugerah dan keberkahan dari ALLAH untuk keluarganya. Karena itulah setelah lima tahun menyusui Nabi, Sayyidah Halimah pergi ke Makkah bukan untuk memasrahkan Rosulullah kembali kepada orang tuanya melainkan untuk meminta izin kepada Sayyidah Aminah untuk mengasuh Nabi setahun lagi, Sayyidah Aminah pun memberinya izin. Dan ia pulang membawa kebahagiaannya yang akan terus bertambah dalam satu tahun kedepan.

untuk mereka yang mencintai rupa.. 
dia adalah yang tersempurna...
untuk mereka yang mencintai akhlak...
perkenalkan akhlaknya adalah AlQuran..
untuk mereka yang mencintai kekayaan...
sesungguhnya seluruh dunia berpihak padanya...
untuk mereka yang mencintai ilmu..
ketahuilah ia adalah kotanya...
dan untuk mereka yang merindukan cinta...
inilah dia yang telah mencintaimu sebelum kau pernah melihat dunia..
maka bersyukurlah dan jangan sia-siakan cintanya...

-zahra-




Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar