Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

PENTINGNYA BERSIH

Risalatul M.

Minggu pagi itu salah satu santri di pondok pesantren mahasiswa sedang  bersih-bersih. sesaat kemudian penjual roti yang biasa berjualan keliling di situ lewat.
"Roti-roti, murah, seribuan." kata penjual roti dengan suara lantang.
"Alhamdulillah. Rejeki ni.. kebetulan sekali, perut sudah keroncongan dari tadi belum sarapan." batin Ahmad.
"Beli pak." Teriaknya. Ia pun meletakkan sabitnya dan menuju ke penjual roti.
"Mau beli apa nak? ini ada roti goreng, donat dan beberapa jenis gorengan." Jawab penjual roti.
"Beli donatnya dua, roti goreng dua dan pisang goreng satu ya pak.."
"Ini nak.."
tiba-tiba datang devisi kebersihan memergokinya.
"Ahmad.. ngapain kamu di situ?"
"Wah, mati aku.. ketahuan.."batin Ahmad.
"ini bang, beli roti, kan masih laper bang...belum sarapan". Jawabnya.
"Wah.. kamu nih.. alasan saja.. ya udah wes.. cepetan.. kasihan teman-temanmu tu.."
" iya bang, sebentar ya.. bentar lagi
saya ke situ bang."
***
"Pak, saya ini capek, sudah kuliah, setiap hari ngaji masiiih aja disuruh bersih-bersih.." gerutu ahmad.
"Alah nak.. gitu aja kok repot.. dibersihkan  semua pondok malah lebih bagus.."
"Kan capek pak.. masak anak kuliahan disuruh bersih-bersih sebanyak ini pak.. sudah gk zaman."wajah Ahmad kesal tak karuan.
" Zaman gini ini yang penting ada uang pak.. tinggal bayar pak kebun sudah deh bisa bersih.."
Penjual roti itu tersenyum faham "Wah.. iya nak.. memang benar. tapi coba deh lakukan dengan senang hati.."
"Tapi kan capek pak.. waktunya liburan, boring pak..seharusnya refresing." Ahmad semakin kesal dengan jawaban penjual roti.
"Wah.. jika kamu mengerti apa hikmah dari bersih-bersih itu, maka kamu akan rajin bersih-bersih nak.."
"Memang apa sebenarnya hakikat dari bersih bersih itu pak?"
"Jika kamu lagi bersih-bersih niatkan untuk membersihkan hati mu... mumpung masih di pondok sekarang manfaatkan kesempatan itu.
Dulu saat saya pernah mendengar cerita dari guru saya. kamu tahu imam Ghazali?
alkisah, suatu hari, ibu imam Ghazali meminta agar imam Ghazali sholat bersama adiknya yang bernama Ahmad. ibunya meminta agar imam Ghazali menjadi imam sholat. ketika itu, sang adik melihat darah dari tubuh sang kakak. maka Ahmad membatalkan makmum kepada kakaknya.
seusai shalat, imam Ghazali bertanya: mengapa kamu membatalkan makmum kepadaku? Adiknya menjawab saya melihat darah di tubuhmu. Imam Ghazali mengiyakan. Memang, saat itu saya berfikir tentang masalah haid.
imam Ghazali lalu bertanya kepada adiknya,  dari manakah engkau belajar ilmu pengetahuan seperti itu?
saudaranya dengan polos menjawab, saya belajar dari seorang syekh yang bekerja sebagai tukang jahit sandal-sandal bekas.
imam Ghazali lalu pergi menemui syekh tersebut. Disana beliau mengutarakan niatnya. saya ingin belajar kepada tuan. Syeikh itu menyangsikan kesanggupan Al Ghazali.
Al Ghazali meyakinkan sang Syeikh, Insyaallah saya kuat, jawabnya.
'Bersihkanlah lantai ini' kara Syeikh
Al Ghazali hendak menyapu lantai tersebut. 'bersihkanlah dengan tanganmu' kata Syeh.
Al-Ghazali menyapu lantai dengan tangannya, kemudian dia melihat ada kotoran yang banyak. Ia pun bermaksud menghindarinya.
Syekh berkata 'bersihkan pula kotoran itu dengan tanganmu.
Al Ghazali bersiap membersihkan dengan menyingsingkan pakaiannya. melihat keadaan yang demikian itu syekh berkata: nah, bersihkan kotoran itu dengan pakaian seperti itu".
Al Ghazali menuruti perintah syekh tersebut dengan penuh Ridha dan ikhlas.
selesai melakukan tugasnya Al Ghazali pulang, setibanya di rumah, beliau mendapatkan ilmu pengetahuan yang luar biasa.
mudah-mudahan kamu dapat berokah dari bersih-bersih di pondok, semoga kamu juga mendapat barokah seperti imam Ghazali nak.. kata penjual roti.
Ahmad: amiin.. ya udah pak, saya tak bersih-bersih lagi biar seperti imam Ghazali..

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar