Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Cerita Di Balik Halaman



Oleh Rofikatul Islamiayah
Dewandaru, 02/02/2017

Sejauh apapun ku melangkah, sekuat apapun ku berlari, selama apapun ku menjauh, sebisa apapun ku berdamai dengan jarak dan sebertahan-tahannya ku diam dalam ruang yang tak sama. Pada dasarnya ada titik, ruang, langkah dan menit atau bahkan jam dan jam lagi ku merasakannya. Tiga kata, maknanya juga tidak tersirat, jelas ya sangat jelas dan sungguh di damba bagi para perindu halaman apa lagi saat benar-benar butuh teman. Butuh kasih dari mereka-mereka yang tersayang. Butuh pelukan dari orang yang paling membuatnya nyaman. Butuh nasihat dari orang yang mengajarkannya kuat. Semua terasa berat dan semakin berat saat diri menjadi pecundang, takut atas kicauan burung-burung sebelah, sesak dengan goyangan rerumputan. Dan akhirnya berdusta dengan keaadaan, pura-pura baik di kejauhan, sok sempurna dengan realita.


Semakin di tahan rasa itu, semakin sering datangnya. Perih. Sendiri. Ingin jumpa tapi tak berdaya. Entah, benar-benar tak berdaya atau hanya ketidak berdayakan yang di budayakan demi terlihat keren. Terlihat berkilau dari jauh dan selalu harum dengan status dunia. Inikah taqdir?? Atau budaya kepecundangan?? Bermanis-manisan dengan kalimat "ini adalah perjuangan, suatu saat akan ada kebersamaan yang di rindukan". Terlalu munafik atau sekedar penghibur belaka?? Bukankah perjuangan di ruang dan waktu yang sama akan lebih sempurna?? Haruskah kerepisahan ini di anggap sub bagian dari dinas yang dinamakan perjuangan?? Bagaimana jika nanti, sebelum waktu yang di tunggu, kita benar-benar terpisah oleh dimensi??
Sesak. Rasanya ingin teriakan pada dunia. "Aku tak mau begini. Aku ingin bersama mereka. Menemani hari-hari, apapun yang terjadi". Tapi kembali lagi, aku terlalu pecundang. Pecundang nyata, menafikan rasa, rasa ingin pulang!!

Namun...

Berkat kicauan dan goyangan rerumputan itu, ku melangkah jauh dengan penuh ketidak pastian. Ku pergi dengan rasa sakit dalam dada. Ku tinggalkan halaman tanpa menoleh sedikitpun, namun dengan buliran-buliran air yang terus berjatuhan dari indera penglihatan. Sepertinya akan berat. Al hasil, ku berjumpa dengan tokoh-tokoh hebat dan inspiratif. 

Tak akan ku biarkan kepecundangan ini terus menggerogoti nyali. Ku katakan pada dunia termasuk para burung dan rerumputan itu. Inilah aku, karena kalian aku begini. Ya, menjadi sosok kuat, mandiri tentunya terhormat. Terimakasih
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar