Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Arsan yang Ihsan

Oleh:  Evi Nurjanah


 “Besok aku tak bisa Mal menemanimu ke Book Fair” suara Arsan dengan tegas memberikan jawaban.
Loh, kenapa San. Kita kan bisa ijin kerja setengah hari besok. Lagi pula besok Book Fair terakhir lo San.
“Iya Mal aku tahu, Tapi aku merasa tidak enak Mal kalau ijin sebab mau ikut Book Fair itu. Kita di kantor ini juga punya tanggung jawab lo Mal.”
“Iya San aku paham. Tapi ini kapan lagi San. Mumpung kita masih di Bandung lo. Tahun depan kita sudah resign lo. Hayyo….”
“Walah… walah.. kamu ini Mal. Book Fair itu kerap kali di buka lo Mal.”
“Sudah.. sudah San, kita lihat besok saja bagaimana kondisi di kantor. Ayo kerja kerja…”
“Baiklah Mal, terserah engkau saja.”
Arsan hanya menimpali kalimat penutup Jamal dengan senyuman hambar. Pertanda bahwa ia kurang setuju dengan ajakan Jamal.

                Arsan dan Jamal, mereka adalah staff di PT. Wahana Karya, perusahaan percetakan yang sudah sangat berkelas di dunia percetakan di Indonesia. Arsan adalah seorang layouter, sedangkan Jamal adalah seorang admin di perusahaan tersebut. Mereka berdua merupakan teman akrab  sejak kuliah di kampus UIN Syarif Hidayatullah. Dua sahabat karib ini biasa menghabiskan jam istirahat bersama.
                Tak jauh berbeda dengan hari sebelumnya, siang ini pemuda berusia kurang lebih 23 tahun dengan rambut lurus cepak dan sedikit basah ini melayani tawaran Jamal untuk makan siang bersama di warung “Mbok Dar”. Yah, Arsan merupakan pemuda yang susah untuk berkata “tidak” jika diajak temannya satu ini, Jamal. Kecuali memang ajakan Jamal dirasa kurang tepat baik kondisi, waktu maupun efek ke depannya.
                Usai makan siang dan ngobrol mengenai Book fair, Arsan pun kembali berkutat dengan komputernya.
***
“Assalamualaikum mas bro…” salam Jalam sembari menepuk bahu kanan Arsan.
Sontak, Arsan yang tengah sibuk dengan komputer pun mendongakkan kepala.
“Eh, Jamal. Waalaikumsalam wa Rahmah. Tumben kamu Mal berangkat pagi. Hehe”
“walah… walah… kau ini tak bolehlah bilang macam tu. Aku ni nak jadi karyawan teladan.”
“Isssh isssh isssh. Nada bicaramu sudah seperti orang Malaysia saja Mal. Hehe.  Sudah sana ke ruangan Mal, mari bekerja. Doa dulu lo Mal.”
“Okelah…”
Jamal Nampak begitu bahagia karena ia sudah sangat yakin akan pergi ke Book fair sore ini. Tak heran jika ia sangat ingin menghadiri acara itu tepat waktu, karena pameran buku kali ini merupakan pameran terbesar sepanjang sejarah Book Fair yang pernah digelar di Kota Kembang ini. Salah satu acara yang paling ditunggu-tunggu adalah “Duet Menulis” yang akan dilaksanakan tepat pukul 15.00 WIB. Acara Duet Menulis tersebut sekaligus menjadi acara pembuka pada pameran buku kali ini. Duet akan diikuti oleh beberapa penulis ternama di Indonesia, di antaranya Darwis Tere Liye, Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata, Hilman Hariwijaya, Asma Nadia, Dewi Lestari, dan Agnes Davonar. Begitu meriahnya desain acara ini, sehingga wajar jika seorang pemuda yang rutinitasnya dikelilingi oleh karya-karya, berbackground sastra, Jamal ini sangat ingin hadir tepat waktu.
Pukul 14.30 WIB, PT. Wahana akan memulai rapat koordinasi untuk semua pimpinan cabang. Rapat dilaksanakan di Hotel Sabana. Sehingga semua pimpinan akan bergegas menuju ke hotel tersebut, sedangkan para staff tetap harus menjalankan tugas dan pekerjaannya seperti biasa.
Para pimpinan pun telah berangkat dengan tiga rombongan Avanza bercat putih dengan corak garis-garis hitam yang nampak seperti pena bertuliskan PT. Wahana Karya. Usai hilang suara gerangan mobil tersebut, para staff nampak bergembira karena mereka merasa leluasa tanpa pimpinan di kantor.

“Eh, Arsan ayo kita keluar sekarang. Mumpung masih pukul 14.40 WIB. Kita bisa sampai di sana pukul 15.00 WIB tepat San.” Jamal mulai merayu Arsan sambil meletakkan secangkir kopi putih kesukaan sahabatnya itu.
“Maaf Mal, aku tidak bisa. Masih ada yang harus ku selesaikan. Jikalau engkau ingin pergi silahkan Mal.”
“hemmmm.. San ini kan naskah yang masih akan terbit tiga bulan mendatang. Tak perlulah kau kerjakan sekarang. Lagi pula pimpinan sedang rapat. Jadi tak akan masalah jika kita pulang lebih awal.”
“Maaf Mal, aku merasa tidak enak meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Tak apa jika engkau pergi dahulu Mal, aku akan menyusul seusai kerja.”
“San.. San… kau ini terlalu rajin San…”
“Bukan begitu Mal, aku hanya tak enak jika waktuku kosong, mumpung ada kerjaan ini jadi kugarap sajalah Mal.”
“Okelah, aku nak pergi dulu lah. Ku tunggu kehadiranmu di sana San.”
“Siiiip. Hati-hati Mal.”
Tutup Arsan dengan melambaikan tangan kepada Jamal.
Jamal pun sampai di lokasi pameran. Ia memarkir motornya tepat di samping gerbang masuk. Diliriknya sebuah jam tangan yang melekat di tangan kanannya. Pukul tiga lewat lima menit, ia pun bergegas masuk dan mencari tempat duduk di muka yang belum terisi. Namun, setibanya ia di lokasi, Nampak pengunjung masih sedikit dan banyak kursi yang masih kosong. Ia pun duduk di depan kursi pemateri lantas menunggu dimulanya acara Duet.
Sejam sudah Jamal menunggu, namun acara tak kunjung mulai. Ia pun bertanya pada seorang penjaga buku yang tengah merapikan buku-buku pameran.
“Permisi Mas, mohon maaf, kenapa acaranya belum mulai ya Mas. Ini sudah pukul 16.00 WIB” Tanya Jamal sambil melirik ke arah jam tangannya.
“Loh Mas belum tahu? Acara pembukaan diundur pukul 18.00 WIB petang nanti Mas. Karena para peserta Duet ada yang berhalangan jadi acara diundur Mas.”
“Loh,, Begitu ya Mas?” ujar Jamal mengonfirmasi.
“Iya Mas.”
“Hemmmm… Terima kasih Mas.” Jamal pun menghela nafas panjang dan duduk kembali.

                Dua jam kemudian Arsan pun datang.
“Mal, hebat sekali kau bisa mendapatkan tempat duduk di depan pemateri. Ramai sekali ya mal, sudah selesai ya acara pembukaannya? Maaf ya Mal aku baru hadir, karena ada doa bersama tadi di rumah tetangga. Jadi aku ikut dahulu.”
“Belum San, acara belum mulai. Acara pembukaannya diundur pukul 18.00 WIB San. Mungkin sebentar lagi para peserta Duet keluar San. Kau sungguh beruntung San sudah aku carikan tempat duduk di depan, tak telat pula.”
“Sungguh acara belum mulai?” tangkas Arsan penuh semangat.
“Iya belum San.” Jawab Jamal lemas.
“Alhamdulillah.”

                Arsan dan Jamal pun menikmati acara Duet Menulis secara bersama-sama. Duduk tepat di depan pemateri dan dapat mendengar serta menyaksikan mereka dengan sangat jelas. Arsan yang datang terlambat pun tak ketinggalan acara pembukaan itu. Malah, ia duduk tepat di depan Habiburrahman, penulis idolanya. Selain itu, ia juga sempat mengajukan beberapa pertanyaan dengan santai dan sangat lugas.
                Inilah keberkahan yang Allah berikan serta Allah tunjukkan kepada Arsan. Pemuda yang berusaha berbuat jujur. Tetap melaksanakan pekerjaan dan tanggungjawabnya meskipun pimpinannya sedang di luar lingkungan kerja.
                Sikap yang ia tunjukkan mencerminkan perilaku Ihsan, yakni perbuatan yang sangat Allah suka, seperti dalam penggalan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu:
“Beribadahlah kepada Allah sebagaimana engkau melihat-Nya, jika engkau tak mampu melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.”
Inilah yang dinamakan Ihsan, seperti yang telah dicontohkan oleh Arsan. Yah, Arsan yang Ihsan.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang
Bukit Cemara Tidar, Blok F3 No. 4
Karangbesuki Sukun, Malang
 



Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar