Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Success Man

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Di hamparan Kota Kediri yang begitu luas, Lima puluh tiga tahun yang lalu (53) lahirlah anak laki-laki dari pasangan berbahagia yang diberi nama PURWANTO. Nama yang indah. Purwanto lahir di Kediri pada tahun 1963. Purwanto lahir dalam keluarga sederhana yang kaya akan kasih sayang kedua orang tuanya. Walaupun ia berasal dari keluarga tidak mampu, namun kedua orang tuanya selalu berusaha agar ia tetap bersekolah. Purwanto mulai menitis dunia pendidikannya mulai dari Taman Kanak-kanak (TK) Sekolah Dasar (SD),  walaupun pada saat itu jarang ataupun bahkan sedikit sekali orang yang memulai pendidikannya dari Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, akan tetapi berkat orang tuanya yang selalu gigih dan berusaha supaya ia tetap bersekolah dan semuanya terwujud. Sampai pada akhirnya ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP ), Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan ia juga bisa sampai mengenyam dunia perkuliahan tepatnya di IKIP MALANG atau yang biasa kita kenal sekarang ini yaitu Universitas Negeri Malang. Pada saat ia mulai menggeluti dunia perkuliahan disitulah jati diri seorang Purwanto terlihat. Awalnya ketika ia ingin melanjutkan studi di IKIP Malang, ia sama sekali tak pernah tahu ataupun bahkan tak pernah sekali-kali berkunjung ke Malang. Pertama kali ia di Malang awalnya ia berpikir ia bisa tidur di masjid kemudian ia bisa kuliah setiap harinya dan kembali ke masjid ketika jam perkulihannya telah usai. Akan tetapi itu semua diluar dugaan. Kalau di peribahasakan dalam bahasan inggris, OH GOD ! ITS ALL OUT THE BOX. Ini diluar ekspektasinya. *Ternyata ketika ia sampai di Malang dan ia ingin bermalam dan tidur di masjid dan ternyata ia tidak di perbolehkan oleh pengurus masjidnya.* Terpaksa ia harus mencari tempat tinggal dan alhamdulillah ia menemukan seorang temannya yang mengajaknya untuk tinggal bersama. Purwanto memiliki sebuah cita-cita yaitu “Aku tidak ingin
menjadi orang miskin” karena baginya ia telah hidup susah dari kecil. Dan baginya jika ia menjadi orang miskin lalu bagaimana ia akan bersedekah, bagaimana ia akan memberikan sedikit hartanya kepada orang yang membutuhkan. Purwanto memiliki hati yang sangat mulia dan lembut. Ia sedih jika melihat orang lain sedih ataupun susah, dan ia bahagia jika melihat orang lain bahagia/senang. Setelah lulus dari perkuliahannya Purwanto akhirnya menikah dengan pujaan hatinya, pelengkap dari seonggok hatinya yang telah lama ia cari. Pada saat ia menikah dengan wanita idaman yang telah halal menjadi istrinya, Purwanto saat itu belum bisa membangun atau membeli rumah untuk ia tinggali berdua. Ia masih tinggal bersama istrinya dirumah mertuanya. Hari demi hari, tahun demi tahun, akhirnya uang tabungannya bersama sang istri sudah lumayan cukup untuk membeli rumah. Dan akhirnya ia pun membeli rumah yang terbilang cukup bagus. Dan disana lah ia sampai sekarang tinggal bersama istrinya dirumah itu. Purwanto memiliki 3 orang anak. Anak pertamanya kini mendapat beasiswa di Prancis (Paris). Purwanto di keluarganya menjadi imam yang sangat penyayang terhadap istri dan ketiga anaknya. Purwanto sangat dekat dengan anak-anaknya. Karena baginya anak-anaknya bukan hanya ingin ia sayangi sebagai anaknya namun ia juga ingin dekat dengan anak-anaknya layaknya sahabat. Ia tak ingin ada jarak dengan anak-anaknya sehingga ada kalanya anak-anaknya menjadi sahabatnya ketika mereka ingin berkeluh kesah kepadanya. Pada sekitaran tahun 2000an ia mengenal sosok panutan bagi masyarakat, yaitu “Halimi Zuhdi” sosok yang sangat cerdas, istiqomah, amanah dan santun. Ia sangat mengagumi sosok yang biasa orang-orang memanggilnya dengan sebutan Ustad Halimi. Pertama kali ia membaca sebuah tulisan ciptaan dari Ustad Halimi ia langsung terhanyut karena menurutnya tulisan dari beliau sangat bagus, enak dibaca dan tulisannya mengalir apa adanya sehingga pembacanya tidak mudah bosan. Dahulu Purwanto yang dikenal dari keluarga yang kurang mampu kini kehidupannya berubah 180 derajat.
               Sekarang ia menjadi orang yang sangat berkecukupan. Bahkan ia sampai membeli sebuah rumah untuk santriwati atau untuk mahasiswi yang ingin tinggal dan belajar disana. Dan seorang Purwanto yang bukan hanya dikenal sebagai orang yang cukup berperan dalam pondok yang dibangun, ia juga terjun sebagai pengurus dari pondok / rumah yang dibelinya dan yang diberi nama “Darun-Nun “. Darun Nun banyak dikenal oleh orang-orang sebagai pondok yang berbasis berbahasa dan berkarya. Dan alumni santri darun nun telah banyak bahkan ada juga yang sampai di angkat oleh pondok lain untuk menjadi murabbiyah. Hal  itulah yang membuat sosok Purwanto bahagia. Karena ia bangga bisa melihat santri yang dulunya hanya 1-6 orang kini telah bertambah menjadi 14 atau bahkan sampai hampir 20 orang. Santriwati Darun Nun mengenal sosok Purwanto sebagai sosok yang sangat berjasa, dan santriwati Darun Nun mengenal sosok Purwanto tiada lain adalah sebagai ayah sendiri walaupun tidak sepenuhnya diawasi olehnya. Kini sosok Purwanto yang dulu berasal dari keluarga yang kurang mampu kini menjadi orang yang sukses. Semoga Pak Purwanto tetap diberi kesehatan dan umur yang panjang oleh Allah Swt.
Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar