Pondok Pesantren Darun Nun Menjadi pondok terdepan dalam pengajaran agama, bahasa, literasi dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kekuatan akidah islamiyah, kemahiran berbahasa dan menulis, serta menjadi penggerak kemajuan masyarakat.

Setegak Semuarai Sutera

Pondok Pesantren Darun Nun Malang



     Mengarungi hidup yang tak selalu pasti akan menentukan kemanakah arah manusia melangkah. Keistiqomahan akan membukakan jalan, sedangkan kerakusan akan ego hanya akan memunculkan kerapuhan bagi diri. Hidup tidaklah melulu tentang "apa mauku" dan "apa inginku". Sesekali manusia haruslah berkaca pada diri, pada sekitar, dan tentunya pada apa yang dikehendaki Sang Ilahi. Menjalin sebuah memoar memang perlu dibubuhi perhelatan akbar yang oleh orang-orang disebut dengan perjuangan. Apakah hidup akan membawa pada garis yang sudah ditentukan oleh Tuhan? Hanya kapasitas kinerja yang akan menentukan, juga seberapa tinggi manusia menjalin kedekatan dengan Penciptanya.

         Terlahir di Tulung Agung, Jawa Timur pada tanggal 8 Juli 29 tahun silam. Harir adalah sebuah kata yang diambil dari falsafah Bahasa Arab yang bermakna sutera. Entah bagaimana ceritanya sang Ayah memberi nama demikian, sehingga nama tersebutlah yang dipilih sebagai nama panggilan. Panggilan yang menurut sebagian orang mencerminkan pribadi yang terpancar dari namanya. Selembut sutera. Berharap mendapatkan keberkahan, maka disematkanlah kata "Mubarak" di akhir namanya. Menjadi sebuah kesempurnaan ketika dua makna tersebut tergabung menjadi satu,. Hingga sampai saat ini dikenallah ia dengan nama Harir Mubarak.


       Berawal dari ketidakpasifan yang secara tidak langsung ia jalani menimbulkan lahirnya pengalaman hidup yang tidak mungkin ia lupakan. Seperti itulah proses terciptanya sekian pengalaman hidup baginya. Terangkai satu persatu, dimulai dari yang paling sederhana sampai pada taraf yang mampu membawanya berpijak di masa saat ini. Terkadang yang pahit muncul di permulaan, kadang juga ia menggawang dibelakang. Namun semua itu hanyalah menjadi teman tatkala berbagai kepahitan itu mampu dilumpuhkan, hingga buah manisnyapun mampu dipetik di hari kemudian.

        Menghabiskan masa hidupnya di beberapa kota di Indonesia membuatnya menorehkan berbagai hal baru yang belum tentu dipunyai oleh orang lain. Enam bulan awal kehidupan dilaluinya di Tulung Agung yaitu sejak ia lahir pada tahun 1987. Hingga kemudian berlanjut menuju Samarinda yang merupakan kota kedua manakala ia memasuki masa pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Dasar (SD). Bangku sekolah kian lama ia nikmati, hingga sampailah pada masa pertengahan, dimana usia remaja mulai dilalui. Disini, ia mulai mengenal pembelajaran pada pendidikan islam sekaligus hidup dalam lingkup pesantren. Ya, Nurul Jadidlah yang berhasil menjadi pilihannya ketika itu. Probolinggo menjadi saksi dimana ia harus benar-benar menjalani keseriusan sebagai seorang perantau yang tergolong muda. Sebenarnyapun, bukan kemauan pribadi yang awalnya membawanya pada pilihan tersebut. Dari garis keturunan yang ada, belajar di pesantren seakan sudah mendarah daging bagi keluarganya. hingga manakala ia tidak dilibatkan dalam dunia yang satu ini, maka terasa aneh dan terkesan memiliki langkah yang berbeda dibandingkan dengan sanak keluarga yang lain.

       Menimba ilmu, belajar bermasyarakat, juga menelaah berbagai lingkup ilmu keislaman di dunia pesantren. Sebagai seorang muslim, tentunya hal ini merupakan suatu hal yang patut untuk ditekuni sebagai bekal dalam rangka menjadi manusia mulia seutuhnya. Tiga tahun menjalani hidup di Paiton, tiga tahun itulah yang menjadi masa-masa yang tidak mudah manakala harus berpisah dengan keluarga. Menangis, dengan bingkai itulah ia menerangi lembar pertamanya di pesantren. Lantas, mengapa tangisan pada akhirnya menoreh menjadi kenangan ketika itu? Memang begitu terasa. Saat hati terasa berat ketika akan meninggalkan hingar bingar tempat tinggal asal, tidaklah mudah manakala tidak hidup dalam sebuah rumah yang didalamnya terisi lengkap sanak saudara beserta orang tua, juga ketidakmudahan-ketidak mudahan yang lain. Semua itu terbungkus dalam persepsi awal di benaknya.
        Seiring berjalannya waktu, semua ketakutan itu pada akhirnya mampu dipatahkan dengan sendirinya. Tak lama dari beberapa minggu awal, interaksi sosial dapat ia lalui dengan baik. Bukan hanya faktor naluri laki-laki, namun dirasa banyak dari santri lain yang juga memiliki nasib yang sama, satu rasa dan satu ikatan dalam rangka membina persaudaraan satu sama lain. Kecintaan dan rasa bangganya terhadap almamater yang ia bawa pada saat itu membuatnya setidaknya berfikir. Terkadang, apa yang dapat dilakukan oleh seorang santri manakala mereka telah menyelesaikan studinya? Hanya sekedar say good bye kah? ia rasa tidak. Ia rasa tak seacuh itu sekalipun Nurul Jadid tidak menjadi bagian dari tempat studi selanjutnya. Ada sesuatu yang harus diupayakan agar yang baik tetap baik, ada pula yang harus dikembangkan lebih jauh dari apa yang ada di Nurul Jadid. Ya, baginya dan kawan-kawan, kontribusi kepada almamater adalah suatu keharusan hingga mengokohkan semangat bersama dalam merealisasikannya. Ikut berpartisipasi dalam pembangunan pondasi pada lantai II pun ia lakukan. Semua dilakukan secara gotong royong dan penuh suka cita.Hal tersebut dilakukan semata-mata sebagai wujud bakti dan ungkapan terima kasih kepada almamater yang telah membesarkannya selama tiga tahun. Bukan hanya membesarkan secara lahiriah, namun juga secara kematangan diri, kematangan dalam berfikir dan berpengetahuan.

   

Share on Google Plus

About PP DARUN NUN

0 komentar:

Posting Komentar